Pasar Ban Melempem, Produsen Banting Harga - KRISIS GLOBAL HANTAM INDUSTRI BAN LOKAL

Jakarta – Turunnya permintaan produk ban di pasar domestik terus memaksa para produsen ban untuk membanting harga jual agar produknya tetap laku di pasaran. Ditambah dengan melempemnya kinerja ekspor ban akibat demam krisis global yang tak kunjung sembuh, stok produksi ban domestik terpaksa harus dijual murah. Walhasil, strategi banting harga antar produsen turut membuat "perang" harga di pasar ban dalam negeri semakin sengit.

NERACA

Pengamat Otomotif John Arsyad menjelaskan, fluktuasi harga ban di pasar lokal diakibatkan oleh permintaan ekspor semakin menurun. “Ekspor yang menurun berakibat barang yang seharusnya di ekspor masih menumpuk di dalam negeri. Sehingga mau tidak mau barang yang menumpuk ini harus dijual,” ujar John kepada Neraca, Rabu (19/9).

Menurut dia, salah satu upaya agar barang-barang bisa habis adalah dengan cara menurunkan harga standar dan memberikan promosi yang cukup besar. “Misalnya konsumen membeli ban 10 buah lalu mendapatkan bonus tambahan ban 4 buah. Padahal kalau normalnya saja hanya mendapatkan tambahan 1-2 buah ban saja,” ujarnya.

Hal inilah, sambung dia, yang membuat pasar ban menjadi tidak stabil. Bahkan ada yang menurunkan harga jualnya. Selain itu, John juga mengatakan beberapa pabrikan ban juga mengalami kepanikan sehingga mereka menurunkan harga. “Ada pabrik yang panik, ada juga pabrik yang setengah panik dan ada pabrikan yang biasa-biasa saja dengan kondisi ini. Biasanya pabrikan yang tidak panik adalah pabrikan besar yang telah mempunyai sistem,” imbuhnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pabrik ban, pada saat ini tidak bisa mengurangi sisi produksinya pasalnya bahan baku untuk membuat ban sudah dipesan jauh-jauh hari sehingga tidak bisa ditunda. “Bahan baku itu harus dipesan 3 bulan sebelum produksi. Sekarang sudah bulan September, jadinya bahan bakunya sudah dipesan sebelumnya,” tambahnya.

Dari sisi komposisinya, lanjut Arsyad, pembuatan ban lebih banyak bahan bakunya yang di impor. Sebanyak 75% bahan baku ban adalah impor sisanya baru didatangkan dari Indonesia. “Kalau karetnya memang asli Sukabumi, tetapi kan ada komponen lain yang mesti dimpor,” ungkapnya.

Akibat penurunan harga ban ini, menurut dia, setiap pabrik tidak akan gampang jatuh atau bangkrut, karena bisnis ban adalah bisnis yang dinamis. “Kalau bangkrut sih, saya rasa tidak. Paling tidak akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan tersebut. Laporan keuangannya juga baru bisa diketahui pada bulan Maret tahun depan,” katanya.

Pemerintah, kata dia, jangan diharapkan bisa menyeimbangkan harga pasar ban. Pasalnya menurut dia, Indonesia itu sudah digeluti dengan ekonomi liberal. Tidak seperti di Thailand yang ketika harga tidak stabil maka Raja Thailand bisa langsung turun untuk menstabilkan harga. “Ini dibiarkan ke mekanisme pasar saja. Biar pasar yang menentukan,” tuturnya.

Namun ada satu hal yang menurut dia bisa menyeimbangkan harga yaitu dengan mempertemukan seluruh pabrikan ban. “Tapi jangan dianggap kumpul-kumpul ini adalah kartel. Berkumpulnya ini untuk bagaimana menyepakati untuk menurunkan dalam hal produksinya,” terangnya.

Merata Surut

Sementara itu Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengungkapkan, imbas krisis ekonomi global makin terasa pada permintaan ekspor, terutama ban mobil. Konsumen di luar negeri mengurangi penggunaan kendaraan, apalagi seiring kenaikkan harga bahan bakar minyak.

Menurut Aziz, surutnya permintaan ban terjadi hampir merata di seluruh pasar tujuan ekspor. Tidak hanya di kawasan Eropa dan Amerika Serikat yang terkena dampak langsung krisis, pelemahan permintaan pun terjadi di pasar Timur Tengah dan Afrika. "Besaran penurunan berbeda-beda. Kawasan Eropa menjadi wilayah dengan penurunan permintaan terbesar," paparnya.

