Kemenperin Minta Produsen Jepang Relokasi Pabrik ke Indonesia - Tekan Impor Komponen Industri

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) meminta produsen komponen di Jepang berekspansi ke Indonesia untuk meningkatkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan mendukung program low cost and green car (LCGC).

“Kami berharap agar industri komponen otomotif bisa bertumbuh dan berkembang sejalan dengan program LCGC. Komponen yang selama ini masih di impor, sebaiknya diproduksi di dalam negeri,” kata Menteri Perindustrian, M.S Hidayat usai rapat dengar pendapat dengan komisi VI DPR di Jakarta, Rabu (19/9).

Keterlibatan industri komponen sebagai sub kontraktor, lanjut Hidayat, menjadikan produk LCGC sebagai produk masyarakat Indonesia. “Agen Pemegang Merek (APM) bisa memberikan kesempatan yang lebih luas terhadap industri komponen agar berpartisipasi dalam pengembangan produk kendaraan bermotor di Indonesia,” ujarnya.

Indonesia, lanjut Hidayat, merupakan pilihan tempat investasi bagi produsen komponen otomotif. “Terus berkembangnya penjualan kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua merupakan prospek bagi industri komponen. Sebagai gambaran, penjualan kendaraan bermotor roda empat pada tahun lalu mencapai 890.000 unit dan roda dua sebesar 8.000.000 unit,” paparnya.

Investasi AS

Minat investor untuk menanamkan modal di sektor komponen otomotif di Indonesia masih cukup tinggi dan beberapa investor asal Amerika Serikat telah berminat di sektor tersebut. Sejak tahun lalu, sudah ada 18 aplikasi dari investor yang ingin menanamkan modalnya di sektor otomotif dan komponen otomotif.

Direktur Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Budi Darmadi memaparkan ada sebanyak 18 aplikasi tersebut antara lain berasal dari investor Amerika Serikat, berminat mengembangkan usaha di bidang perakitan kendaraan bermotor berkapasitas 50.000 unit dengan nilai investasi Rp1,26 triliun.

Investasi di sektor otomotif dan komponen otomotif tersebut, menurut Budi, menyasar lokasi di Jawa Barat dan bisa menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 700 orang. "Investor lainnya berasal dari Thailand yang bergerak di bidang usaha industri komponen dan perlengkapan kendaraan bermotor dan nilai investasi dari Thailand diperkirakan sebesar US$ 1,5 juta. Saat ini industri otomotif telah memberikan sumbangan bagi perkembangan ekonomi nasional sebesar 28,14 persen dan menyerap tenaga kerja sebanyak 646.500 orang," paparnya.

Perkembangan pasar industri kendaraan bermotor roda empat di Indonesia, lanjut Budi, berkembang sangat pesat. "Ini terbukti dari peningkatan penjualan mobil sejak 2005 sampai dengan 2010 sebesar 143 % Di sektor produksi, peningkatan produksi industri kendaraan bermotor roda empat berkembang dari 2005 sampai dengan 2010 sebesar 140 persen," ujarnya.

Budi menyebutkan untuk sasaran yang akan dicapai dalam jangka pendek ialah peningkatan jumlah produksi kendaraan bermotor sampai dengan 2014 sebanyak 1.250.000 unit, menjadi basis produksi MPV dan truk komersial sampai dengan kapasitas 24 ton, SUV dan sedan kecil hemat energi dan ramah lingkungan.

"Indonesia diharapkan menguasai 80% desain untuk MPV dan 'light commercial truck' serta menguasai pembuatan mesin, transmisi 'commercial truck' dan SUV serta sedan kecil ekonomis. Pemerintah berharap industri otomotif nasional bisa menjadi pemimpin di sektor komponen otomotif dan menjadi pemasok komponen 'commercial truck', SUV, sedan kecil," tandasnya.

Sedangkan pengamat otomotif, Suhari Sargo menambahkan, investasi komponen otomotif harus didukung dengan kualitas sumber daya alam. “Sumber daya alam dan pemberian insentif yang menarik akan meningkatkan potensi investasi industri komponen di Indonesia,” tandasnya.

Related posts