Sosialisasi Terus Ditingkatkan

Upaya Membangun Hidup Sehat

Sabtu, 29/09/2012

NERACA

Program Gerakan 21 Hari (G21H) Lifebuoy dapat menjadi acuan semua pihak dalam melakukan edukasi dan sosialisasi cuci tangan pakai sabun (CTPS) agar kebiasaan sehat tersebut terbentuk di masyarakat.

Sedangkan dari hasil riset lembaga penelitian independen global, Taylor Nelson Sofres (TNS), Rabu (12/09) mengatakan, “G21H Lifebuoy menunjukkan ada peningkatan kebiasaan CTPS selama periode penelitian yang menunjukkan perubahan perilaku yang berkelanjutan,” tuturnya.

Sedangkan, Director of Brand Building Skin & Cleansing, PT Unilever Indonesia Tbk, Eva Arisuci Rudjito mengatakan, komitmen PT Unilever Indonesia, untuk terus melakukan edukasi dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) agar perilaku CTPS menjadi kebiasaan sehari-hari direalisasikan melalui G21H Lifebuoy. “CTPS upaya promotif dan preventif untuk mencegah masalah kesehatan seperti diare yang masih menjadi persoalan di dunia,” kata dia.

Saat ini secara global kebiasaan CTPS masih tergolong rendah dan diare dilaporkan termasuk penyebab utama anak-anak di dunia kehilangan nyawa. Penelitian London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSHTM) di Ghana, India, Madagaskar, Kyrgistan, Senegal, Peru, China, Tanzania, Uganda, Vietnam, Kenya, menunjukkan kebiasaan masyarakat untuk melakukan CTPS di saat-saat penting masih rendah.

Akibatnya, tingkat kejadian diare tercatat tinggi di negara tersebut. UNICEF 2012 melaporkan bahwa diare menyebabkan 801.000 anak kehilangan nyawa setiap tahunnya di dunia. Upaya perubahan perilaku cuci tangan pakai sabun menunjukkan hasil yang membahagiakan dengan adanya penurunan angka dari 1.5 juta anak menjadi 801.000 anak. Ini menjadi semangat tersenidiri untuk Lifebuoy untuk terus berupaya untuk menurunkan angka kematian anak yang diakibatkan oleh diare.

Menurut Robert Aunger, pakar penelitian perubahan perilaku dari LSHTM, mengatakan bahwa penelitian di 11 negara menunjukkan banyaknya perbedaan fundamental faktor penyebab masyarakat memulai prilaku cuci tangan pakai sabun. Penelitian menunjukan faktor yang membedakan masyarakat yang telah memiliki kebiasaan cuci tangan pakai sabun dan yang belum memiliki kebiasaan tersebut.

Dengan mengetahui faktor – faktor ini, kita dapat membuat suatu metode yang efektif dan efisien dalam merubah perilaku masyarakat. Faktor pertama, karena aktifitas mencuci tangan sering terjadi, biasanya setiap hari, maka hal itu bisa menjadi kebiasaan.

Kebiasaan tersebut muncul sebagai respon otomatis dari lingkungan yang telah memiliki kebiasaan tersebut, tersedianya fasilitas seperti air dan sabun serta respons biologis bila melihat sesuatu yang kotor. Masyarakat lainnya, memerlukan motivasi. Kami telah menemukan beberapa motif kunci dalam hal ini.

Rasa jijik adalah motif yang melindungi orang dari ancaman infeksi di lingkungan mereka dengan membuat mereka menghindari penyebab penyakit. Motif untuk melindungi anak dari ancaman apapun, juga dapat dimanfaatkan untuk memotivasi perilaku mencuci tangan.

Berikutnya adalah motivasi untuk afiliasi dengan orang lain, yakni jika mereka berpikir bahwa orang lain mencuci tangan dengan sabun adalah hal yang baik, mereka akan melakukan hal yang sama dengan teman-teman dan tetangga mereka.

Terakhir adalah pada masyarakat yang mengutamakan kesopanan, motif mereka adalah berusaha melindungi sesamanya dari kemungkinan penularan penyakit dari dirinya sendiri. Misalnya masyarakat yang ketika mereka bersin, mereka akan menutup mulutnya dengan sapu tangan. Golongan masyarakat ini hampir pasti akan mencuci tangannya dengan sabun ketika tangannya kotor.