Masih Dihantui Aksi Jual, IHSG Bergerak Konsolidasi

Rabu, 19/09/2012

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup terkoreksi ambles 31,389 poin (0,74%) ke level 4.223,894. Sementara Indeks LQ45 ditutup terkoreksi 5,300 poin (0,72%) ke level 727,569.

Aksi ambil untung investor terhadap saham-saham unggulan menjadi pemicu pelemahan indeks. Seluruh indeks sektoral terkena aksi ambil untung, seluruhnya kompak melemah dipimpin oleh saham-saham tambang. Jatuhnya harga-harga komoditas dunia menjadi pemicu aksi jual di saham-saham ini.

Analis Milenium Danatama Sekuritas Abidin mengatakan, IHSG terkoreksi mengikuti pergerakan bursa regional yang berada di area negatif. "Pelemahan IHSG dipicu dari bursa regional. Sentimen eksternal yang mendorong pelemahan bursa salah satunya konflik antara China dan Jepang," katanya di Jakarta,Selasa(18/9).

Diperkirakan dia, konflik itu akan berlangsung lama sehingga membuat investasi di pasar Asia Pasifik kurang diminati investor asing. Selain itu, lanjut dia, pelemahan IHSG juga dipicu dari aksi ambil untung investor setelah harga saham pada hari sebelumnya meningkat cukup signifikan.

Sementara analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono menambahkan, IHSG mengalami koreksi cukup dalam. Berlanjutnya aksi "profit taking" memanfaatkan sentimen dari bursa AS yang ditutup melemah karena pembicaraan mengenai krisis utang Eropa menemui jalan buntu.

Selain itu, lanjut dia, sentimen negatif juga datang dari data manufaktur negara bagian New York. Menteri keuangan negara Uni Eropa dalam pertemuannya pada akhir pekan kemarin gagal menyepakati jadwal terkait penyatuan sektor perbankan dan juga ketidaksamaan persepsi terkait persyaratan dana bantuan serta tugas dari ECB.

Berikutnya, indeks Rabu diperkirakan bergerak konsolidasi dengan kisaran 4.185-4.232 poin. Tercatat perdagangan Selasa sore berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 121.029 kali pada volume 5,011 miliar lembar saham senilai Rp 8,573 triliun. Sebanyak 76 saham naik, sisanya 167 saham turun, dan 87 saham stagnan.

Volume dan nilai transaksi di lantai bursa terdongkrak tinggi akibat Etisalat International Indonesia Limited melepas saham PT XL Axiata Tbk (EXCL) senilai Rp 4,9 triliun. Transaksi tutup sendiri (crossing) difasilitasi oleh JP Morgan Securities (BK) di pasar negosiasi.

Perdagangan kemarin, bursa-bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak melemah di teritori negatif. Pelaku pasar regional juga mencoba ambil untung dari posisi indeks Asia yang rata-rata sudah naik tinggi akhir pekan lalu.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Hexindo (HEXA) naik Rp 850 ke Rp 8.800, Multi Prima (LPIN) naik Rp 500 ke Rp 9.150, SMART (SMAR) naik Rp 400 ke Rp 7.400, dan Lion Metal (LION) naik Rp 250 ke Rp 10.000.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Sarana Menara (TOWR) turun Rp 3.650 ke Rp 16.650, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 500 ke Rp 52.250, Ace Hardware (ACES) turun Rp 500 ke Rp 6.200, dan Mayora (MYOR) turun Rp 450 ke Rp 21.050.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup melemah 16,873 poin (0,40%) ke level 4.238,410. Sementara Indeks LQ45 melemah 3,410 poin (0,47%) ke level 729,459. Investor mulai memetik hasil investasinya yang sudah ditanamkan hingga akhir pekan lalu. Posisi indeks yang sudah sangat tinggi menggoda investor untuk mencairkan dana.

Hampir seluruh sektor industri terkena aksi ambil untung, contohnya saham-saham konsumer dan komoditas. Turunnya harga komoditas dunia juga menjadi alasan untuk melepas saham-saham ini. Indeks sektor infrastruktur dan aneka industri masih bisa menguat akibat aksi beli. Sedangkan delapan sektor lainnya terpuruk di zona merah. Mulai pudarnya euforia stimulus The Fed dan ECB juga akan membuat pelaku pasar mundur sejenak.

Perdagangan berjalan moderat dengan frekuensi transaksi mencapai 63.883 kali pada volume 2,665 miliar lembar saham senilai Rp 6,363 triliun. Sebanyak 74 saham naik, sisanya 134 saham turun, dan 77 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Multi Prima (LPIN) naik Rp 400 ke Rp 9.050, BFI Finance (BFIN) naik Rp 250 ke Rp 2.300, Surya Toto (TOTO) naik Rp 200 ke Rp 7.050, dan Indocement (INTP) naik Rp 200 ke Rp 20.500.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Unilever (UNVR) turun Rp 450 ke Rp 27.550, Semen Gresik (SMGR) turun Rp 450 ke Rp 13.650, Bukit Asam (PTBA) turun Rp 450 ke Rp 16.150, dan Mayora (MYOR) turun Rp 450 ke Rp 21.050.

Kemudian diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 7,91 poin atau 0,19% ke posisi 4.247,37. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,02 poin (0,27%) ke level 730,85, “Bursa regional dibuka mixed dengan kecenderungan terkoreksi memfaktorkan 'profit taking' di bursa global serta penurunan harga komoditas dunia," kata analis Samuel Sekuritas Adrianus Bias.

Dia menambahkan, IHSG turut mengalami tekanan aksi ambil untung (profit taking) seiring minimnya sentimen positif baru baik dari domestik maupun regional. Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng menguat 0,14 poin (0,01%) ke level 20.658,25, indeks Nikkei-225 naik 14,15 poin (0,15%) ke level 9.173,54, dan Straits Times melemah 5,83 poin (0,22%) ke level 3.071,89.(bani)