Tarian Asli Nusantara yang Memukau Dunia

Perlu Dicatatkan ke Unesco

Sabtu, 22/09/2012

Nusantara memiliki berbagai atraksi seni tari tradisi yang dengan gayanya yang lemah gemulai atau menghentak, ternyata bisa memukau penonton. Atraksi seni tradisi tersebut a.l. Tari Pendet, Reog, Tari Saman dan masih banyak lagi tarian yang tidak bisa disebut satu persatu. Dalam artikel kali ini kita kupas ketiga jenis tarian tersebut. Agaknya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) perlu mencatatkan berbagai khazanah kebudayaan kita tersebut ke Unesco, agar tidak diklaim oleh negeri jiran yang sedang mencari atau bahkan kehilangan identitas budayanya.

Tari Pendet

Tari Pendetpada awalnya merupakantaripemujaan yang banyak diperagakan dipura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para senimanBali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandunganasiryang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalahI Wayan Rindi.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuktarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang,pemangkuspria dan wanita, dewasa maupun gadis. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakan dan jarang dilakukan dibanjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri ini memiliki pola gerak yang lebih dinamis daripadaTari Rejangyang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan. Biasanya ditampilkan setelah Tari Rejang di halamanpuradan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawasangku,kendi,cawan, dan perlengkapansesajenlainnya.

Reog (Ponorogo)

Reogadalah salah satu kesenian budaya yang berasal dariJawa Timur bagian barat-laut danPonorogodianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosokwarokdangemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tarijaran kepangatau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tarikuda lumping.

Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.

Tari Saman

Tari Samanadalah sebuah tariansuku Gayo(Gayo Lues) yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Syair dalam tarian Saman mempergunakanbahasa Arabdanbahasa Gayo. Selain itu biasanya tarian ini juga ditampilkan untuk merayakan kelahiranNabi Muhammad SAW. Dalam beberapa literatur menyebutkan tari Saman di Aceh didirikan dan dikembangkan oleh Syekh Saman, seorang ulama yang berasal dariGayodiAceh Tenggara. Tari Saman ditetapkanUNESCOsebagaiDaftar Representatif Budaya Takbenda Warisan Manusia dalam Sidang ke-6 Komite Antar-Pemerintah untuk Pelindungan Warisan Budaya Tak benda UNESCO di Bali, 24 November 2011.

Tari Saman biasanya ditampilkan tidak menggunakan iringan alat musik, akan tetapi menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah. Tarian ini dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Karena keseragaman formasi dan ketepatan waktu adalah suatu keharusan dalam menampilkan tarian ini, maka para penari dituntut untuk memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat tampil dengan sempurna. Tarian ini khususnya ditarikan oleh para pria.