Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Pembatasan BBM

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Hari-hari belakangan ini, beberapa stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) di sekitar Jakarta mulai kehabisan bahan bakar cair itu. Hal itu terjadi di SPBU yang terletak di Modernland. Sedangkan di Cipondoh Raya, justru BBM jenis Pertamax yang habis. Mungkin di daerah pinggiran Jakarta hal serupa itu juga terjadi. Namun kejadian seperti itu sudah terjadi di beberapa daerah sejak beberapa bulan lalu seperti di Kalimantan dan Sumatera.

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi akan mengeluarkan peraturan yang membatasi kendaraan membeli bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dan solar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

BPH Migas mengatakan, pembatasan tersebut dilakukan untuk menekan kelebihan penjualan premium dan solar terhadap kuota APBN-P yang sekarang sudah terjadi.

Lembaga itu mengatakan setiap mobil yang mengisi premium di SPBU dibatasi maksimal 10 liter per hari. Dengan demikian, kalau biasanya satu mobil mengisi 20 liter, bisa untuk dua mobil, sehingga pemakaiannya lebih merata.

Aturan pembatasan sedang disusun oleh lembaga itu dan akan keluar dalam waktu dekat.

Sebenarnya, sejumlah daerah seperti di Kalimantan sudah mengeluarkan peraturan penjatahan pemakaian BBM tersebut.

Pembatasan akan dimulai di DKI Jakarta dan selanjutnya akan diterapkan secara nasional. Pembatasan seperti itu memang perlu dilakukan, karena apabila tidak segera diterapkan, maka angka pertumbuhan ekonomi—yang salah satu indikatornya adalah inflasi akibat subsidi BBM—akan tergerus. Pemerintah pada 2012 ini menargetkan angka pertumbuhan ekonomi bisa di atas 6%.

Namun konsumsi BBM bersubsidi yang diperkirakan melebihi kuota 40,4 juta kiloliter (KL), dampaknya bisa memberatkan APBN dan menekan angka pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu menambal sekitar Rp 45 triliun, sehingga diperlukan langkah konkret guna menyelesaikannya.

Apabila tidak ada tindakan nyata subsidi bisa membengkak hingga Rp 45 triliun dan ini memberatkan.

Memang ada dugaan bahwa kelebihan konsumsi BBM bersubsidi ini, karena akibat penyalahgunaan di daerah. berupa penyelewengan penggunaan BBM bersubsidi ini untuk mobil industri dan perkebunan.

Penyelewengan penggunaan BBM bersubsidi di daerah ini harus ditindaklanjuti pemerintah daerah dengan menginstruksikan bahwa BBM bersubsidi hanya boleh dipakai oleh masyarakat yang memang berhak.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Diminta Waspadai Ketidakpastian 2018 - MESKI PERTUMBUHAN EKONOMI 3 TAHUN TERAKHIR POSITIF

Jakarta-Meski pertumbuhan ekonomi dalam tiga tahun terakhir menunjukkan tren cukup positif, pemerintahan Jokowi-JK tetap harus fokus terus membenahi masalah ketimpangan…

Nilai Tambah dalam Ekonomi dan Industri

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Lama sudah kita menenggelamkan diri dalam persoalan ekonomi. Kegiatan dan proses…

Media Asing Soroti Kebijakan Polkam dan Ekonomi RI

NERACA Jakarta - Hasil riset yang dilakukan oleh Indonesia Indicator (I2) menyebutkan, kinerja Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) yang telah melewati…

BERITA LAINNYA DI

Brio Satya Jadi Model Terlaris Honda Pada September 2017

Honda mencatatkan angka penjualan kendaraan sebanyak 15.112 unit sepanjang bulan September 2017. Penjualan tersebut didukung beberapa model andalan, terutama Brio…

Diskon Besar

Federasi pembuat mobil Jerman memperkirakan adanya kenaikan penjualan mobil tahun 2017 menyusul langkah cepat konsumen untuk membeli mobil baru yang…

Crown Rancangan Ulang Dipamerkan di Tokyo Motor Show

Toyota Motor Corporation (TMC) dijadwalkan akan memamerkan Crown Concept, sedan mewah Toyota yang dirancang ulang dari nol, di Tokyo Motor…