Menilik Asal Usul Bekicot

Sabtu, 22/09/2012

NERACA

Mencermati cerita asal muasal Bekicot (Achanita), ternyata hewan ini berasal dari Afrika Timur, lalu tersebar ke seluruh dunia dalam waktu relatif singkat. Karena dapat berkembang biak dengan cepat, Bekicot tersebar ke arah Timur sampai di kepulauan Mauritius, India, Malaysia, akhirnya ke Indonesia.

Sejak tahun 1933, konon Bekicot telah ada di sekitar Kota Jakarta, sumber lain menyatakan bahwa Bekicot jenis Achatina Fulica masuk ke Indonesia pada tahun 1942 (masa pendudukan Jepang).

Hingga kini, sentra peternakan bekicot banyak ditemukan di masyarakat pedesaan Jawa Timur, Bogor (Jawa Barat), Sumatera Utara dan Bali. Bekicot diternakkan umumnya jenis Achatina fulica yang banyak disenangi orang, karena bekicot jenis ini banyak mengandung daging.

Di Eropa, Bekicot jenis ini digunakan sebagai bahan baku makanan yang disebut Escargot. Escargot semula berbahan baku Helix pomatia. Karena Helix pomatia lama kelamaan sulit diperoleh maka Bekicot jenis Achatina Fulica menggantikannya sebagai bahan baku Escargot. Selain pakan ternak Bekicot merupakan sumber protein hewani yang bermutu tinggi karena mengandung asam-asam amino esensial yang lengkap.

Di samping itu, ada pula masyarakat yang menggemari makanan dari bahan baku Bekicot, seperti sate Bekicot, keripik Bekicot, hingga bakso Bekicot.

Bekicot juga kerap dipakai dalam pengobatan tradisional, karena ekstrak daging Bekicot dan lendirnya sangat bermanfaat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti radang selaput mata, sakit gigi, gatal-gatal, jantung dan lain-lain.

Sedangkan kulit Bekicot sangat mujarab untuk penyakit tumor. Sejenis obat yang dikenal berasal dari kulit Bekicot, dinamakan Maulie, dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti kekejangan, jantung suka berdebar, tidak bisa tidur (insomnia), dan leher membengkak.

Daging Bekicot merupakan komoditas ekspor yang menjanjikan, karena harganya yang cukup mahal di pasaran internasional. Kini juga telah banyak berdiri perusahaan-perusahaan pengelola daging Bekicot, yang dapat memperlancar pemasaran sebagai komoditas ekspor.

Namun tidak semua jenis Bekicot cocok dibudidayakan. Dua jenis Bekicot yang biasa diternakkan, yaitu spesies Achatina Fulica dan Achatina Variegata. Ciri Bekicot jenis Achanita Fulica biasanya warna garis-garis pada tempurung atau cangkangnya yang tidak begitu mencolok. Sedangkan jenis Achatina Variegata memiliki warna garis-garis pada cangkangnya tebal dan berbuku-buku.