Kapitalisasi BEI Berada Urutan Lima di Asia

Jumat, 21/09/2012

NERACA

Jakarta– Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menempati urutan ke lima untuk pertumbuhan kapitalisasi pasar bursa di Asia. Kondisi ini bertolak belakang, karena kapitalisasi pasar modal mengalami peningkatan 10,8% secara year on year menjadi US$ 403,15 miliar.

Kata Fund Manager PT Sinarmas Asset Management, Jeffrosenberg Tan, penurunan peringkat kapitalisasi tersebut lantaran rasio harga saham (price to earning/PER) saham di beberapa sektor sudah cenderung premium (overbought). “Meski demikian ke depannya prospek investasi di pasar saham Indonesia masih cukup baik dengan ditopang oleh laju konsumsi domestik yang masih positif, serta laju inflasi dan suku bunga acuan perbankan (Bank Indonesia rate) yang masih akan terjaga di level rendah,” kata Jeff Tan di Jakarta, Kamis (20/9).

Menurutnya, defisit di neraca perdagangan Indonesia serta sentimen negatif dan ketidakpastian iklim investasi akibat pengaruh dari bursa global menjadi indikator lainnya yang membuat pertumbuhan kapitalisasi pasar IHSG hanya mampu tumbuh 10,8%.

Seperti diketahui, berdasarkan data World Federation Of Exchange, pertumbuhan kapitalisasi pasar tertinggi di bursa kawasan Asia Tenggara di akhir Agustus 2012 dibandingkan periode yang sama tahun lalu ditempati oleh Bursa Philiphina dengan kenaikan 22,3% menjadi US$ 206,33 miliar.

Urutan selanjutnya ditempati Bursa Singapura menjadi US$ 708,97 miliar (18,6%), Bursa Thailand US$ 326,78 miliar (16,1%) Bursa Malaysia US$ 446,87 miliar (14,2%) dan Bursa Indonesia hanya menempati posisi kelima US$ 403,15 miliar.

Kondisi ini bertolak belakang dengan ambisi BEI yang menargetkan kapitalisasi pasar mencapai US$ 750 miliar di tahun 2015. Direktur Utama BEI Ito Warsito pernah bilang, target kapitalisasi pasar capai US$ 750 miliar diyakini terealisasi dengan mengajak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk masuk pasar modal, “Dengan semakin banyaknya emiten yang melantai di BEI, akan membuat nilai kapitalisasi pasar bursa akan semakin besar, “ujarnya.

Tercatat hingga Juni 2012, kapitalisasi market membukukan sebesar Rp 3.400 triliun. Namun ironisnya, memasuki akhir tahun belum ada satupun BUMN yang melepaskan sahamnya di pasar modal.

Merespon hal tersebut, Menteri BUMN Dahlan Iskan rupanya lepas tangan dan tidak lagi mempersoalkan apabila BUMN tidak dapat merealisasikan penawaran umum saham perdana (IPO) tahun ini dengan alasan belum ada izin dari Dewan Perwakilan Rakyat, “Masih ada hambatan di perizinan-perizinan itu. Tidak ada IPO tahun ini juga tidak apa-apa," tegasnya.

Dahlan mengakui, karena belum mendapatkan persetujuan dari DPR maka pihaknya harus menunggu sekaligus melengkapi dokumen yang dibutuhkan oleh anggota dewan tersebut. Dia juga menegaskan, keinginan IPO atau tidak IPO bukan persoalan hidup dan mati. Sebab, bila tidak mendapatkan persetujuan dari pihak yang terkait, dirinya pun hanya bisa menunggu.

Sebelumnya Dahlan menargetkan lima BUMN akan melangsungkan IPO tahun ini, yakni PT Semen Baturaja, PT Waskita Karya, PT Pertamina Drilling Service, PT Pertamina Gas dan PT PLN Batam. Namun, Semen Baturaja masih terganjal status perubahan direksi, sementara Waskita menunggu turunnya Peraturan Pemerintah (PP).

Sementara itu, untuk tiga anak perusahaan yang lainnya masih dikaji di internal perseroan. Namun, untuk PLN Batam, perseroan tinggal menunggu arahan dari induk perseroan, yakni PT PLN Persero. (bani)