Rupiah Bisa Menguat Tanpa Intervensi

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta--- Bank Indonesia memprediksi mata uang rupiah akan terus menguat karena mekanisme pasar tanpa adanya intervensi dari otoritas kebijakan moneter tersebut. "Penguatan rupiah beberapa hari terakhir ini terjadi bukan karena intervensi dari Bank Indonesia, semuanya karena mekanisme pasar," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Senin.

Menguatnya rupiah, lanjut Darmin, karena kebijakan "quantitative easing" yang ketiga dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, yang menyebabkan pasokan dolar naik dan pada gilirannya melemahkan mata uang tersebut.

Darmin mengatakan kebijakan bank sentral Amerika Serikat ditambah dengan fundamental ekonomi Indonesia yang sangat baik telah membuat mata uang rupiah menguat. "Nilai 'quantitative easing' kali ini memang kecil dan oleh karena itu dampaknya terhadap negara-negara bergantung kepada fundamental ekonomi masing-masing dan kondisi di Indonesia bagus," ujarnya

Bahkan Darmin memperkirakan tendensi pasar akan terus membuat rupiah menguat. Dari pantauan lapangan, rupiah pada awal pekan bergerak menguat ke posisi Rp9.460 per dolar AS, masih dipicu sentimen AS yang baru melakukan pelonggaran kuantitatif (QE) tahap ketiga.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, bergerak menguat 40 poin menjadi Rp9.460 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.500 per dolar AS. "Saat ini belum ada sentimen yang terlalu kuat dari dalam negeri, penguatan rupiah masih didorong dari kebijakan the Fed yang melakukan 'quantitative easing' (QE) tahap tiga pada pekan lalu," ujar pengamat pasar uang Samuel Sekuritas, Lana Soelistianingsih di Jakarta.

Meski demikian, lanjut Lana, penguatan nilai tukar domestik terhadap dolar AS juga dapat didorong oleh dana asing yang masuk ke Indonesia. “Masuknya dana asing yang mencari 'return' ke Indonesia dapat menjadi salah satu faktor pendorong rupiah meningkat terhadap dolar AS," ucapnya

Lana menambahkan, seiring dengan perbaikan neraca perdagangan Indonesia maka akan terjadi perbaikan terhadap cadangan devisa, kondisi itu juga dapat menjadi salah satu katalis peningkatan rupiah.

Analis pasar uang Bank Himpunan Saudara Ruly Nova menambahkan, langkah the Fed melakukan QE tahap tiga itu memang diharapkan bank sentral seluruh dunia, sehingga kondisi itu membuat nilai tukar berisiko menguat termasuk rupiah.

Ruly menambahkan "quantitative easing" yang dilakukan the Fed itu akan melakukan pembelian obligasi berbasis "mortgage backed securities" senilai 40 miliar dolar AS setiap bulan dan berencana mempertahankan kebijakan suku bunga rendah hingga pertengahan 2015. "Pelonggaran kuantitatif atau QE, akan kian membebani dolar AS karena hal tersebut sama saja dengan mencetak lebih banyak uang," tuturnya

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Senin (17/9) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp9.450 dibanding sebelumnya Rp9.583 per dolar AS. **ria/cahyo