BBM Langka di Lampung Sejak Mei 2012

Sabtu, 22/09/2012

NERACA

Meski persediaan bahan bakar minyak (BBM) diperkirakan baru habis Desember 2012 mendatang namun kelangkaan BBM di sejumlah daerah sudah terjadi.

Kendaraan yang melintas di sepanjang jalan lintas timur (Jalintim) Sumatra Selatan – Lampung, mengalami kesulitan mendapatkan premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), sejak Mei lalu.

Sedangkan premium di tingkat eceran tersedia, namun harganya sudah melambung hingga Rp 10.000 per liter. Dari pantauan di ruas Jalintim mulai dari Kabupaten Mesuji hingga Kabupaten Lampung Tengah, sejumlah SPBU yang berdiri di tepi jalan tersebut, telah memasang tanda pengumuman “bensin habis”.

Sebagian SPBU juga masih menyediakan solar dan pertamax. Kekosongan premium membuat pengendara kendaraan pribadi merasa resah saat mengisi liburan akhir pekan panjang ini.

Oktarita (45), warga Palembang yang berlibur ke Lampung menggunakan mobil pribadi, mengeluh tidak adanya premium di sepanjang SPBU jalintim. Memang, ia sudah mengisi tangki mobil kijangnya penuh saat berangkat dari Palembang, namun, ia khawatir bahan bakarnya kehabisan di tengah jalan, sedangkan yang jual bensin tak ada.

“SPBU banyak, tapi bensinnya kosong semua. Jadi, bagaimana mobil yang lewat di jalintim ini mau nyaman, kalau bensin tak ada yang jual,” kata pria yang bekerja sebagai pegawai negeri di Palembang tersebut.

Para sopir kendaraan pribadi, saat berada di daerah yang ramai, terpaksa membeli premium di tingkat eceran. Pedagang eceran yang masih menyediakan stok premium, menjualnya dengan harga Rp 10 ribu per liter. Alasan pedagang eceran tersebut, SPBU sudah tidak ada premium lagi.

Pihak SPBU di jalintim, menyatakan kekosongan sudah terjadi sejak lama, sebelum ada isu kenaikan bahan bakar minyak (BBM) 1 April lalu. “Sebenarnya premium dan solar sering kosong sudah lama. SPBU sekarang mengalami pembatasan order dari Pertamina, jadi ada pengurangan,” ujar Suyanto, petugas di SPBU Menggala, Kabupaten Tulangbawang.

Di Sulawesi Barat

Di Majene, Sulawesi Barat. kelangkaan BBM sudah berlangsung sejak sepekan terakhir. Sejumlah Stasiun Pengisian bahan bakar umum (SPBU) tidak bisa beroperasi 24 jam alias ditutup karena stok BBM habis. Kondisi ini makin diperburuk dengan sistem distribusi yang jelek dari Pertamina depot Parepare ke berbagai wilayah di Sulbar.

Pantauan di SPBU di Kelurahan Lembang, Kecamatan Banggae Timur sejak Selasa (11/9) hingga Sabtu (15/9) hari ini terlihat para karyawan SPBU lebih banyak beritirahat alias tidak melayani pelanggannya. Sementara para calon pembeli harus gigit jari karena tidak mendapatkan bahan bakar.

Kebanyakan pelanggan hanya berseliweran di halaman SPBU sebelum kembali meninggalkan SPBU setelah mereka tahu stok BBM habis. Sejumlah pengendara yang khawatir tidak kebagian BBM memilih memarkir kendaraan mereka di halaman SPBU agar mereka bisa mendapatkan jatah BBM dari SPBU lebih awal saat pasokan dari Pertamina Parepare tiba.

Rubama, petugas SPBU di Kelurahan Lembang, menyebutkan BBM habis karena pasokan dari Parepare karena seriang terlambat. Selain itu, pasokan jatah BBM juga tidak menentu kadang 16.000 liter per hari, bahkan terkadang hanya 8.000 liter.

"Jatah 16.000 liter saja belum cukup, apalagi stok dari Pertamina kadang terlambat datang karena alasan transportasi, terkadang molor hingga berjam-jam, ditambah lagi jumlah pembeli semakin bertambah, makanya banyak pelanggan tak kebagian BBM," ujar Rubama.

Sementara itu tak jauh dari SPBU pedagang bensin eceran terlihat masih membuka lapak, bahkan para pedagang eceran sibuk melayani pembeli.

"Yang kami pertanyakan kenapa di SPBU kosong, tetapi di tingkat pengecer, bensin tetap ada bahkan berlimpah, meskipun harganya Rp 6.000 per liter," kata Rahim, salah seorang pengendara.

.(agus/dbs)