Konflik Cina-Jepang Lemahkan Rupiah

NERACA

Jakarta--Mata uang rupiah pada Selasa sore bergerak tertekan terhadap dolar AS sebesar 42 poin dipicu oleh konflik antara China dan Jepang yang dapat mengancam perekonomian Asia. "Konflik itu akan membuat pasar berisiko terutama di Asia Pasifik kurang diminati investor asing untuk menempatkan dananya,” kata Pengamat pasar Milenium Danatama Sekuritas Abidin di Jakarta,18/9

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa sore bergerak melemah sebesar 42 poin menjadi Rp9.502 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.460 per dolar AS.

Menurut Abidin, konflik China dan Jepang dapat mengurangi minat investor masuk ke pasar Asia, kondisi itu membuat waspada investor sehingga cenderung kembali masuk ke dalam dolar AS. “Kondisi itu yang menjadi salah satu katalis nilai tukar domestik melemah terhadap dolar AS," tambahnya

Lebih jauh Abidin menambahkan, konflik itu diperkirakan berlangsung lama mengingat hal itu baru terjadi, dengan begitu sentimen negatif akan bertambah selin dari Eropa. "Selain sentimen negatif dari Eropa, kondisi di Asia akan membayangi juga," jelasnya

Dikatakan Abidin, meredanya eforia pelonggaran kuntitatif (QE) tahap ketiga yang dilakukan the Fed pekan lalu juga sudah mulai mereda. "Mulai meredanya eforia QE tahap ketiga itu membuat investor uang mengambil posisi 'profit taking' (ambil untung)," tukasnya

Sementara itu, pengamat pasar uang dari Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menambahkan, konflik China dan Jepang akan bergeser ke isu ekonomi. "China mengancam memberikan sanksi dagang terhadap Jepang terkait keputusan Jepang membeli tiga pulau di Luat Cina Timur yang diklaim milik China," terangnya

Dosen FEUI ini menegaskan jika sanksi diberikan kepada Jepang maka negara itu akan kehilangan hampir 20 persen dari nilai ekspornya ke China. China merupakan negara mitra dagang utama Jepang.

Pada pagi hari, rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS sebesar 23 poin seiring eforia pelonggaran kuantitatif (QE) yang mulai mereda. Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa pagi bergerak melemah sebesar 23 poin menjadi Rp9.483 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.460 per dolar AS. "Eforia QE tahap tiga berakhir. Pasar global kembali khawatir dengan Uni Eropa (UE), kondisi itu akan berdampak negatif terhadap pasar Asia," ungkap Lana

Malah Lana menambahkan, dengan kembali munculnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap dolar AS, diperkirakan rupiah mempunyai potensi pelemahan pada hari. "Apalagi, saat ini belum ada sentimen yang terlalu kuat dari dalam negeri," ucapanya

Meski demikian, lanjut Lana, masih masuknya dana asing ke dalam negeri akan menahan tekanan nilai tukar domestik terhadap dolar AS. "Masuknya dana asing yang mencari 'return' ke Indonesia dapat menjadi salah satu faktor penahan rupiah tertekan terhadap dolar AS," tambahnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…