Menurut dia, krisis keuangan dunia berimbas ke kinerja ekspor ban asal Indonesia tahun ini. Hingga Juli tahun ini, penjualan ban ke luar negeri hanya mencapai 19,6 juta unit. Jumlah itu turun 9% dibanding periode yang sama tahun lalu, 21,5 juta unit. Akibatnya produksi ban nasional pada semester I/2012 turun sekitar 2,5% menjadi 25,81 juta unit jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 26,47 juta.

Meski begitu, Aziz masih optimis, ekspor ban hingga akhir tahun ini masih bisa tumbuh tipis, di tengah pertumbuhan penjualan mobil nasional. Dia memproyeksikan, hingga akhir 2012, penjualan ekspor bisa naik 2-3% dibanding tahun lalu, yaitu menjadi 36-37 juta unit.

Pelemahan permintaan di pasar ekspor meresahkan industri ban di dalam negeri. Pasalnya, kata Aziz, secara umum, penjualan ban di luar negeri memberi kontribusi 80% terhadap total penjualan ban buatan dalam negeri. Menurut dia, salah upaya para produsen ban nasional mencari cara untuk mengganti pelemahan permintaan di pasar ekspor adalah dengan mengalihkan ekspor ke pasar alternatif yang belum digarap selama ini, seperti pasar Asia Pasifik.

Namun, Aziz mengakui, sejauh ini, upaya tersebut belum mampu menunjukkan hasil yang maksimal. Langkah lain yang menunjukkan hasil lebih baik adalah memanfaatkan permintaan ban di dalam negeri, khususnya di segmen replacement. "Apalagi permintaan ban di dalam negeri terbantu seiringmeningkatnya permintaan ban menjelang lebaran lalu," ujarnya.

Dihubungi terpisah, Direktur PT Multistrada Arah Sarana Tbk Uthan Arief Sadikin menuturkan bahwa tidak ada penurunan harga ban mobil di dalam negeri dari pihak Multistrada. Oleh karena itu, pihaknya tetap mempertahankan penjualan ban, baik mobil maupun motor. “Untuk ban mobil, kita di posisi empat dengan merek Achilles. Sedangkan ban motor di peringkat tiga dengan merek Corsa,” ungkap dia.

Selain itu, dia menerangkan, harga ban mobil merek Achilles berkisar antara Rp300 ribu-Rp1,5 juta. Sementara ban motor merek Corsa antara Rp100 ribu-Rp250 ribu. Multistrada, lanjut Uthan, akan tetap mempertahankan penjualan ekspor ke Timur-Tengah, Amerika Serikat (AS), dan Eropa sebesar 80% dan sisanya 20% untuk dalam negeri. “Timur-Tengah masih posisi teratas. Namun, urutan kedua kini ditempati AS dengan 18% dan Eropa 15%. Eropa kan masih kena krisis jadi ekspor kita memang turun,” ujarnya.bari/ardi/iwan/munib

BERITA TERKAIT

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

Garap Proyek 35 Ribu MW - PLN Terbitkan Global Bond US$ 1,4 Miliar

NERACA Jakarta – Guna mendanai pengembangan dan operasional bisnis, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menerbitkan surat utang (global bond) pertama…

Usaha Kecil - Keterlibatan Sektor UKM dalam Rantai Nilai Global Masih Rendah

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menyatakan bahwa keterlibatan sektor usaha kecil menengah (UKM)…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DEFISIT APBN MELEBAR HINGGA RP 135 TRILIUN LEBIH - Menkeu: Pertumbuhan Semester I Capai 5,1%

Jakarta-Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I-2019 mencapai  5,1%.  Angka ini berdasarkan perhitungannya terhadap kontribusi…

Moratorium Hutan, Pemerintah Justru Terbitkan Izin 18 Juta Hektar

  NERACA Jakarta - Kepala Departemen Advokasi Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Zenzi Suhadi, menyayangkan sikap pemerintah yang…

Ekonom Ingatkan Investasi dan Permintaan Melandai

NERACA Jakarta- Meski Badan Pusat Statistik (BPS) merilis neraca perdagangan Indonesia bulan Juni 2019 surplus sebesar US$200 juta, surplus neraca…