Bank Sentral Jepang Luncurkan Kebijakan Moneter

Kamis, 20/09/2012

NERACA

Tokyo--Bank sentral Jepang (BoJ) mengatakan akan memperluas skema pembelian asetnya sebesar 10 triliun yen (128 miliar dolar AS) untuk mendorong pergerakan ekonomi. Hal ini dilakukan menyusul langkah serupa oleh bank-bank sentral Eropa dan AS.

Bahkan BoJ juga mempertahankan suku bunga utamanya pada rekor terendah, mengirimkan yen jatuh terhadap dolar dan euro. Sedangkan Nikkei melonjak ke tingkat tertinggi empat bulan.

Langkah ini akan membuat program pembelian aset - alat utama untuk pelonggaran moneter yang menyediakan likuiditas ke pasar karena bank membeli obligasi pemerintah dan obligasi korporasi, serta "commercial paper" (surat berharga) - naik menjadi 80 triliun yen.

Menteri Keuangan Jun Azumi menyambut baik keputusan BoJ, mengatakan bank "mengambil tindakan yang lebih daripada yang kita antisipasi" dan itu akan membantu untuk mendukung perekonomian.

Pengumuman ini muncul karena ekonomi Jepang yang bergantung ekspor berupaya keras untuk memperbaiki diri sendiri, menyusul serangkaian masalah, termasuk bencana gempa dan tsunami Maret 2011, krisis utang Eropa, perlambatan permintaan global dan penguatan yen.

Tekanan pada bank sentral untuk mengambil langkah-langkah pelonggaran tambahan telah meningkat setelah bank sentral Eropa dan AS mengambil tindakan untuk mendukung ekonomi mereka.

Pada awal bulan ini Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan rencana untuk membeli utang negara untuk menurunkan biaya pinjaman negara-negara yang lebih lemah, selain meremehkan penentangan Jerman untuk melepaskan apa yang disebut "bazoka besar" terhadap krisis utang.

Seminggu kemudian Federal Reserve meluncurkan program pembelian obligasi baru yang dikatakannya tidak akan mundur sampai ekonomi berada di jalur yang benar dan tingkat pengangguran turun.

Di pasar valuta asing dolar melonjak terhadap yen, berpindah tangan di 79,11 yen dalam perdagangan sore di Tokyo, naik dari 78,65 yen sebelum pengumuman BoJ, dan naik dari 78,80 yen di New York pada akhir Selasa. Euro juga melonjak, mencapai 103,50 yen, naik dari 102,54 yen di perdagangan pagi hari. Saham Tokyo juga melonjak, dengan Indeks acuan Nikkei 225 naik 1,62 % ke tingkat tertinggi sejak Mei.

Dalam pernyataannya BoJ juga memperingatkan "kenaikan dalam kegiatan ekonomi telah datang untuk berhenti sementara" di Jepang akibat perlambatan ekonomi luar negeri. "Masih ada ketidakpastian tingkat tinggi tentang ekonomi global, termasuk prospek untuk masalah utang Eropa, dan momentum menuju pemulihan ekonomi AS," katanya.

Menurut BoJ, dunia harus tetap memonitor perkembangan keuangan pasar global. Karena krisis keuangan belum berakhir. “Perhatian harus diberikan pada perkembangan di pasar keuangan global di tengah masalah utang Eropa yang telah berlangsung lama," pungkasnya. **