Kemendag Garap Potensi Diversifikasi Pasar Ekspor

Trade Expo Indonesia 2012

Senin, 24/09/2012

NERACA

Jakarta - Dampak krisis global yang melanda Amerika Serikat dan Eropa memberikan efek domino terhadap menurunnya kinerja ekspor Indonesia. Sejak April lalu, surplus neraca perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Amerika Serikat dan kawasan Eropa mengalami penurunan. Namun, kondisi ini justru memberikan peluang bagi Indonesia untuk melakukan penetrasi ke pasar tujuan ekspor baru dengan potensi yang cukup besar seperti negara-negara di kawasan Afrika, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Selatan dan Amerika Selatan.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Gusmardi Bustami mengatakan terkait dengan hal tersebut, maka penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) bertujuan untuk melakukan diversifikasi pasar tujuan ekspor di luar kawasan Amerika Serikat dan Eropa yang sedang mengalami keterpurukan ekonomi. Salah satu akibat keterpurukan ekonomi di negara-negara tersebut adalah penurunan daya beli konsumen yang secara langsung juga mempengaruhi jumlah dan volume impor mereka dari Indonesia.

Menurut dia, ada sejumlah produk buatan Indonesia yang menarik perhatian konsumen di negara-negara Afrika dan juga Timur Tengah serta Asia Tengah dan Asia Selatan. ”Produk batik dan garmen Indonesia ternyata digemari di Afrika, terutama di Afrika Selatan. Mebel Indonesia yang menggunakan kayu-kayu yang khas juga mendapat pasar di Timur Tengah, Asia Tengah, dan Asia Selatan,” ujar Gusmardi melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Sabtu (22/9).

Produk Unggulan

Kementerian Perdagangan sebagai penyelenggara pameran dagang internasional yang terbesar di Indonesia berupaya untuk memfasilitasi 2.000 produsen produk dan penyedia jasa terbaik di Indonesia agar dapat mengikuti pameran dagang TEI 2012. “Agar produk yang dipamerkan dapat menarik minat buyers, produsen di dalam negeri diharapkan membuat produk yang berkualitas dan mampu bersaing dengan produk dari negara lain. Pameran dagang berskala internasional ini akan menjadi sarana efektif untuk meningkatkan ekspor produk unggulan-produk unggulan Indonesia," jelas Gusmardi.

Salah satu produk yang menjadi unggulan dalam pameran dagang TEI 2012 adalah furnitur, yang juga merupakan produk primadona pada transaksi TEI tahun lalu. Di samping itu, untuk produk kerajinan tangan yang bernilai seni tinggi, serta makanan dan minuman, akan dipamerkan secara unik guna memudahkan pembeli melihat, merasakan, serta membawa pulang contoh produknya. “Naiknya nilai transaksi TEI dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa kualitas produk dan jasa Indonesia sudah mendapatkan pengakuan dunia internasional. Kami selalu berkomitmen untuk mempromosikan dan menawarkan produk-produk ekspor Indonesia terbaik kepada para buyers dan investor, dan semuanya sudah melalui proses kurasi yang akurat,” lanjut Gusmardi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia pada bulan Juni 2012 sempat turun sebesar 8,7% dibandingkan dengan bulan sebelumnya, tetapi secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia selama tahun ini masih surplus. Sejauh ini China masih merupakan pasar tujuan ekspor utama Indonesia dengan total ekspor non-migas sebesar US$1,57 miliar.

Disusul Jepang dan Amerika Serikat dengan total nilai ekspor masing-masing sebesar US$1,53 miliar dan US$ 1,28 miliar. Total kontribusi ketiga negara itu mencapai 33,32%. Sementara itu, ekspor ke 27 negara di Uni Eropa yang saat ini sedang dilanda krisis hanya US$1,66 miliar. Gusmardi mengatakan, selain negara-negara tersebut, masih banyak emerging markets (pasar negara berkembang) yang sangat bisa untuk dioptimalkan.

Target US$2 Miliar

Pada TEI 2010 dan 2011, Kementerian Perdagangan mencatat transaksi sebesar US$ 369 juta dan US$ 464,5 juta. Sementara itu, pada penyelenggaraan TEI bulan Oktober 2012 mendatang ditargetkan transaksi sebesar US$ 2 milyar. Target transaksi tersebut telah disampaikan oleh Menteri Perdagangan Gita Wirjawan pada soft launching TEI 2012 pada bulan Juni 2012 lalu. “Penetapan target sebesar 300% ini berdasarkan analisa logis bahwa grafik transaksi setiap penyelenggaraan TEI selalu menunjukkan tren yang terus meningkat,” ujar Gusmardi.

Kenaikan target transaksi yang signifikan ini juga terkait adanya penyelenggaraan World Export Development Forum (WEDF) sebagai salah satu rangkaian dalam kegiatan TEI 2012. WEDF merupakan pertemuan antara sekitar 300 orang pelaku pasar internasional yang berasal dari 50 negara. Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan optimis akan banyak buyers asing yang datang mengunjungi TEI dan tertarik untuk mengadakan kerjasama perdagangan internasional, termasuk negara-negara tujuan ekspor baru atau emerging markets seperti dari kawasan Afrika dan Amerika Latin.

Selain para peserta WEDF, Kementerian Perdagangan juga menargetkan jumlah buyers yang akan datang pada TEI 2012 mendatang sebanyak 6.000 orang. Singkatnya, kenaikan target transaksi sekitar 300% akan optimis dicapai dengan mengundang sebanyak mungkin buyers dari berbagai negara. “Melihat data transaksi pada TEI tahun lalu di mana India, Nigeria, Malaysia, Inggris dan Jepang tercatat sebagai lima negara yang melakukan transaksi terbesar, maka tentunya kelima negara ini dipastikan akan diundang lagi untuk datang pada TEI tahun ini,” pungkas Gurmardi.