Produksi Kopi Akan Ditingkatkan Hingga 1,3 Juta Ton Per Tahun

NERACA

Jakarta - Untuk menguasai pasar kopi dunia, industri kopi nasional berencana meningkatkan kapasitas produksi kopi tanah air hingga 1,3 juta ton per tahun dalam waktu 5 tahun ke depan. “Saat ini produksi kopi di Indonesia berada di peringkat ketiga dunia. Rata-rata produksi kopi di Indonesia hanya mencapai 700 kilogram per hektar per tahun,” kata wakil ketua umum bidang industri dan spesialty, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto di Jakarta, Senin (24/9).

Padahal produksi kopi di Vietnam, menurut Pranoto, luas lahan dan waktu yang sama bisa menghasilkan 3 ton, sehingga total secara nasional mampu menghasilkan 1,2 juta ton, Brazil mampu mencapai lima ton per tahun, dengan total produksi mampu mencapai 3,5 juta ton per tahun.

“Hal ini disebabkan lahan kopi Indonesia tidak menggunakan pupuk kimia serta kekurangtahuan petani akan cara memetik yang benar. Hanya saja, hal itu juga menjadi kelebihan Indonesia dimana hanya menggunakan pupuk kandang untuk benih kopi dan ini berbeda dengan Vietnam yang saat ini menggunakan pupuk kimia dan pestisida,” paparnya.

Kelebihan lainnya, lanjut Pranoto, Indonesia memiliki kopi spesialti yang harganya mampu mencapai rata-rata US$7 hingga US$8 per pound. Saat ini total produksi kopi spesialti Indonesia mencapai 103.500 ton per tahun. “Konsumsi kopi spesialti hanya 1% di Indonesia, jadi 99% di ekspor. Namun, produksi kopi spesialti masih amat rendah yaitu hanya mencapai 400 kilogram per hektar per tahun,” ujarnya.

Pranoto menambahkan, kopi spesialti membutuhkan lahan yang lebih tinggi dan hama di daerah tersebut lebih berbahaya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan jumlah produksi, pihaknya akan mencoba meminta ahli kopi Brazil untuk meningkatkan produktivitas kopi Indonesia dan AEKI juga mencoba meneliti genetik kopi Indonesia agar bisa ditanam di daerah dan tanah yang tepat.

“Dalam 5 tahun produktivitas Indonesia bisa mencapai 1,3 juta ton per tahun. Bukan tidak mungkin 10 tahun mendatang Indonesia bisa menjadi penghasil nomor 1 dunia,” tandasnya.

Pranoto juga menambahkan bahwa dalam lima tahun ke depan kopi Indonesia ditargetkan mengalahkan produksi Vietnam. "Dalam lima tahun ke depan kami menargetkan produksi kopi Indonesia dapat mengalahkan Vietnam yang saat ini menduduki posisi nomor dua dalam produksi kopi, Vietnam dapat menghasilkan 1,3 juta ton kopi dari 500 ribu hektare lahan tapi Indonesia hanya 700 ribu ton kopi dari 1,3 juta hektare lahan," kata Pranoto.

Pranoto juga mengungkapkan kemungkinan perluasan pasar ke China yang pada 2011, Indonesia hanya mengekspor 3,4 juta ton kopi dengan nilai 8,4 juta dolar AS ke China. "Kalau China yang tadinya peminum teh menjadi peminum kopi, artinya butuh 1,5 juta ton kopi per tahun hanya untuk memenuhi permintaan China saja, Indonesia harus siap untuk kondisi tersebut," tambah Pranoto yang juga Direktur Operasional PT Excelso Multi Rasa tersebut.

Ekspor Meningkat

Data AEKI menunjukkan pada 2011 terjadi peningkatan nilai ekspor kopi Indonesia sebesar 26 % dari US$ 846 juta pada 2010 menjadi US$ 1,06 miliar pada 2011, namun volume ekspor turun 21 % dari 447,5 juta ton pada 2010 menjadi hanya 352 juta ton pada 2011.

Negara tujuan ekspor terbesar dari sisi nilai adalah Amerika Serikat yaitu menyumbang 24 % dari total nilai ekspor yaitu US$ 252 juta dengan volume ekspor 45 juta ton, namun dari sisi volume ekspor negara terbesar adalah Jepang yaitu sebanyak 55,5 juta ton atau 16 % dari volume ekspor dengan nilai US$ 168 juta.

Sebelumnya,Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Suyanto Husein mengungkapkan pengusaha kopi di Indonesia sepakat untuk menggenjot produksi. Upaya peningkatan produksi ini mengarah kepada intensifikasi produksi dari pada perluasan lahan tanam kopi. Keputusan ini diambil karena saat ini produktivitas masih rendah padahal potensinya besar.

Untuk mengatasi problem ini, pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) ingin meningkatkan produktivitas kopi di Indonesia, khususnya kopi dengan nilai jual yang lebih besar yaitu kopi arabika.

"Saat ini produksi kopi arabika Indonesia baru sekitar 600 kilogram perhektare sedangkan robusta sebanyak 700 kilogram perhektare padahal Vietnam dapat menghasilkan 3-4 ton kopi perhektare, jadi kita harus memperbaiki produktivitas," kata Suyanto.

Produksi kopi Indonesia menurut AEKI pada 2011 mencapai 709 ribu ton di lahan seluas 1,3 juta hektare yang terdiri atas produksi kopi arabika sebanyak 155 ribu ton di areal seluas 296 ribu hektare sedangkan kopi robusta sebanyak 553 ribu ton di lahan seluas 1,01 juta hektare.

"Padahal kopi arabika Indonesia sangat terkenal sebagai 'specialty coffee' seperti kopi gayo, lintong, kintamani atau toraja, saat ini produksi robusta masih mendominasi yaitu sekitar 80 % sedangkan arabika 20 %, kami ingin arabika menjadi 30 % karena harga jual lebih bagus," ungkap Suyanto.

Related posts