Stasiun Pengisian Listrik Telah Hadir di Kementerian ESDM

Geliat Industrialisasi Mobil Listrik

Jumat, 21/09/2012

NERACA

Jakarta - Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) telah hadir di kantor Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Sebuah SPLU tegap berdiri tidak jauh dari pintu gerbang gedung kantor Kementerian ESDM. SPLU merupakan alat untuk mengisi kendaraan yang mengunakan bahan bakar listrik. SPLU pertama diresmikan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan pada 4 Agustus 2012 lalu. Rencananya, PT PLN (Persero) akan membangun SPLU 10 titik di Jakarta dan salah satunya terdapat di kantor Kementerian ESDM.

Deputi Manager Komunikasi PLN Distribusi Jakarta Irwan Darwin mengatakan PLN akan menyiapkan SPLU sepuluh lokasi di Jakarta pada tahap pertama. PLN menyebut, angka investasi untuk satu SPLU hanya sekira Rp6 juta. "Kita siapkan pada tahap pertama SPLU di sepuluh lokasi," kata Irwan, belum lama ini.

Irwan menyebutkan kesepuluh titik tersebut adalah, Kementerian BUMN berjumlah dua titik, Dirjen Ketenagalistrikan satu titik, Kementerian ESDM satu titik, PLN Mampang satu titik, PLN Bulungan satu titik, PLN Priok satu titik, PLN Lenteng Agung satu titik, PLN Ciputat satu titik, Kebayoran satu titik dan Gambir satu titik. Sistem pengisian listrik di SPLU ini hanya dengan uang logam Rp500 akan mendapatkan listrik sebesar 5.500 Volt Ampere (va) selama 15 menit.

Sementara sebelumnya Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan untuk memproduksi mobil listrik untuk pribadi secara massal harus memperhatikan banyak hal. Di antaranya sasaran produksi untuk pasar, dan ketersediaan suku cadang.

"Sebab industrialisasi ini juga memikirkan komersialisasi industri dan apa yang hasil riset tadi bisa diimplementasikan atau tidak. Skala ekonomi seperti apa, berapa besar produksi yang dilakukan supaya dia dibeli oleh masyarakat. Kemudian after sales service-nya dan bagaimanA industri komponen bisa disiapkan. Kalau membeli mobil tidak hanya memberikan mobil saja tetapi juga keberlanjutannya seperti bengkelnya," kata Hidayat.

MS Hidayat mengatakan tahapan pengembangan mobil listrik selama 2 tahun ke depan hanya sebatas riset saja. Selain itu sampai saat ini mamsih menunggu keputusan presiden tentang pengembangan mobil listrik. Mungkin kepres ini akan keluar satu bulan ini.

MS Hidayat mengatakan perusahaan otomotif asal Korea Selatan, Hyundai bersedia mengembangkan mobil listrik ini. Namun masih dibicarakan bentuk kerjasamanya. "Belum-belum ditetapkan. Nanti yang akan menentukan langkah selanjutnya Korea apakah B to B dan kalau B to B yang ditugaskan Korea itu siapa," kata MS Hidayat.

Selaini itu MS Hidayat memandang produksi mobil listrik ini, pemerintah masih mencari investor yang akan menanamkan investrasi. Hanya saja butuh keberanian untuk menanamkan investasi ini. "Kalau itu sudah tersedia sudah bisa dipikirkan mungkin itu visible untuk dimulai, baru nyari siapa yang mau mengambil resiko untuk memulai," tutur MS Hidayat.

Produksi Massal

Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan juga memaparkan keinginan Indonesia untuk memproduksi mobil listrik, yang komponennya produk lokal sepertinya dapat terealisasi. Pasalnya, pemerintah, dalam hal ini Kementerian BUMN, menjalin kerja sama dan komitmen dengan sebuah industri baterai lithium raksasa, PT Nipress Tbk.

Dahlan mengakui bahwa sampai kini ada komponen mobil listrik nasional yang harus impor, yaitu baterai. Menyikapi impor tersebut, Dahlan menyatakan, pihaknya menyiapkan sejumlah cara. Di antaranya berkomitmen dengan PT Nipress, selaku industri baterai terbesar di Tanah Air.

Proyeksinya, kata Dahlan, pada Mei 2013, baterai lithium sudah dapat terproduksi. "Memang ada rencana untuk membangun pabrik lithium di Indonesia. Kami pun memiliki bahan baku lokal untuk produksi lithium. Tapi, itu butuh waktu untuk bernegosiasi."Nah, dalam komitmen itu, setidaknya, PT Nipress memberikan garansi bahwa pada Mei 2013, memproduksi baterai lithium di Indonesia," kata Dahlan.

Sementara itu, informasinya PT Nipress Tbk siap memproduksi baterai jenis Lithium Ferro Phosphate untuk mobil listrik nasional. Pada tahap awal, perusahaan terbuka itu membutuhkan waktu enam bulan untuk merealisasikannya. Pada awalnya, PT Nipress Tbk memproduksi baterai lithium untuk mobil listrik nasional itu pada 2015. Itu karena belum adanya permintaan dari dalam negeri.