Pemerintah Bakal Pindahkan Dana FLPP Dari Bank Yang Tidak Produktif

Pencapaian Kucuran FLPP Rendah

Senin, 24/09/2012

Pencapaian Kucuran FLPP Rendah

Pemerintah Bakal Pindahkan Dana FLPP Dari Bank Yang Tidak Produktif

Jakarta – Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan mengevaluasi penempatan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) di perbankan yang tidak produktif dalam menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah Bersubsidi.

Menurut Deputy Menteri Perumahan Rakyat Sri Hartoyo, pihaknya menyesalkan adanya perbankan yang tidak produktif dan serius dalam menyalurkan KPR bersubsidi.

“Perbankan yang tidak produktif menyalurkan KPR FLPP membuat dana tersebut idle di perbankan. Padahal rakyat sangat membutuhkan rumah,” kata Sri Hartoyo kepada wartawan disela-sela pameran perumahan “BTN Property Expo 2012” di Jakarta, akhir pekan lalu.

Sampai Agustus 2012, penyaluran KPR FLPP baru sebesar 21.857 dari target 143.200 unit rumah. Dari angka tersebut, sebanyak 21.833 disalurkan oleh bank BTN. Sementara sekitar 24 unit sisanya disalurkan oleh Bank Mandiri, Bank BNI, BRI dan perbankan daerah.

Sebelumnya, hasil survei properti residensial Bank Indonesia menunjukkan, bahwa pemanfaatan KPR FLPP untuk golongan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) masih berjalan lambat.

Pencairan FLPP hingga triwulan II-2012 baru sebesar 5,62% dari total dana yang ditargetkan sepanjang 2012 sebesar Rp7,10 triliun. "Dengan demikian, masih terdapat 94,38% dana yang belum dimanfaatkan oleh MBR," ungkap laporan tersebut.

Sri Hartoyo menegaskan, agar dana FLPP tidak idle cash, maka Pemerintah akan memindahkan dana FLPP dari perbankan yang tidak produktif ke perbankan yang produktif dalam mengucurkan FLPP.

Sementara itu, Ketua Umum Real Estat Indonesia Setyo Maharso berharap, kucuran KPR FLPP bisa kembali normal. Lantaran, pasokan dana KPR FLPP sempat bermasalah sejak akhir tahun 2011.

“Program ini (KPR FLPP) memang ada kendala. Tiga bulan ini kerja keras untuk mencari pembeli dulu, ini yang susah. Ada kendala FLPP. Kita harus realistis, ini baru akan normal pada 2013,” tambahnya.

BTN Naikan Target

Di tempar yang sama, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk, Iqbal Latanro menyatakan, sampai akhir kuartal keempat 2012, BTN menargetkan pembangunan perumahan dengan pola KPR FLPP mencapai 50.000 unit. Jumlah itu meningkat dari target sebelumnya 16.000 unit rumah. Langkah tersebut sekaligus meneguhkan komitmen BTN untuk fokus dalam pembiayaan perumahan rakyat.

“BTN segmennya jelas, yaitu level menengah ke bawah dan pembiayaan tertentu di level menengah atas. Fokus pembiayaan perumahan sebagai inti bisnis, 85% perumahan dan industri perumahan, 15% lainnya di luar bisnis tersebut,” jelas Iqbal.

Menurut Iqbal, dalam pameran kali ini, BTN menargetkan transaksi senilai Rp500 miliar pada akhir pameran, dan mampu melampaui target pameran yang sama tahun lalu. Total nilai transaksi yang diharapkan mencapai Rp1,9 trilun.

Irman Alvian, direktur kredit BTN menambahkan, fokus pasar BTN adalah kelas menengah bawah. "Jika bicara piramida perumahan, kami di segmen C dan D. Kebutuhan rumah mewah dan setengah mewah masih cukup," kata Irman.

Dia menambahkan, rata-rata pinjaman BTN semakin naik, dari rata-rata Rp56 juta menjadi Rp63 juta, dan diharapkan tren kenaikan hingga rata-rata Rp70 juta per pinjaman.

Untuk sektor komersial yaitu non FLPP, rata-rata pinjaman mencapai Rp250 juta per pinjaman dan terus bergerak naik. "Inilah fokus BTN hari ini," ujar Irman. Meski fokus di rumah menengah bawah, Irman menegaskan, BTN tetap mengucurkan kredit untuk rumah Rp500 juta sampai Rp750 juta.

Pameran properti BTN 2012 ini juga memberikan kebijakan khusus transaksi yaitu pemberian harga menarik dibandingkan transaksi normal. Kali ini, BTN memberikan suku bunga KPR/KPA sebesar 7,49% selama dua tahun untuk pinjaman di atas Rp250 juta dan suku bunga 7,94% untuk pinjaman sampai Rp250 juta.

Selain itu, BTN memberikan uang muka ringan minimal 10% dengan syarat kredit Rp150 juta, diskon biaya asuransi kebakaran 50%, diskon biaya asuransi jiwa 35%, diskon biaya provisi 50%, bebas biaya administrasi, dan jangka waktu kredit hingga 25 tahun. **cahyo