Investor Surabaya 90% Sudah Online Trading - Transaksi Saham

NERACA

Surabaya – Maraknya perdagangan saham melalui online trading, rupanya juga dialami investor asal Surabaya. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebutkan, perdagangan saham oleh perusahaan sekuritas di Kota Surabaya hampir 90% menggunakan fasilitas internet atau "online trading".

Kepala BEI Perwakilan Surabaya, Nur Harjantie mengatakan, perusahaan sekuritas di Surabaya ada sekitar 44 perusahaan dan kebanyakan di antaranya telah memiliki layanan "online trading, “Sisanya masih dalam proses dan perusahaan sekuritas juga melangkah ke sana," katanya di Surabaya akhir pekan kemarin.

Menurutnya, pelayanan "online trading" ke depan sudah menjadi kebutuhan menyusul perkembangan teknologi secara "online" akan memudahkan dalam bertransaksi saham. Selain itu, biaya untuk bertransaksi secara "online" lebih murah karena pelaku saham tidak terus menerus menghubungi brokernya melalui telepon mengenai berapa indeks saham dari perusahaan tertentu, melainkan cukup cara "online". "Justru jika ada perusahaan yang tidak memiliki fasilitas itu dianggap gagap teknologi. Tapi transaksi secara reguler masih diperbolehkan melalui broker,"ujarnya.

Kata Nur Harjantie, bagi perusahaan yang hendak menerapkan "online trading" harus mempersiapkan sistemnya terlebih dahulu. "Sistem itu nantinya akan diuji-cobakan dengan sistem di bursa efek. Sistemnya harus cocok dengan di bursa, “ungkapnya.

Jumlahnya Masih Kecil

Sebelumnya, Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah bilang, sudah lebih dari 50% atau sudah ada 70 sekuritas yang membuat trading dengan sistem online dari 114 sekuritas yang ada. Pasalnya, remote trading sudah merupakan kewajiban, “Artinya berdagang dari kantornya masing-masing itu mereka sudah. Namun online trading ini agak berbeda, ini fasilitas tambahan yang diberikan anggota bursa kepada para nasabahnya untuk melakukan transaksi perdagangan melalui internet,”katanya.

Sementara Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen mengharapkan, kedepannya makin banyak perusahaan efek memiliki jaringan perdagangan saham berbasis internet atau “online trading. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah investor di pasar modal.

Menurutnya, dengan semakin bertambahnya perusahaan efek yang menggunakan sistem “online” pada perdagangan saham akan meningkatkan partisipasi masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal.

Dia menambahkan, dengan menggunakan fasilitas “online trading” maka akan memberi kemudahan investor saham dalam melakukan transaksi jual-beli efek. Disamping itu, pihak bursa juga telah menyediakan sistem yang cukup untuk mendukung maraknya minat “online trading” di dalam negeri, “Investor domestik diharapkan dapat berpartisipasi lebih besar di pasar modal Indonesia. Hal ini agar indeks saham dapat stabil bila ada gejolak karena sentimen eksternal,”tuturnya.

Bahkan belum lama ini, pihak BEI akan melakukan pembinaan terhadap anggota bursa yang belum memiliki sistem pengawasan transaksi perdagangan saham bagi nasabah berbasis internet (online trading). Pasalnya, saat ini baru 40 perusahaan efek yang sudah memiliki sistem pengawasan transaksi “online trading”.

Berdasarkan hasil audit, BEI telah memeriksa 69 anggota bursa hingga semester pertama 2012 dan secara umum ada peningkatan kepatuhan anggota bursa dari hasil itu, khususnya dalam jumlah broker yang membangun sistem pengawasan transaksi nasabah. (ant/bani)

Related posts