Industri Mamin Perlu Tingkatkan Kualitas Produk - Liberalisasi Perdagangan

NERACA

Jakarta - Pertumbuhan negara-negara ASEAN yang pesat menjadi salah satu pasar industri makanan dan minuman dengan angka pertumbuhan yang tinggi. Sehingga menuntut produsen untuk menciptakan berbagai produk berkualitas tinggi, karena pasar konsumen yang terus meningkat, wilayah ini sekarang dibidik oleh para pemain kunci industri makanan dan minuman.

Sebagai negara dengan angka populasi tertinggi di ASEAN, Indonesia menguasai 51% dari total konsumsi bahan makanan di wilayah ini dan angka pertumbuhan konsumsi makanan olahan telah mencapai 41% selama 5 tahun terakhir. Ditambah lagi, kesepakatan ASEAN – Australia – New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) menempatkan Indonesia sebagai pasar yang paling diminati untuk perdagangan bebas bea cukai atas 90% barang dan jasa yang diproduksi oleh negara-negara ini pada tahun 2015 mendatang.

Tingginya angka pertumbuhan tersebut menarik minat para produsen makanan olahan di seluruh dunia untuk menjadikan Indonesia sebagai target parsar terbesar. Akibatnya, makanan olahan impor membanjiri negara ini dan menjadi alternatif baru bagi para konsumen. Kepala Sub Direktorat Program, Evaluasi dan Pelaporan Direktorat Industri Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian Agus Sutopo mengatakan krisis ekonomi global yang menimpa negara-negara Uni Eropa dan AS menjadikan Indonesia sebagai pasar peralihan alternatif bagi produk-produk negara lain yang kehilangan pasar di kedua wilayah kunci tersebut.

Hal ini terlihat dari meningkatnya angka pertumbuhan industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 8,19% pada triwulan I tahun 2012 dibandingkan triwulan I tahun 2011 sebesar 4,23%. Menurut Agus, dengan keunggulan komparatif yang dimiliki Indonesia khususnya sebagai penghasil bahan baku produk pertanian, seperti kelapa sawit, kakao, kopi dan cengkeh, serta didukung UU Pangan sebagai landasan hukum bagi pengaturan, pembinaan dan pengawasan pangan, diharapkan Indonesia dapat menjadi negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri serta mampu bersaing di era perdagangan global.

Pasar Kompetitif

Saat ini, tingginya tuntutan dari populasi usia muda Indonesia terhadap kualitas produk makanan dan minuman, telah memicu perubahan dan membuka peluang bisnis di sektor makanan kemasan, makanan segar, makanan sehat dan makanan khas daerah. Sehingga, hal ini menjadi tantangan baru bagi industri lokal, yang terus dipacu untuk meningkatkan daya saingnya, untuk bertahan, berkembang, dan tumbuh dalam pasar yang kompetitif.

Ketua Komite Program dan Kerjasama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Yusuf Hady mengatakan, salah satu cara untuk meningkatkan daya saing produk adalah dengan menemukan bahan makanan yang berkualitas, berkelanjutan, serta efektif dalam menghasilkan produk-produk yang berkualitas, lezat, dan terjangkau. “Solusi sederhana ini tentunya memerlukan proses,” ujarnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, akhir pekan kemarin.

Bagi kalangan profesional industri makanan, salah satu cara untuk menemukan supplier yang tepat adalah melalui pameran-pameran niaga, seperti Food Ingredients Asia 2012 (FiA) yang akan diselenggarakan pada awal bulan Oktober di Jakarta. Lebih dari sekedar pameran niaga, FiA memberikan nilai tambah bagi para pelaku industri makanan dan minuman maupun pengunjungnya, diharapkan menjadi acuan para pebisnis untuk menghasilkan produk yang lebih baik dan berdaya saing sehingga posisinya bisa setara bahkan melampaui produk-produk lainnya di pasar global.

“Indonesia kelak tidak hanya menyerap komoditi asing, namun juga mampu memproduksi makanan olahan secara inovatif dengan biaya yang efisien. Indonesia mempersiapkan diri untuk menjadi sebuah pasar terbuka,” tambah Yusuf. FiA terkenal sebagai sebuah referensi dan platform jaringan bisnis terpercaya diantara pelaku industri makanan dan supplier kelas internasional. Sebuah wadah yang menawarkan peluang unik untuk mengakses pasar potensial yang mengarah pada pertumbuhan industri yang luar biasa. FiA merupakan akses langsung menuju pasar ASEAN.

Ketua Komite Konferensi Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center, Institut Pertanian Bogor Eko Hari Purnomo menjelaskan, meningkatnya konsumsi makanan di Indonesia serta tingginya permintaan pasar menjanjikan potensi besar untuk berkembang dan memasok kebutuhan dunia, tidak hanya bagi produsen bahan baku Indonesia. namun juga bagi para suplier internasional untuk memperluas bisnisnya.

Sebuah pasar utama dengan prilaku konsumen yang terus berkembang serta memiliki angka pertumbuhan yang luar biasa. “FiA diharapkan dapat memfasilitasi para pemain industri makanan seperti produser, distributor, pembeli, peneliti, dan ilmuwan, dimana mereka bisa saling bertukar informasi dan ide-ide baru maupun berbagai perkembangan dan inovasi-inovasi terbaru, sekaligus membangun jaringan bisnis yang lebih luas,” kata Eko.

Related posts