Babak Baru Bisnis Inti Matahari Kembangkan Hypermart

Kantongi Dana Rp 6,1 Triliun Pasca Divestasi

Kamis, 20/09/2012

NERACA

Jakarta – Ambisi menjadi market leader pada bisnis intinya pada sektor ritel, rupanya serius dilakoni PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Pasalnya, perseroan telah menyatakan menyetujui untuk melakukan divestasi aset dan bisnis non-inti senilai Rp3,2 yang ditargetkan bisa selesai sebelum kuartal pertama 2013.

Direktur PT Matahari Putra Prima Tbk, Danny Konjongian mengatakan, investasi aset atau bisnis non inti merupakan langkah perseroan untuk fokus menjalankan bisnis inti ritel Hypermart. “Divestasi tersebut merupakan langkah strategis dan komitmen untuk lebih fokus dan intens dalam menjalankan dan mengembangkan bisnis inti ritel hypemart atau food division yang merupakan kontributor utama, yaitu 95% pendapatan perseroan saat ini.”katanya di Jakarta, Rabu (19/9).

Sebagaimana diketahui, perseroan melakukan divestasi bisnis inti seperti Timezone, Times Bookstore, restoran dan properti kepada perusahaan terafiliasi PT Multipolar Tbk (MLPL). Perseroan menurut dia, selanjutnya akan mengalami kelebihan likuiditas dana dan kapitalisasi modal sehingga perseroan akan mengoptimalisasi rencana penggunaan untuk pelunasan total hutang bank Rp2,4 triliun jika diperlukan.

Selain itu, perseroan juga akan menyisihkan Rp3,4 triliun untuk distribusi ke pemegang saham melalui pembagian deviden Rp1 triliun dan pengurangan modal Rp2,4 triliun. Lebih lanjut dia mengatakan, hal itu dilakukan dengan menurunkan nilai nominal saham perseroan dari Rp500 per saham menjadi Rp50 per saham.

Dukung Permodalan

Kata Danny, dengan melakukan penurunan nominal saham, maka struktur permodalan akan lebih efisien dan ramping. Kinerja MPPA akan membaik yang didukung dari return on equity (ROE) dan return on asset (ROA).

Dia menambahkan, setelah transaksi ini dilakukan, perseroan akan mencatatkan likuiditasnya hingga Rp6,1 triliun. “Hasil penjualan divestasi aset non inti tersebut akan meningkatkan salda kas dan setara kas menjadi sekitar Rp6,1 triliun.” tandasnya.

Pembayaran divestasi aset non inti MPPA sebesar Rp3,2 triliun akan dibayar dalam bentuk tunai sekitar 60% dan sisanya dalam bentuk promisorry notes bertenor 6 bulan dengan bunga 6%. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, kepemilikan saham MPPA antara lain PT Multipolar Tbk sebesar 47,27%, PT Ciptadana Securities sebesar 8,49% dan PT Star Pacific Tbk sebesar 6,07%, dan masyarakat sekitar 37%.

Di lain pihak, Direktur PT Multipolar Tbk (MLPL), Reynold Ong mengatakan, pengambilalihan aset atau bisnis non inti PT Matahari Putra Prima Tbk sebesar Rp3,2 triliun merupakan hasil penilaian wajar dari penilai independen yang telah disetujui MPPA dan telah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham. “Transaksi pengambilalihan bisnis non inti MPPA itu nantinya akan dibayar dalam bentuk tunai sebesar 60% dan sisanya dari promisory notes.” ujarnya.

Menurut dia, hasil pengambilalihan aset atau bisnis non inti MPPA tersebut belum terasa pada tahun ini. Perseroan mengaku akan terus mengembangkan aset atau bisnis non inti tersebut. Adapun kontribusi aset atau bisnis non inti MPPA sekitar 5% yang terdiri dari bisnis restoran, toko buku, timezone, dan properti lainnya.

Reynold menambahkan, pengambilalihan aset atau bisnis non inti MPPA dilakukan dengan menggunakan komposisi pendanaan dari internal dan eksternal. Sumber pendanaan yang akan digunakan diperkirakan merupakan sebagian dana pinjaman sekitar Rp1,9 triliun yang diperoleh dari Deutsche Bank AG Singapura. (lia)