Pengusaha Tekstil Tolak Kenaikan TDL

Daya Saing Produk Bakal Melemah

Senin, 24/09/2012

NERACA

Jakarta – Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menolak tarif dasar listrik (TDL) pada 1 Januari 2013 karena dikhawatirkan akan terus mengurangi daya saing produk tersebut. Pasalnya komposisi listrik merupakan salah satu hal yang penting dalam proses produksi industri tekstil. Bagi industri tekstil, biaya listrik memiliki kontribusi yang sangat besar dalam struktur biaya produksi.

Ketua API Ade Sudrajat memaparkan pada industri pembuatan serat, biaya energi listrik memegang peranan 25% dari keseluruhan biaya produksi. Biaya listrik di industri pemintalan mencapai 18,5% dari keseluruhan biaya produksi, sedangkan bagi pertenunan sebesar 14,4%,” papar Ade di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ade menyebut penggunaan listrik industri garmen memiliki porsi 1,3% dari struktur biaya produksi. Karena listrik banyak digunakan di sektor hulu, maka kenaikan tarif listrik akan mengakibatkan multiplier effect terhadap kenaikan harga jual produk jadi di industri hilir.

DPR Setuju

Dewan Perwakilan Rakyat melalui Komisi Energi telah menyetujui rencana pemerintah untuk menaikkan tarif dasar listrik. Dengan persetujuan DPR itu, pemerintah bisa menaikkan tarif dasar listrik per 1 Januari 2013 mendatang. Meskipun begitu, pemerintah juga menyatakan kenaikan tarif dasar listrik tersebut tidak akan berimbas kepada pelanggan listrik 450 VA dan 900 VA.

API menyatakan kenaikan tarif listrik tersebut tidak adil. "Kalau untuk kami, industri bisnis, tarif listrik dinaikkan, maka untuk pelanggan yang lain seharusnya juga, tentunya dengan mempertimbangkan besaran kenaikan," kata Ade.

Menurut Ade, beban industri tekstil dan produk tekstil (TPT) akan semakin meningkat karena setiap tahun upah minimum provinsi (UMP) selalu naik 6%-11% per tahun. “Jika TDL naik, maka beban industri akan semakin berat,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ade juga memaparkan kalau nilai ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) diproyeksikan mencapai US$12,58 miliar atau anjlok 5% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu sebesar US$13,25 miliar. Ade, menuturkan sejak awal tahun ini pihaknya menargetkan nilai ekspor TPT optimistis tumbuh 5% dibandingkan dengan 2011.

Akan tetapi, pihaknya merevisi target itu karena didorong kondisi pasar ekspor yang belum pulih sehingga menggerus pemasaran produk. “Kondisi ekonomi global memang sangat menggerus pemasaran produk ekspor tahun ini,” ujar Ade.

Lebih jauh lagi Ade memaparkan, penurunan permintaan global itu yang dibarengi dengan semakin ketatnya persaingan di pasar internasional mengakibatkan kinerja ekspor TPT Indonesia terus melemah.

Berdasarkan data API emester I 2012, kondisi tersebut telah menunjukkan penurunan,realisasi nilai ekspor anjlok 6,1% dari US$6,76 miliar menjadi US$6,38 miliar. Penurunan terbesar terjadi di pasar Eropa sebesar 9,6%, sedangkan di pasar Amerika turun tipis 0,8%.

Meskipun terjadi sedikit penaikan di pasar Jepang, kondisi tersebut tidak lebih besar dibandingkan dengan penurunan yang dialami di pasar tradisional lainnya. Akan tetapi, beberapa negara pesaing justru masih mampu menikmati penaikan ekspor karena keunggulan komparatif yang mereka miliki, walaupun telah terjadi penurunan permintaan global. “Di pasar Eropa, total impor negara Eropa dari luar negara Eropa turun 7,21%. Beberapa negara seperti Bangladesh, Vietnam, dan Kamboja malah mampu menikmati penaikan ekspor,” ujarnya.

Penaikan ekspor TPT Kamboja ke Uni Eropa terhitung fantastis mencapai 41,9% tahun ini. Adapun ekspor Vietnam ke kawasan tersebut telah mengalahkan posisi Indonesia. Demikian pula halnya di pasar Amerika Serikat, impornya hanya naik 0,8% pada Januari—Juli 2012, tetapi beberapa negara pesaing seperti China, Vietnam, dan Kamboja mampu menggenjot ekspornya lebih dari 1%.