Era Baru Pendanaan Sektor Ril UKM Lewat Penerbitan Obligasi

NERACA

Jakarta – Berkembang pesatnya Usaha Kecil Menengah (UKM) sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kian meroket, berbagai model pembiayaan untuk UKM pun mulai dilirik. Salah satu yang paling menarik adalah model pendanaan lewat obligasi.

Direktur Bisnis Permodalan Nasional Madani (PNM) Tri Susilo mengatakan, banyak kalangan memandang UKM memiliki aktivitas yang demikian dinamis. Apalagi dengan perannya yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak, sehingga secara umum UKM memiliki andil yang besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,”Ada 52,7 juta pelaku UKM di Indonesia, 0,01% merupakan pengusaha besar, mikro 98,5%. Hampir 90% tenaga kerja terserap di sektor mikro ini, “katanya di Jakarta, Rabu (19/9).

Dia juga mengungkapkan, UKM juga memberikan kontribusi sebesar 32,24% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, pengusaha kecil punya prospek dan peranan yang cukup besar. Serta memberikan lapangan kerja yang cukup.

Maka dengan sifat usahanya yang cenderung berskala menengah, UKM memiliki risiko usaha yang lebih minim ketimbang usaha di sektor formal dengan skala modal yang lebih besar. Sehingga, cukup menjanjikan bila sektor UKM mulai dilirik sebagai sasaran pendanaan lewat model pembiayaan obligasi."Industri dan pelaku UKM cukup potensial, melalui obligasi. Menjadi peluang yang baik bagi pasar modal dan pemilik modal," tegasnya.

PNM sendiri memandang potensi tersebut sebagai peluang yang menjanjikan. Apalagi, belum ada pelaku lain yang melirik sektor tersebut sebagai target permodalan yang baru."Perbankan sendiri belum melihat itu, sebab perbankan masih melihat takut risiko dan dijadikan pertimbangan untuk memberikan bantuan. Jadi kita berharap bisa menjadi pionir," tutupnya.

Sebelumnya, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan penawaran umum obligasi I PNM Tahun 2012 senilai Rp 500 miliar bertenor lima tahun. Dengan prospek dan potensi UMK besar yang besar, PNM sangat optimis obligasi ini akan diminati investor dan diserap pasar.

Menurut Direktur Utama PNM Parman Nataatmadja, setelah dikurangi biaya-biaya emisi, sekitar 80% dana penerbitan obligasi akan digunakan untuk modal kerja dan selebihnya untuk refinancing. "Modal kerja akan disalurkan kepada usaha mikro dan kecil melalui Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM)," tandasnya.

Dia menambahkan, untuk penerbitan obligasi ini telah mendapat peringkat idA sari Pefindo. Sementara, untuk penjamin pelaksana penerbitan obligasi ini, perseroan telah menunjuk PT Bahana Securities. (bani)

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Investasi Manufaktur Diyakini Semakin Moncer Seusai Pemilu

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengaku optimistis akan terjadi peningkatan investasi dan ekspansi di sektor industri manufaktur seusai…

Dunia Usaha - Pemerintahan Baru Perlu Didorong Berani Berpihak Pada Industri

  NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Hisar Sirait mendorong agar pemerintahan yang akan terpilih hasil Pemilu 2019 harus berani berpihak…

Jabar Resmi Miliki Tiga Perda Baru

Jabar Resmi Miliki Tiga Perda Baru NERACA Bandung - Provinsi Jawa Barat (Jabar) lewat agenda persetujuan bersama DPRD dan Pemprov…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Realisasi Kontrak Baru ADHI Capai 8,57%

NERACA Jakarta – Per Maret 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) merealisasikan kontrak baru senilai Rp3 triliun atau 8,57%…

Laba Bersih Sari Roti Tumbuh 123,23%

Di kuartal pertama tahun ini, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 64,85 miliar atau…

Multi Bintang Bagi Dividen Rp 1,23 Triliun

NERACA Jakarta – Meski perolehan laba sepanjang tahun 2018 kemarin tertekan, emiten minuman beralkohol PT Multi Bintang Indonesia Tbk tetap…