Analis : Imbas QE3, Perdagangan Saham Diproyeksikan Overbought

Senin, 24/09/2012

NERACA

Jakarta - Aktivitas perdagangan saham diproyeksikan dalam keadaan jenuh beli (overbought) pada pekan ini. Hal tersebut ditengarai akibat imbas dari stimulus The Fed dan Bank Sentral Eropa mengenai QE3 (Quantitative Easing Jilid III), “Saat ini pasar dalam keadaan overbought akibat imbas QE3. Ini membuat investor akan banyak melakukan profit taking,”kata pengamat pasar modal PT Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta kemarin.

Dia mengatakan, kondisi overbought yang diakibatkan imbas dari QE3 sebelumnya membuat pergerakan indeks naik dengan sangat cepat dan menyentuh level tertinggi. Untuk aktivitas perdagangan pada pekan ini, menurut Reza, pergerakan Indeks yang berpotensi melemah, membuat investor sulit menentukan saham pilihan untuk berinvestasi.

Beberapa waktu lalu, The Fed memberlakukan program pembelian aset tahap ketiga dan memperpanjang durasi suku bunga mendekati nol persen hingga pertengahan 2015. Keputusan tersebut dengan pertimbangan tingkat pengangguran yang masih di atas level 8%. Keputusan tersebut direspons positif pasar saham global termasuk Indonesia.

The Fed menurunkan kisaran target angka pengangguran pada 2014 menjadi 6,7% hingga 7,3% dibanding target sebelumnya 7% hingga 7,7%. Pada 2015, tingkat pengangguran ditargetkan turun lagi menjadi 6% hingga 6,8%. Selain itu, Fed juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2013 menjadi 3% kemudian pada 2014 menjadi 3,8% dibanding estimasi sebelumnya 2,8% untuk 2013 dan 3,5% untuk 2014.

Hal itu membuat MACD kembali terbatas kenaikannya dengan histogram positif yang mendatar. RSI, William's %R, dan Stochastic gagal melanjutkan kenaikannya mendekati area overbought. Dari candle yang terbentuk, diperkirakan terjadi pelemahan. “Pelemahan yang terjadi kemungkinan tidak terlalu dalam, masih dimungkinkan bisa mengalami rebound dengan asumsi didukung oleh sentimen yang ada.” paparnya.

Indeks Akhir Tahun

Sementara pengamat pasar modal PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono mengatakan, meskipun aktifitas perdaganagn indeks akhir pekan kemarin ditutup menguat di level 4.244, namun melihat beberapa sektor seperti manufaktur, ekspor, dan kondisi Yunani yang masih lemah, kemungkinan masih akan mengganjal pergerakan indeks harga saham untuk dua minggu kedepan. Keadaan ini sempat membuat investor sedikit kesulitan untuk menentukan pilihan sahamnya. “Saham-saham blue chip pada transaksi perdagangan kemarin mengalami tekanan jual, tapi masih ada peluang untuk saham-saham second liners. Kami merekomendasikan untuk saham-saham properti dan konsumer.” paparnya.

Sampai dengan akhir tahun, dia optimis pergerakan indeks bisa mencapai di kisaran 4.400-4.550. Optimistis tersebut menyusul sinyal positif Dow Jones Industrial Average serta aksi beli investor asing yang masih tinggi terhadap saham Indonesia.

Hal senada juga disampaikan Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia, Satrio Utomo memproyeksikan hingga akhir tahun target indeks masih cukup tinggi, yaitu di level 4.400 hingga di level 4.800.

Menurutnya, saat ini penggerak indeks masih berasal dari sentimen luar, yaitu Quantitative Easing jilid III. Hingga akhir tahun ini, lanjut dia masih memiliki kesempatan untuk naik ke level tertinggi. “Kami punya target tinggi untuk indeks sampai akhir tahun hingga berada di level 4.800. Jika indeks tidak turun melebihi level support, 4.129, kami yakin masih bisa mencapai level 4.400,” ungkapnya

Kata Satrio, investor yang akan melakukan aksi profit taking harus memperhatikan potensi kenaikan jangka pendeknya dan tidak berpatok pada harga yang sedang berada di resisten. Saran dia, selama aliran dana asing masih belum berbalik, sebaiknya investor terus melakukan hold posisi. (lia)