Menjaga Kelestarian Satwa Langka

Orangutan Kian Tergusur dari Habitatnya

Sabtu, 22/09/2012
Upaya relokasi orangutan ke habitat baru berhasil dilakukan atas kerja sama pemerintah, akademisi, dan perusahaan swasta. NERACA Orangutan adalah kera besar dengan lengan panjang dan berbulu kemerahan atau cokelat, yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Spesies orangutan sumatera(Pongo abelii)dan orang utan kalimantan(Pongo pygmaeus)sepenuhnya dilindungi berdasarkan undang-undang. Namun spesies yang memiliki kekerabatan dekat dengan manusia pada tingkatkingdom animalia, di mana orang utan memiliki tingkat kesamaan DNA sebesar 96.4% ini sedang di ambang kepunahan. Hal ini terjadi akibat pembukaan lahan yang berlebihan. Dalam waktu kurang dari 20 tahun, Orangutan telah kehilangan 80% wilayah habitatnya. Ancaman terbesar yang tengah dialami oleh orangutan adalah habitat yang semakin sempit karena kawasan hutan hujan yang menjadi tempat tinggalnya dijadikan sebagai lahan kelapa sawit, pertambangan dan pepohonan ditebang untuk diambil kayunya. Sehingga tidak sedikit orangutan yang terjebak di kawasan perkebunan sawit, HTI dan pertambangan. “Orangutan terjebak itu disebabkan oleh aktivitas 'land clearing' atau pembukaan lahan sehingga habitatnya terbuka,” kata peneliti dari Pusat Penelitian Hutan Tropis (PPHT) Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur Dr Yaya Rayadin. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami berkurangnya jumlah hutan tropis terbesar di dunia. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan berkurangnya laju deforestasi. Sekitar 15 tahun yang lalu, tercatat sekitar 1.7 juta hektare luas hutan yang terus ditebang setiap tahunnya di Indonesia, dan terus bertambah pada tahun 2000 sebanyak 2 juta hektare. Penebangan legal dan ilegal telah membawa dampak penyusutan jumlah hutan di Sumatera.Pembukaan hutan sebagai ladang sawit di Sumatra dan Kalimantan juga telah mengakibatkan pembabatan hutan sebanyak jutaan hektare, dan semua dataran hutan yang tidak terlindungi akan mengalami hal yang sama nantinya. Menurut Yaya Rayadi, pembukaan lahan yang sangat luas itu membuat habitat orangutan terbuka. Akibatnya, primata yang hidup di kantong-kantong habitat ini cenderung mencari cekungan atau sumber air dan terpaksa bertahan hidup melalui sumber-sumber makanan yang semakin menipis. “Bahkan, ada juga yang masuk ke kawasan pemukiman dan inilah yang menjadi tugas tim Satgas Penyelamat Orangutan untuk mencari dan mengarahkan ke areal relokasi," kata Yaya Rayadin. Berdasarkan penelitian, Yaya Rayadi mengatakan, sekitar 30 ekor orangutan Kalimantan terjebak di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI). Sedangkan secara keseluruhan, yakni di kawasan perkebunan sawit, HTI dan pertambangan, pihaknya memperkirakan sekitar 100-an ekor orangutan yang terjebak. Relokasi Orangutan Pada 2 September 2012, Satgas Penyelamat Orangutan dari PT Surya Hutani Jaya dan PT Sumalindo Hutani Jaya II berhasil menyelamatkan tiga individu orangutan. Atas kerja sama antara Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Universitas Mulawarman, Sinarmas Forestry (SMF) dan Asia Pulp & Paper Group (APP), orangutan yang masing-masing diperkirakan berusia 20 hingga 25 tahun dan 10 tahun serta satu bayi diperkirakan berusia 1 tahun telah direlokasi ke habitatnya di Taman Nasional Kutai. Tempat tinggal baru mereka berada di “Zona Rimba” Taman Nasional Kutai, setelah mempertimbangkan aspek ekologi, populasi, kemudahan akses dan kajian keamanan dalam area tersebut yang telah dilakukan oleh Dr. Yaya Rayadin dari Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman. Program relokasi orangutan dari area konsesi PT Surya Hutani Jaya (PT SRH) dilakukan denga didampingi oleh ahli dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur dan satgas pemasok kayu pulp APP. “Memastikan bahwa spesies langka ini mampu berkembang biak dalam lingkungan yang aman merupakan aspek penting dalam program ini. Orangutan akan direlokasi ke Taman Nasional dan kesejahteraan mereka akan terus dipantau untuk memastikan bahwa mereka dapat beradaptasi dengan baik di tempat tinggal baru mereka,” Direktur Corporate Affairs and Communication APP Suhendra Wiriadinata. Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan, Dr Novianto Bambang Wawandono, memberikan penghargaan terhadap inisiatif tersebut. Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian dari skala besar, jangka panjang dari konservasi program in-situ, yang merupakan upaya dari sebuah tim yang berasal dari beberapa pihak. Untuk melengkapi hal ini, pemasok kayu pulp APP telah membangun beberapa koridor satwa liar yang menghubungkan area konservasi dengan wilayah Taman Nasional Kutai. Inisiatif ini merupakan bagian dari program besar yang direncanakan oleh APP untuk memastikan kesejahteraan orangutan Indonesia, termasuk di dalamnya program Friends of Orangutan yang bekerjasama dengan Orangutan Foundation Interntional (OFI) dan Yayasan Orangutan Internasional Kalimantan (YOIK) yang telah dilaksanakan sejak bulan November 2011. Selain itu, program tersebut juga merupakan kelanjutan dari pelatihan"Zero Tolerance Policy on Harming Endangered Animals"terhadap 300 orang karyawan APP dan pemasok kayunya untuk menerapkan praktek terbaik dalam melindungi satwa langka.