Indonesia Tak Diminati, Investor Arab Pilih Malaysia

NERACA

Jakarta – Di tengah arus investasi asing yang semakin deras mengalir ke Indonesia, investor asal negara-negara Timur Tengah ternyata belum melirik Indonesia sebagai negara tujuan investasi. Hal ini tercermin jelas dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang menyebutkan, realisasi investasi dari negara-negara Arab hingga akhir 2011 masih relatif kecil atau hanya sekitar US$ 7 juta. Padahal, sebagai sesama negara muslim, tidak ada salahnya jika Indonesia berharap penanaman modal asing (PMA) dari Timur Tengah bisa mengalir lebih deras.

Namun faktanya, jika dibanding Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat, minat investasi negara Arab masih sangat jauh panggang dari api. Dalam catatan BKPM, arus PMA terbesar sepanjang semester I/2012 berasal dari Singapura dengan total investasi mencapai US$ 2 miliar, disusul Jepang (US$ 1,1 miliar), Korea Selatan (US$ 1 miliar), dan Amerika Serikat (US$ 0,7 miliar).

Minimnya minat investasi asal Timur Tengah, menurut Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis, tidak lepas dari kepercayaan investor Arab yang lebih memilih Malaysia ketimbang Indonesia. Menurut dia, jatuhnya pilihan investor Timur Tengah ke Malaysia karena promosinya yang jor-joran di luar negeri.

“Billboard mereka (Malaysia) di Timur-Tengah ada di mana-mana. Iklan di media elektronik seperti Bloomberg, BBC, dan CNN juga sering muncul frekuensinya. Image pun terangkat dan positif,” jelas Azhar kepada Neraca, Senin (17/9).

Oleh karena itu, dia menyatakan jika BKPM sejak dua tahun lalu telah membuka kantor perwakilannya di Abu Dhabi dengan tujuan mengimbangi "ekspansi" promosi negeri Jiran tersebut. Akan tetapi, Azhar membantah kalau Indonesia kalah langkah dari Malaysia, dalam hal berpromosi. “Siapa bilang kita ketinggalan? Nggak ada itu. Tapi saya akui, anggaran mereka lebih besar dan kita kecil,” tegasnya.

Kendati demikian BKPM, lanjut Azhar, akan mengarahkan investor Timur-Tengah ini ke sektor pariwisata, pengolahan tambang dan agribisnis (hilirisasi), dan infrastruktur. “Islamic Development Bank (IDB) sebagai pihak ketiga atau fasilitator bagi investor Arab dengan Indonesia. Kami tidak ingin mereka melakukan akuisisi seperti yang dialami PT Telkom Tbk., beberapa waktu silam. Itu jelek dan merugikan kita karena mengincar perusahaan strategis,” ujarnya.

Malaysia Lebih Menarik

Senada dengan pendapat Azhar, pengamat ekonomi Yanuar Rizky menjelaskan, minimnya PMA dari para investor Timur Tengah disebabkan oleh perbedaan sasaran investasi yang ingin mereka tuju. Karena itu, tak heran jika Malaysia lebih banyak menyerap PMA dari mereka. "Karena Malaysia mempunyai produk syariah yang lebih atraktif. Sedangkan produk syariah kita belum serius dikembangkan dan tidak jelas pijakannya, serta branding Malaysia lebih bagus dari kita," ujarnya.

Seperti memperkuat pendapat Yanuar, pengamat ekonomi UGM, Revrisond Baswir mengatakan, Malaysia memang lebih agresif untuk menarik hati para investor Timur Tengah itu. "Untuk masalah perkebunan sawit, misalnya, Malaysia memang lebih agresif. Atau bisa juga para investor Timur Tengah itu memasukkan dananya dulu ke Malaysia atau Singapura, baru kedua negara ini yang menginvestasikannya di Indonesia. Seperti ketika Temasek Holdings punya Singapura yang akhirnya menjual Indosat ke perusahaan milik pengusaha Timur Tengah," ungkapnya.

Terkait hal ini, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Timur Tengah dan Organisasi Konferensi Islam Fachry Thaib mengutarakan, minimnya minat investor dari Timur Tengah menanam modal ke Indonesia disebabkan karena kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah yang saling bertentangan dan berkurang jelas, sehingga mereka masih menunggu kepastian.

“Salah satu contohnya, ada beberapa proyek juga masih ditangguhkan seperti kilang minyak, pengolahan atau pemurnian logam, bahkan hotel di Lombok terhambat proyek-proyeknya karena kebijakan-kebijakan yang tumpang tindih. Itu baru sedikit dari sekian calon investor yang mengeluhkannya, padahal masih banyak yang mau berinvestasi ke sini,” ungkap Fachry. novi/ardi/ria/munib

BERITA TERKAIT

Wakil Presiden - Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik

Jusuf Kalla Wakil Presiden Ancaman Terbesar Indonesia Bukan Lagi Perang Fisik  Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan tantangan yang…

Menakar Mobil Listrik di Indonesia

Oleh: Fahmy Radhi, Pengamat Ekonomi Energi UGM Setelah beberapa lama dinantikan, Presiden Joko Widodo akhirnya menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang…

Aplikasi Mobile InvestASIK - DIM Bidik Investor Potensial dari Milenial

NERACA Jakarta – Mendukung program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam percepatan literasi keuangan di kalangan anak muda, khususnya industri pasar…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT KENAIKAN IMPOR NONMIGAS - NPI Defisit US$63,5 Juta di Juli 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Juli 2019 terjadi defisit US$ 63,5 juta, yang merupakan…

Presiden Diminta Cermat dan Hati-Hati Pilih Menteri

NERACA Jakarta - Pengamat hukum tata negara dari Universitas Jember Bayu Dwi Anggono berpendapat Presiden Joko Widodo harus berhati-hati dan…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…