Jaga Stabilitas Ekonomi Jakarta

Hari ini (20 Sept.) warga Jakarta akan menentukan pilihan siapa Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 di tengah pertumbuhan ekonomi daerah yang sedang bagus saat ini. Karena selain tempat tujuan favorit pendatang dari berbagai daerah, Jakarta tampaknya menjadi kota yang mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional (6,5%), yaitu sebesar 6,7% selama periode triwulan II/2012. Sementara pada triwulan pertama tahun ini tercatat 6,6%.

Menentukan pilihan figur gubernur yang mampu menjaga pertumbuhan setinggi itu bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkapkan, mayoritas pemilih pada Pilkada DKI Jakarta menginginkan figur ideal memimpin ibu kota yang punya leadership tinggi seperti Ali Sadikin (Alm), mantan Gubernur DKI Jakarta.

“Mayoritas pemilih atau 75,6% mengharapkan sosok pemimpin DKI Jakarta untuk periode 2012-2017 memiliki leadership seperti Ali Sadikin,” kata Peneliti LSI, Totok Izul Fatah, kepada pers di Jakarta beberapa waktu lalu.

Di mata mereka, Ali Sadikin adalah figur yang berani mengawal Jakarta menjadi kota modern. Mereka mendambakan Jakarta berkembang menjadi kota global dimana aneka budaya dunia yang beragam dapat berinteraksi. “Mereka khawatir dengan perkembangan mutakhir kota Jakarta yang diwarnai aksi primordial dengan kekerasan,” ujarnya.

Menurut data BPS DKI Jakarta, pemicu utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2012 disebabkan karena tingginya aktivitas di sektor perdagangan, pengangkutan dan keuangan di kota Jakarta. Terutama karena tingginya pertumbuhan di sektor perdagangan, pengangkutan dan keuangan.

Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor pengangkutan-komunikasi (12,5%), kemudian diikuti oleh sektor jasa-jasa (7,8%), sektor perdagangan-hotel-restoran (7,2%), sektor konstruksi (6,2%), sektor keuangan-real estat-jasa perusahaan (5,3%), sektor industri pengolahan (4,0%), sektor listrik-gas-air bersih (3,8%), dan sektor pertanian 0,9%.

Karena itu, produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku provinsi DKI Jakarta pada triwulan II/2012 mencapai Rp 269,41 triliun, sedangkan pada triwulan I/2012 sebesar Rp 260,69 triliun, atau terjadi kenaikan Rp 9,2 triliun. Sedangkan berdasarkan atas harga konstan 2000, PDRB triwulan II/2012 mencapai Rp 111,26 triliun, lebih tinggi dari triwulan I/2012 Rp 108,79 triliun.

PDRB itu mencerminkan kemampuan produksi dari sektor ekonomi yang ada di Jakarta, tanpa memperhitungkan dari mana asal faktor produksi yang digunakan dalam proses produksinya. Nilai tambah yang diciptakan oleh sektor-sektor ekonomi kemudian diperhitungkan menurut harga tahun dasar untuk dapat melihat pertumbuhan produksi secara riil. Hal tersebut dilakukan untuk menghilangkan pengaruh harga pada besaran yang tercipta.

Dari gambaran tersebut, kini saatnya warga DKI berhak memilih secara bebas, rahasia dan sesuai pilihan hati nurani untuk menentukan gubernur definitif (Fauzi Bowo atau Jokowi) dalam Pilkada DKI 2012. Bagaimanapun, proses pilkada ini yang sangat strategis momennya mengingat hasilnya akan memberi pengaruh pada Pemilu 2014, dan menjadi referensi bagi pilkada lainnya di Indonesia. Jaga kebersamaan diantara warga, dan jangan terjebak dalam isu-isu yang kontra produktif terhadap perkembangan ekonomi Jakarta ke depan. Semoga!

Related posts