Keaksaraan Dapat Wujudkan Perdamaian

NERACA

Negara-negara yang mengalami konflik diperkirakan ditempati oleh lebih dari 40% penduduk putus sekolah usia sekolah dasar yang minim dalam pemahaman keaksaraan.

8 September 1964 telah ditetapkan UNESCO sebagai Hari Aksara Internasional. Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi.

Berdasarkan Konferensi Tingkat Menteri Negara-negara Anggota PBB pada 17 November 1965 di Teheran, Iran, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) menetapkan tanggal 8 September sebagai Hari Aksara Internasional (International Literacy Day). Mengingat masih tingginya jumlah penduduk tuna aksara di dunia, UNESCO mencanangkan Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa-Bangsa atau UNLD (United Nations Literacy Decade) 2003-2012.

Dekade peningkatan penduduk global ini dibagi atas lima tema, yaitu: 1. Keaksaraan dan Gender (2003-2004); 2. Keaksaraan dan Pembangunan Berkelanjutan (2005-2006); 3. Keaksaraan dan Kesehatan (2007-2008); 4. Keaksaraan dan Pemberdayaan (2009-2010); dan 5. Keaksaraan dan Perdamaian (2011-2012).

Keaksaraan sangat dibutuhkan untuk menjamin perdaiaman. Data Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) menunjukkan, negara-negara yang mengalami konflik diperkirakan ditempati oleh lebih dari 40 % penduduk putus sekolah usia sekolah dasar yang minim dalam pemahaman keaksaraan.

Menteri Nuh mengatakan, di tingkat internasional saat ini masih bisa disaksikan adanya berbagai gejolak. Hubungan antara keaksaraan dan perdamaian terlihat makin nyata antara lain ditunjukkan bahwa beberapa negara yang mengalami gejolak dan kekerasan yang berkepanjangan cenderung memiliki tingkat keaksaraan yang terendah di dunia.

Oleh sebab itu, lanjut Nuh, konflik tetap menjadi salah satu hambatan utama dalam pencapaian Pendidikan untuk Semua (PUS) dan pembangunan milenium atau Millennium Development Goals (MDGs’).

HAI ke-47 bertema “Aksara Membangun Perdamaian dan Karakter Bangsa”. Adapun subtema peringatan ini adalah “Melalui Peringatan HAI ke-47 Kita Tingkatkan Nilai Ke-Indonesiaan yang Berbudaya Damai dan Berkarakter”. Tema ini diharapkan dapat mengingatkan kembali serta memberi inspirasi tentang kesungguhan upaya penyelenggaraan pendidikan keaksaraan sebagai fondasi gerakan membangun manusia berkarakter dan berbudaya damai.

BERITA TERKAIT

Wakil Ketua MPR RI - Demokrasi Ikhtiar Wujudkan Cita-cita Bangsa

Mahyudin Wakil Ketua MPR RI Demokrasi Ikhtiar Wujudkan Cita-cita Bangsa Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Mahyudin mengatakan demokrasi merupakan…

Dunia Usaha - Produksi Karet Dapat Bertambah Lewat Peningkatan Produktivitas

  NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha mengatakan, produksi karet nasional masih dapat bertambah…

Dinilai Bukan Kantor Akuntan Publik - Lembaga Ernst & Young Dapat Dikenakan Pidana

NERACA Jakarta-  Di balik keberhasilan PT Ernst And Young Indonesia (PTEY) melakukan audit investigatif terhadap laporan kinerja keuangan PT Tiga…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Pentingnya Peran Peneliti untuk Mitigasi Bencana

  Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sri Sunarti Purwaningsih menilai pentingnya peran peneliti dan…

Perlukah Fatwa Haram untuk Games PUBG?

      Games Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) semakin banyak menjadi perbincangan. Selain di kalangan anak muda yang gemar…

Pendidikan Swasta Perlu Diperkuat

    Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rhenald Kasali melihat laporan bank Dunia tentang indeks Modal Insani 2018 menguatkan…