Menakar Potensi dan Prospek Pasar Obligasi UKM di Indonesia

Jumat, 21/09/2012

NERACA

Jakarta - Prospek obligasi di Indonesia sangat besar. Dalam beberapa tahun ke depan, fenomena investasi diperkirakan akan mengarah pada obligasi. Pasalnya, tingkat risk pada obligasi lebih rendah ketimbang pembiayaan melalui pinjaman bank.

Selain suku bunga tetap, obligasi juga memberikan keleluasan pendanaan dengan jangka waktu yang relatif lebih panjan,”Obligasi ini nilainya fixed, dan memiliki profitabilitas return yang baik, jadi sangat menarik untuk investor maupun korporasi.”kata pengamat pasar modal PT Recapital Securities, Pardomuan Sihombing di Jakarta kemarin.

Obligasi, lanjut Pardomuan, merupakan indikator negara maju. Namun, sayangnya pasar obligasi domestik hingga kini belum menyentuh sektor riil. Padahal sector riil, khususnya industri mikro merupakan peluang yang sangat menarik, baik bagi investor maupun pasar modal. “Kalau korporasi collaps, ya sudah collaps, tapi kalau di sektor riil, unit usaha industri ini, kalau satu collaps, masih ada sector-sektor lainnya.” ujarnya.

Karena itu, dia menilai industri usaha mikro pun layak menjadi underlaying asset bagi obligasi dan bisa menjadi terobosan bagi bursa domestik. Sektor riil ini, menurut dia ke depannya akan mampu menyerap investor dan bisa menyemarakkan instrument investasi di pasar modal.

Direktur Bisnis Ritel PNM Tri Susilo menjelaskan, obligasi untuk usaha mikro bisa menjadi produk alternatif atau instrumen investasi bagi investor institusi ritel melalui manajer investasi. “Bisnis usaha kecil dan menengah saat ini berkembang dengan prospek dan profitabilitas yang baik. Karena itu, perlu ada dukungan lebih lanjut dari stakeholder khususnya Bapepam-LK dan otoritas bursa untuk keberlanjutan pembiayaan usaha mikro melalui obligasi ini,” paparnya.

Dari data statistik usaha tahun lalu, jumlah unit usaha kecil menengah mencakup 99,99 persen dari seluruh pelaku usaha, dengan porsi terbesar ditempati usaha mikro yaitu 98,85 persen. Adapun pertumbuhan penyaluran kredit mikro per Juni 2012 baru sebesar 3,62 persen secara year on year (yoy) sehingga ini merupakan peluang yang besar yang bisa dimanfaatkan untuk membiayai usaha mikro melalui obligasi.

Masih rendahnya penyaluran kredit tersebut karena perbankan sangat memperhatikan aspek risiko. Padahal, lanjut dia, Usaha mikro, lanjut dia sebenarnya memiliki margin yang besar. Pasalnya, ada sekitar 75% sektor usaha mikro yang belum tersentuh oleh perbankan, dan selama ini mereka menggunakan bantuan modal usahanya melalui tengkulak atau rentenir.

Tetap Waspdai Risiko

Pengamat pasar modal dari Trus Securities, Reza Priyambada mengatakan, mengenai prospek penerbitan obligasi untuk pendanaan unit usaha mikro masih dipertanyakan. Pelaku pasar, lanjut dia, masih akan melihat sektor dan portofolio unit usaha yang akan dibiayai. “Karena kalau kita bicara tentang investasi, tentu investor akan kembali melihat risiko dan return-nya, selain itu penerbitan obligasi untuk pendanan unit usaha mikro ini termasuk masih baru bagi pelaku pasar.” jelasnya.

Perkembangannya, lanjut dia tergantung dari sejauh mana issuence menyampaikan kepada pelaku pasar bahwa risiko untuk pembiayaan unit usaha tersebut kecil. Hal ini tidak jauh berbeda dengan penerbitan obligasi untuk daerah. Para pelaku pasar belum terlalu yakin karena termasuk jenis instrumen baru. Selain itu stigma yang berkembang terhadap pemerintah daerah juga akan ikut mempengaruhi. Karena itu, pihak pemda perlu meyakinkan investor bahwa dana mereka yang akan digunakan dikelola dengan baik dan pasti serta beresiko kecil.

Sejauh ini penerbitan obligasi sampai dengan akhir tahun masih cukup diminati perusahaan. Pasalnya dalam penerbitan surat utang dinilai lebih aman ketimbang bermain di saham. “Obligasi itu nilainya lebih fixed, kalau tidak ada untung minimal masih dapat kupon, di akhir periode pun investor bisa mendapatkan kembali nilai awalnya.” pungkasnya.

Sementara Head of investment Banking Mandiri Sekuritas Iman Rachman memperkirakan, ada beberapa perusahaan besar menerbitkan obligasi. PT Mandiri Sekuritas, sebagai salah satu penjamin emisi akan menangani enam perusahaan yang akan menerbitkan obligasi.

Banyaknya perusahaaan menerbitkan obligasi menurut dia karena dana murah didapat dari penerbitan obligasi daripada meminjam melalui perbankan

Enam perusahaan yang akan menerbitkan obligasi, bergerak pada sektor multifinance, perbankan, properti, serta minyak dan gas. "Enam perusahaan yang ini akan menerbitkan obligasi ini hingga sisa tahun ini. Namun, untuk lebih detailnya kami belum bisa informasikan," kata Iman.

Lanjut Iman, dari enam perusahaan yang menerbitkan obligasi, beberapa perusahaan menerbitkan obligasi berkelanjutan. "Ada yang baru, ada juga yang lanjutan dari obligasi sebelumnya," tambah dia. Iman mengungkapkan sebagian besar perusahaan tersebut akan menggunakan dana hasil obligasi untuk ekspansi dan modal kerja, walaupun ada beberapa di antaranya untuk pembiayaan kembali (refinancing). (lia)