Gali Liang Sendiri

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Meruginya PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebagai tulang punggung bisnis grup Bakrie di sektor tambang sebesar US$ 334,111 juta atau setara Rp 3,14 triliun sepanjang semester I-2012, menjadi awal kebangkrutan bisnis Bakrie. Pasalnya, bukan rahasia umum bisnis Bakrie dikenal seperti gali lubang tutup lubang. Dimana bisnisnya selalu dibangun dengan risiko utang, dan tentunya keuntungan yang didapatnya pun hanya untuk bayar utang.

Mungkin itulah kelihaian dari Bakrie yang mampu mengelola tumpukan utang untuk membiaya bisnisnya diberbagai sektor. Namun ibarat pepatah bilang, sepandai-pandainya tupai meloncat adakalanya jatuh pula, adalah kondisi yang tepat menggambarkan bisnis grup Bakrie saat ini yang terlilit utang, lantaran bisnisnya yang dibiayai dengan utang tidak mencatatkan kinerja yang baik. Bumi Resources misalnya, mencatatkan rugi sebesar Rp 3,14 triliun di paruh pertama tahun ini karena rugi kurs transaksi derivatif.

Kondisi inipun tidak lepas dari melorotnya ekspor sektor tambang, karena adanya perlambatan permintaan batubara di Cina yang dipicu krisis ekonomi global. Rupanya kondisi inipun tidak hanya dialami bisnis tambang milik Bakrie, tetapi merata dialami semua emiten tambang.

Seiring melemahnya, pendapatan bisnis di sektor tambang grup Bakrie memberikan dampak sistemik bagi bisnis di sektor lainnya. Alasannya, sektor lainnya dituntut untuk tanggung renteng menutupi utang BUMI. Dimana mengutip laporan perseroan tahun 2011, BUMI mencatatkan utang jatuh tempo tahun 2012 mencapai US$638 juta (Rp6,38 triliun). Sementara di tahun 2013 sebesar US$1,1 miliar, 2014 sebesar US$635 juta, 2015 sebesar US$313 juta, 2016 sebesar US$450 juta dan di 2017 sebesar US$700 juta. Maka jika disederhanakan, hingga 2014 BUMI harus melunasi utang jatuh tempo US$3 miliar (Rp30 triliun).

Utang ini belum termasuk jatuh tempo induk usahanya PT Bakrie and Brother Tbk (BNBR). Berdasarkan laporan keuangan BNBR audit 2011 menyebutkan, total utang perseroan mencapai Rp5,4 triliun. Dari total utang itu, sebesar Rp295 miliar jatuh tempo tahun ini yang berasal dari transaksi repo. Selain itu, perusahaan investasi juga harus melunasi utang US$437 juta (Rp4,3 triliun) dari 20 kreditur internasional yang digalang Credit Suisse, menyusul harga saham Bumi Plc turun dari yang disepakati.

Padahal, belum tentu bisnis Bakrie di sektor lainnya mencatatkan kinerja yang positif. Maka tepat kiranya yang disampaikan analis BNI Securities Viviet S. Putri, bahwa aksi korporasi yang dilakukan kelompok usaha grup Bakrie akan terbebani utang. Dimana beban itu tidak hanya kepada entitas usahanya, namun juga pada entitas lain dalam kelompok perusahaan Bakrie.

Dampak ini pulalah yang dirasakan, Bakrie Land Development yang terpaksa harus melepas kepemilikan saham sebagian atau seluruhnya di perusahaan pengelola jalan tol PT Bakrie Toll Road (BTR). Lagi-lagi aksi korporasi ini dilakukan untuk menutupi utang perseroan.

Related posts