Dinilai Tidak Likuid, Investor Acuhkan Produk KIK EBA

BEI Dinilai Kurang Sosialisai

Rabu, 19/09/2012

NERACA

Jakarta – Sepanjang perjalanan industri pasar modal, belum banyak pelaku pasar saham mengetahui instrument investasi Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) di Bursa Efek Indonesia. Alhasil, produk yang satu ini sepi peminat.

Direktur Manajemen Risiko dan Teknologi Informasi PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) Trisnaldi Yurisman mengatakan, saat ini peminat produk KIK EBA masih sepi dan padahal produk tersebut bukan termasuk instrumen baru dalam investasi, “Seharusnya KIK EBA bisa menjadi alternatif investasi bagi investor selain saham dan obligasi,”katanya di Jakarta, Selasa (18/9).

Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan masih minimnya jumlah investor dan penerbit (originator) yang bersedia mensekuritisasi aset keuangan berupa tagihan untuk menjadi produk KIK-EBA, meskipun produk tersebut telah mendapat peringkat idAAA.

Pada dasarnya, produk KIK EBA dinilai berprospek jika dibandingkan dengan obligasi korporasi dengan rating yang sama atau SUN. Pasalnya, kupon yang ditawarkan sangat kompetitif lebih dari 8,75%.

Oleh karena itu, lanjut Trisnaldi, agar instrument ini bisa menarik bagi investor harus lebih banyak lagi upaya menyakinkan investor secara lebih luas dan terbuka. Keunggulan lain dari produk ini, cukup bisa menjamin karena sumber pembayarannyanya berdasarkan underlying aset atau cicilan KPR.

Selain itu, produk yang dipilih merupakan produk yang berkualitas dari sisi kredit dan nilai NPL. “Aset keuangan yang menjadi aset dasarnya juga harus terlepas dari risiko kepailitan kreditur awal, serta adanya seleksi yang sangat ketat terhadap aset yang akan disekuritisasi,” tuturnya.

Tidak Siap Originator

Sementara Direktur PT Buana Capital, Lydia Trivelly Azhar mengatakan, ada beberapa alasan kenapa produk KIK-EBA kurang likuid ditransaksikan di BEI. Sebut saja, minimnya pemahaman investor akan produk KIK EBA dan ditambah ketidaksiapan originator menanggung risiko menjadi kendala utama produk ini susah di pasarkan.

Dia menegaskan, pihak BEI dituntut untuk secara masif melakukan sosialisasi agar produk ini dapat likuid dan ditransaksikan investor di masa mendatang, “Setiap perusahaan yang berminat untuk menjadi penerbit pasti memperhitungkan aspek risiko dan kesiapan aset keuangan untuk dijadikan aset dasar bagi produk KIK-EBA. Masih minim peminat karena tidak banyak yang bersedia menanggung risikonya,”ungkapnya.

Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), sepanjang 2012 total sekuritisasi dari empat produk KIK-EBA baru mencapai Rp 1,95 triliun. Keempat produk EBA tersebut adalah Danareksa SMF I-KPR BTN, Danareksa SMF II-KPR BTN, Danareksa BTN01-KPR dan Danareksa BTN02-KPR.

Vice President, Agency and Trust, Asia Pacific Citi Transaction Services, Fiona Kwok menjelaskan, ada beberapa manfaat baik untuk pihak penerbit yang mensekuritisasi asetnya serta manfaat bagi investor yang dari bertransaksi KIK-EBA.

Dia menyebutkan, manfaat bagi penerbit adalah membuat aset piutang yang menjadi aset dasarnya dari tidak likuid menjadi likuid untuk dicairkan, menyediakan alternatif pendanaan, memungkinkan transfer risiko kepada investor serta aset dapat dihapuskan dari neraca pihak penerbit.

Sedangkan manfaat bagi investor yang bertransaksi EBA adalah selain menghasilkan keuntungan dari transaksi juga memiliki keamanan dalam melakukan transaksi tanpa ada risiko gagal bayar (default) karena kinerja dari transaksinya ditentukan berdasarkan kualitas dari aset yang telah disekuritisasikan. “Selain itu, dengan adanya sekuritisasi aset maka akan membuka peluang investasi di produk baru, serta dapat diperdagangkan di pasar sekunder,” ujarnya.

Selain KPR, beberapa aset keuangan berupa tagihan yang dapat disekuritisasikan adalah aset pesawat yang disewakan, aset kredit kendaraan bermotor, kartu kredit, waralaba pinjaman, ekuitas rumah, piutang usaha, komersial hipotik perumahan. (lia)