Perpustakaan, Tempat Rekreasi Konstruktif-Edukatif

Sabtu, 29/09/2012

NERACA

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang signifikan terhadap lembaga induk serta masyarakat penggunanya, khususnya siswa.

Upaya menciptakan SDM yang berkualitas bisa melalui pendidikan formal, nonformal atau wahana pendidikan sepanjang hayat seperti perpustakaan. Rumusnya jelas, di balik kemajuan bangsa pasti ada masyarakat cerdas di dalamnya.

Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih mengatakan, sumber daya manusia yang berkualitas haruslah menguasai ilmu, berwawasan luas, memiliki daya saing dan mempunyai jati diri yang kuat.

Perpustakaan menempati posisi yang lebih krusial, karena perpustakaan merupakan tempat rekreasi yang konstruktif-edukatif selain kelas. Oleh karena itu, ruang perpustakaan adalah sarana prasarana yang sangat penting karena di sanalah para siswa dan siswi menimba ilmu dan mencari sumber ilmu yang belum diketahui sebelumnya.

Dengan memaksimalkan peranannya, diharapkan perpustakaan sekolah bisa mencetak siswa untuk senantiasa terbiasa dengan aktifitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu. Sehingga pada akhirnya prestasi pun relatif mudah untuk diraih.

“Jadikanlah perpustakaan sebagai tempat belajar, karena di perpustakaanlah tempatnya buku-buku yang menyimpan berbagai catatan sebagai sumber ilmu,” tegas Sri Sularsih .

Dalam membantu siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu, perpustakaan tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan sekolah, terutama melalui kebijakan pimpinan (kepala sekolah), akan memperlancar tugas/kebijakan yang akan dijalankan oleh pengelola perpustakaan sekolah.

Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggung jawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan. Siswa yang dekat dengan pustakawannya, akan mahir dalam mencari dan menggunakan informasi dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam proses penyerapan dan penalaran pelajaran mereka. Siswa yang mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru, merekalah yang mudah pula untuk mengukir prestasi.

Dalam konteks tradisional, perpustakaan diartikan sebagai kumpulan buku. Sedangkan pada masa kekinian, perpustakaan mengacu lebih dari sekadar kumpulan buku, tetapi “kumpulan informasi, sumber, dan layanan yang dikelola oleh lembaga masyarakat, institusi, atau perorangan” (Anaba Alemma, 2003).

Di era global ini perpustakaan pun sudah mengalami perubahan konsep, dari konsep perpustakaan konvensional menjadi perpustakaan berbasis teknologi informasi, sehingga akses untuk memperoleh informasi dapat dilakukan secara virtual tanpa harus datang ke perpustakaan.

Selain menyediakan buku, perpustakaan juga menyediakan hal lain. Pada perpustakaan modern, perpustakaan difungsikan pula sebagai tempat penyimpanan dan poin akses untuk peta, lukisan, dokumen atau hasil seni seperti mikrofilm, audio tapes, CD, LP, kaset, viodetape, dan DVD. Bahkan, dia dapat pula memberikan layanan bagi publik untuk dapat mengakses ke CD-ROMs, masuk ke database, dan akses internet.