Pemprov Sumsel Panggil Pertamina

Sabtu, 22/09/2012

NERACA

Kelangkaan BBM di Sumsel juga terjadi sejak Mei lalu. Sehingga banyak warga yang menyampaikan pengaduan soal kelangkaan BBM itu. Banyaknya keluhan masyarakat terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Provinsi Sumsel itu, disikapi serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Pada Rabu (9/5) lalu Pemprov Sumsel memanggil jajaran Pertamina.

Asisten II Setda Sumsel Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Eddy Hermanto mengatakan, dirinya sudah menindaklanjuti informasi kelangkaan BBM di sejumlah daerah di Sumsel dengan melakukan pemantauan langsung.

Untuk mengetahui dan mencari solusi dari kelangkaan BBM ini, pihaknya bertemu dengan jajaran Pertamina, BP Migas, pejabat kabupaten/kota, dan instansi terkait lain.

“Kita minta penjelasan apa sebab terjadi kelangkaan BBM di beberapa daerah di Sumsel. Apakah minyaknya yang kurang atau karena masyarakat beli lebih dari biasanya,” ujar Eddy saat ditemui, Kamis (3/5).

Menurut Eddy, Pemprov Sumsel sudah menyiapkan surat undangan ke Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di masing-masing kabupaten/kota untuk mendata alokasi BBM di daerah masing-masing. Pendataan itu untuk mengetahui secara pasti apakah distribusi sesuai kuota atau tidak.

”Dengan data yang masuk, maka informasi dari daerah ini kita pertanyakan kepada Pertamina. Kenapa bisa terjadi begini,” ujarnya.

Menurut Eddy, sejauh ini Pemprov Sumsel belum bisa mengambil langkah lebih lanjut untuk menuntaskan persoalan kelangkaan BBM. Sebab, pihaknya belum mengetahui secara pasti indikasi penyebab kelangkaan BBM tersebut.

”Karena itu, kami dengarkan dulu apa penjelasan dari pihak Pertamina. Kalau sudah tahu, kita tuntut agar bagaimana ke depan tidak terulang lagi,” jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kelangkaan BBM bersubsidi terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Ketika itu, kelangkaan ini terjadi sejak beberapa hari sebelumnya. Seperti misalnya di Kota Palembang, lantaran banyak SPBU kehabisan BBM, terjadi antrean panjang kendaraan.

Menanggapi hal tersebut, Asisten Manajer Pertamina Fuel Retail Marketing Region II Sumbagsel, Robert MV, mengatakan, pihaknya hanya memasok BBM sesuai kuota yang dimiliki setiap daerah.

Kebijakan tersebut dilakukan agar kuota BBM bersubsidi tetap dapat disalurkan hingga akhir tahun. Sebab, realisasi BBM bersubsidi pada April lalu melebihi kuota cukup banyak. Premium dari kuota April yang hanya 53.152kl, namun yang tersalurkan mencapai 69.420kl atau 131 persen. Sedangkan solar, dari kuota 44.864kl, tersalur 47.090kl atau 105 persen.

”Kalau tidak diambil kebijakan pembatasan ini, kuota yang ada tidak akan mencukupi kebutuhan hingga Desember nanti. Kelebihan tiap bulan akan mengambil kuota bulan berikutnya,” ujar Robert.

Mengenai adanya anggapan SPBU ada pengurangan dari Pertamina, Robert menegaskan, Pertamina tidak pernah mengurangi distribusi BBM ke SPBU. Namun yang terjadi saat ini adalah kuota yang ditetapkan pemerintah pusat ke daerah yang berkurang, dan Pertamina tidak bisa menyalurkan BBM bersubsidi di atas kuota yang ditetapkan pemerintah pusat.

”Salah besar kalau ada isu kita mengurangi distribusi BBM ke SPBU. Untuk Sumsel kuotanya memang berkurang. Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang cukup baik mengakibatkan jumlah pemilik kendaraan bertambah, itu juga mengakibatkan konsumsi BBM meningkat,” bebernya.

Robert menuturkan, kelangkaan BBM di SPBU juga bisa dikarenakan faktor lain, misal adanya pengerit dan pengecer. Biasanya, para pengerit memangsa dan merugikan masyarakat banyak. Pasalnya, dalam sehari mereka bisa membeli premium dalam jumlah ribuan liter dengan cara memodifikasi tangki minyak kendaraannya.

”Tapi, kami tidak bisa menindak kecurangan itu, karena yang bertanggung jawab menindak pelaku adalah polisi. Pertamina hanya menyalurkan saja,” tuturnya.

(agus/dbs)