Indonesia Miliki LKM Terbesar di Dunia

Kamis, 20/09/2012

NERACA

Jakarta—Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop-UKM) mengatakan Indonesia merupakan negara yang paling sukses dalam menjalankan produk keuangan mikro seperti yang dilakukan Bolivia. "Akibat kurangnya informasi, tidak banyak yang tahu Indonesia merupakan salah satu negara yang sukses dalam menjalankan kredit mikro," kata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Syarief Hasan Menkop dalam siaran pers di Jakarta, Rabu.

Menurut Syarif-panggilan akrabnya, selain Bolivia, Indonesia merupakan merupakan negara yang sukses menerapkan keuangan mikro karena memiliki institusi perbankan mikro paling besar di dunia, yang mampu bertahan dari krisis dan berhasil mencetak laba besar.

Menkop mencontohkan di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk saat ini telah menjadi laboratoriun keuangan mikro dunia dan merupakan penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) terbesar nasional. "BRI juga bank dengan laba terbesar nasional,” kata Menkop.

Dijelaskan Menkop, Bolivia juga memiliki bank yang fokus pada keuangan mikro yakni Bancosol, yang juga merupakan bank dengan laba terbesar di Bolivia.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Choirul Djamhari menambahkan perbankan atau lembaga keuangan mikro yang sukses setidaknya memenuhi dua kriteria untuk bisa bertahan dan bertumbuh berkelanjutan. "Pertama, ekspansi kreditnya yang besar dan kedua, sumber pendanaan yang kuat. Banyak lembaga keuangan lebih memfokuskan diri kasih kredit," kata Choirul.

Menurut Choirul, saat ini berkembang beberapa jenis lembaga keuangan mikro yaitu lembaga keuangan mikro yang boleh menyalurkan kredit mikro tapi tidak boleh menghimpun dana masyarakat. Kemudian lembaga keuangan mikro yang bagus dalam menyalurkan kredit tapi buruk dalam memobilisasi dana publik. "Misalnya, Grameen Bank di Bangladesh, yang hanya mengandalkan sumber pendanaan dari dana non komersil seperti hibah dari luar negeri. Ketersediaan dananya sangat berat,” tuturnya

Selain itu, ada lembaga keuangan mikro yang bagus dalam menghimpun dana masyarakat tapi buruk dalam menyalurkan kredit dan ada juga lembaga keuangan yang gagal dalam menyediakan kredit mikro (bersubsidi) dan tidak punya kemampuan menghimpun dana publik yang bersifat komersil.

Sedangkan Direktur Utama Bank BRI Sofyan Basir mengatakan, Bank BRI telah mendirikan unit khusus untuk menangani berbagai pihak yang ingin belajar kredit mikro di BRI. "Saking banyaknya, kita buat unit khusus yang menangani orang asing belajar keuangan mikro di BRI," jelasnya

Sofyan mencontohkan, dua produk BRI yang menjadi primadona yakni Simpedes dan Kupedes yang saat ini nasabah kedua produk tersebut sudah mencapai selalu naik tajam. Saat ini nasabah kedua produk itu mencapai lebih dari 30 juta orang di seluruh Indonesia. **cahyo