Produk Fesyen Lokal Diharapkan Go International

Kamis, 20/09/2012

NERACA

Jakarta - Kementerian Perdagangan mengaku terus melakukan promosi hasil produksi industri fesyen lokal. Tidak hanya itu, Kemendag juga berupaya meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasar mengenai produk fesyen. Tujuannya melebarkan sayap bisnis fesyen lokal ke pasar internasional.

"Kementerian Perdagangan akan memprioritaskan distribusi produk sebagai salah satu cara untuk menguasai pasar lokal, Asia, dan dunia Internasional," ujar di Kementerian Perdagangan, Rabu (19/9).

Dalam pandangannya, dunia busana atau fesyen dapat memacu permintaan pasar. Selain itu, dunia fesyen juga diharapkan erat5 kaitannya dengan gaya hidup masyarakat Indonesia. Peluang dan potensi menguasai pasar fesyen dalam negeri terbilang besar. Hal ini didukung meningkatnya kelompok masyarakat kelas menengah. "Yang sekarang kelompok menengah kita mencapai 50 juta orang, sekitar 30 % dari total penduduk," jelasnya.

Dia menuturkan, kelompok kelas menengah merupakan pasar yang sangat menarik dan akan menjadi sasaran regional. Industri fesyen lokal harus bisa masuk dan menguasai pasar ini. Jika tidak, negara lain yang memanfaatkannya. Gusmardi menambahkan, dunia fesyen juga berpengaruh terhadap nilai ekspor. Barang-barang bernilai ekspor dari dunia fesyen sangat banyak jenisnya. Mulai dari perhiasan, sepatu, pakaian, kosmetik.

"Kalau di total, 6 bulan pertama tahun ini US$ 5,5 miliar. Jadi potensi sangat besar dan perlu terus kita kembangkan ekspor ke 20 negara dan akan terus kita kembangkan terutama ke AS, Jerman, UK dan beberapa negara lainnya. Kita sudah ada di Australia dan Spanyol," tuturnya

Ekspor Meningkat

Di tempat berbeda, Euis Saedah, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian menuturkan, nilai ekspor produk fesyen nasional mencapai Rp72 triliun atau meningkat 18,04% dari tahun sebelumnya. “Selain meningkatkan pendapatan negara, industri fesyen juga menyerap tenaga kerja sebanyak 4,13 juta orang atau 4,22% dari tingkat partisipasi penyerapan tenaga kerja nasional,” jelasnya.

Oleh karena itu, Euis menilai industri fesyen perlu dikembangkan dan mendapat dukungan dari semua pihak, baik pemerintah daerah, lembaga pendidikan, perbankan, perbankan dan asosiasi.Industri tenun Ulos di Provinsi Sumatera Utara, kata Euis, salah satu bagian dari klaster IKM fesyen yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Untuk itu, tambahnya, perlu dirumuskan kebijakan dan standarisasi teknis di bidang pengembangan IKM, peningkatan nilai tambah produk primer daerah, pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, dan peningkatan daya saing industri.

Sementara itu, Merdi Sihombing, desainer tekstil yang juga pelaku usaha tenun ulos mengungkapkan keinginannya agar tenun ulos itu bisa mendunia. Oleh karena itu ia kian serius menekuni tenun asli kampung halamannya, ulos.

Hal itu dibuktikannya dengan membangun Kampung Tenun di kawasan Lumban Nainggolan, Kabupaten Samosir. Menurutnya, ini merupakan kampung tenun ke dua di Indonesia setelah Palembang. Untuk membangun kampung tenun itu, Merdi pun tidak segan belajar teknologi tekstil dan bahkan belajar ke Palembang. Dia tidak main-main, 10 anak Samosir diajaknya belajar menenun dengan mesin tentun Songket Palembang.

Berbekal pegetahuan tekstil dan tenun tradisi, Merdi yang sudah lama berkecimpung di dunia fesyen nasional itu mendapat kepercayaan dari sebuah bank milik BUMN terkemuka, Bank BNI. Kerjasama dengan BNI tersebut semakin sesuai karena sama-sam memiliki wawasan go green. “Alhasil saya mendapat kepercayaan dari BNI untuk membuat Kampung BNI Ulos Samosir. Itu sudah hampir setahun terakhir ini,” ungkap Merdi.

BNI memberikan Merdi suport melalui program Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). “Aku mendapat suport dana dan segala macam dukungan untuk mewujudkan kampung tenun kami di Samosir. Bunganya pun ringan, hanya 6 %,” ungkapnya.

Melihat usaha dan keseriusan Merdi untuk membawa sebuah produk tradisional ke kancah internasional, kalangan perbankan menilai usahanya itu bisa menjadi cikal kluster bisnis pertenunan berkelas di Samosir. “Maka aku pun sudah mendapat perhatian dari kantor Bank Indonesia di Pematang Siantar,” jelasnya.

Tidak Mudah

Kepercayaan tersebut menurut dia tidak datang begitu saja, sebab tidak mudah untuk membuat orang tertarik membangun usaha kain tradisional. Apalagi dengan idealisme tinggi dan berwawasan lingkungan. Betapa tidak, menurut Merdi, dia berupaya untuk tidak memberikan dampak negatif bagi kampungnya dengan adanya industri tenun tradisional di sana. “Kami selalu mempergunakan bahan pewarna alami di kampung tenun itu. Pewarnaan bersumber dari tumbuhan dan bahan lainnya semisal kayu sona dan kayu jabi-jabi,” katanya.

Dengan membangun pola kerja layaknya inti dan plasama, Merdi sudah berhasil membawa 45 perajin baru yang betul-betul dibentuknya dari nol di Kampung Tenunnya di Samosir. “Aku sengaja membawa perajin baru, sehingga memiliki frame kerja yang sama,” ungkapnya.

Dengan perajin tersebut, Merdi mengatakan sudah bisa menjalankan tiga tempat usahanya, yakni di Jakarta, Medan dan di Samosir sediri, apalagi dia mengatakan sudah memiliki pasar tersendiri. “Pasar kita selama ini masih terbilang captive (terukur), kebanyakan kolektor kain tradisional dengan brand Merdi Sihombing. Sudah banyak permintaan dari outlet tekstil ternama di Jakarta dan manca negara, tapi aku belum niat buat outlet sendiri,” tuturnya.

Dari kerja kerasnya, Merdi pun memperoleh berbagai penghargaan dan piagam dari dalam dan luar negeri. Baru-baru ini dia mendapat penghargaan tekstil tradisional dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, juga ikon fesyen ulos dari Drijen Industri kecil Menengah dari Kementerian Perindustrian. “Tapi aku belum akan berhenti hanya di ulos, aku akan berupaya menjadikannya sebagai warisan budaya dunia dan produk fesyen yang bergengsi di cat walk kelas atas,” jelasnya.

Untuk itu dia bertekad untuk semakin rajin tinggal di Medan dan Samosir. “Mungkin aku akan semakin jarang di Jakarta, di mana selama ini aku berkarya dan tumbuh sebagai desainer kain tradisional dan perancang busana,” pungkasnya.