Pemulihan Ekonomi Dunia, IHSG Akhir Tahun Diyakini Tembuh 4.400

Rabu, 19/09/2012

NERACA

Jakarta – Masih berfluktuasinya pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), rupanya tidak menyulutkan keyakinan analis bila indeks BEI akhir tahun nanti di proyeksikan menembus level 4.400 poin.

Direktur Utama PT Danareksa Invesment Management, Zulfa Hendri mengatakan, keyakinan terjadinya pemulihan ekonomi di sejumlah negara Eropa dan Amerika Serikat bakal memicu pemulihan IHSG di level tertinggi, “Mengamati perkembangan situasi terkini terkait program pemulihan ekonomi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, serta implikasinya terhadap pasar saham di berbagai negara, kami optimis target IHSG bisa menembus angka 4.400 poin," katanya dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (18/9).

Menurut Zulfa, pada minggu lalu indeks yang mendorong peningkatan IHSG adalah sektor pertambangan, agricultural dan infrastruktur merupakan pendorong utama kenaikan pada minggu yang lalu.

Sedangkan untuk beberapa waktu ke depan seiring terus masuknya likuiditas ke pasar, faktor pendukung level indeks dapat mencapai 4.400 adalah faktor global, yaitu Program Quantitative Easing 3 (QE3) oleh Bank Sentral Amerika untuk menambahkan likuiditas ke perbankan.

Dia menjelaskan, berdasarkan pengalaman pada QE1 dan QE2 dana-dana yang diharapkan mengalir ke perekonomian, namun sebagian justru tersalur ke pasar keuangan baik negara maju, negara berkembang, komoditas dan juga pasar mata uang, “Indonesia secara langsung maupun tidak langsung, adalah salah satu negara tujuan mengalirnya likuiditas tersebut," tegasnya.

Ditambahkannya, pada pekan lalu antisipasi pengumuman program QE menyebabkan Indeks Dow Jones menguat sebesar 2,5% dan indeks S&P 500 naik sebesar 1,9%. Saat yang bersamaan pada perdagangan di BEI (14/9) IHSG mencatat rekor baru yang ditutup di level 4.257 poin.

Adapun bursa saham lainnya di Asia yang turut menguat adalah indeks Hangseng (Hongkong) sebesar 4,5%, indeks Strait Times (Singapura), sebesar 2,1%. Kemudian faktor dalam negeri yang mendorong kenaikan IHSG adalah pertumbuhan ekonomi yang didukung konsumsi masyarakat, dan meningkatnya porsi investasi terhadap terhadap PDB, “Kedepan konsumsi masyarakat Indonesia juga semakin baik dengan semakin membaiknya lapangan kerja dan perekonomian secara umum. Dengan keseimbangan yang baru ini, diharapkan pertumbuhan yang selama ini sudah ada, akan berlanjut untuk jangka menengah," paparnya.

Indonesia merupakan negara yang tepat untuk menerapkan "growth investing", yang didukung fakta bahwa perusahaan-perusahaan yang tercatat di BEI masih mempunyai profil pertumbuhan pendapatan dan laba yang baik ke depan.

Reksadana Sama halnya dengan saham, portofolio reksadana juga diyakini memberikan tingkat pengembalian yang jauh lebih tinggi. Zulfa mengatakan, salah satu reksadana yang dikelola Danareksa Investment Management adalah "Danareksa Mawar Konsumer 10" yang telah menunjukkan kinerja sangat baik.

Sejak awal tahun 2012 reksadana ini telah memberikan pengembalian sebesar 17,5%. Adapun reksadana saham lainnya yang dikelola juga akan membaik karena telah dirancang lebih agresif mengantisipasi kelanjutan kenaikan pasar sejak awal bulan lalu. "Potensi kenaikan pasar secara umum hingga tahun depan masih cukup besar dan investor pun dapat menaikkan porsi investasinya secara bertahap."jelasnya. (bani)