Menghutankan Lahan Kritis

Sabtu, 22/09/2012

NERACA

Kolaborasi pemerintah dengan BUMN dan swasta dalam menghutankan lahan kritis diharapkan dapat memperbaiki lahan kritis di Tanah Air yang kini seluas 90 juta hektare.

Saat ini, kondisi hutan di Indonesia sangat memprihatinkan. Luas kawasan hutan di Indonesia yang mencapai 94.432.000 ha, tinggal 10% saja yang memiliki kondisi masih baik, selebihnya mengalami kerusakan yang sangat parah.

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengungkapkan, hutan di Indonesia sudah melampaui batas kerusakan atau kritis. “Kondisi hutan yang kritis sebanyak 90 %, sementara 10 % hutan yang masih utuh tidak boleh ditebang lagi,''jelasnya.

Menurut dia, 90 % hutan yang kritis itu disebabkan oleh pembalakan liar yang merajalela.

Untuk itu, Kementerian Kehutanan meminta bantuan badan usaha milik negara (BUMN) maupun perusahaan swasta agar terus melakukan penghijauan melalui program CSR mereka.

Menanggapi anjuran pemerintah tersebut, PT Semen Gresik (Persero) melakukan penghutanan lahan seluas 800 hektare di Jawa Timur, sebagai pengganti lahan kapur 400 hektare di Kabupaten Tuban yang dijadikan bahan baku pabrik semen Tuban IV milik BUMN tersebut.

Hal itu dilakukan karena Semen Gresik memanfaatkan lahan kapur 400 hektare di kawasan hutan jati yang dikelola Perum Perhutani di Kab. Tuban. Pemanfaatan lahan tersebut merupakan pinjam pakai, yang kelak dikembalikan lagi ke Perum Perhutani manakala kandungan kapurnya telah dieksplorasi.

Hal serupa juga dilakukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu. Bekerjasama dengan Taman Nasional Kerinci Seblat Bengkulu pada 2012 akan menghijaukan kawasan hutan seluas 5 ribu hektare yang selama ini dirambah warga untuk ditanami kelapa sawit, kopi dan karet.

Kawasan seluas 5 ribu hektare tersebut tersebar dibeberapa kabupaten antara lain di Bengkulu Utara, Kabupaten Seluma dan Rejang Lebong yang membutuhkan bibit 120 juta batang.