Indonesia Jajaki Bikin Bengkel Otomotif di Afrika

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta - Peluang pasar di benua Afrika masih terus dijajaki Pemerintah Indonesia, beberapa peluang ekspor yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha Indonesia untuk memasok kebutuhan pasar di Afrika antara lain produk-produk pendukung sektor infrastruktur. Selain itu, bidang otomotif di Afrika merupakan peluang yang dapat ditindaklanjuti mengingat jumlah bengkel terus tumbuh secara signifikan dan biaya servis mobil yang cukup tinggi.

Kebutuhan bengkel-bengkel itulah yang kiranya dapat dipenuhi oleh Indonesia, antara lain berbagai keperluan perawatan mobil, aksesoris mobil, suku cadang, dan baterai aki. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan, perlu mengeratkan kembali hubungan Indonesia dengan Kenya dan Tanzania yang sejak tahun 1955 telah memiliki sejarah hubungan politik dan ekonomi sebagai sesama negara anggota Gerakan Nonblok.

“Diharapkan dapat menjajaki peningkatan hubungan ekonomi dan investasi kedua negara. Informasi yang diperoleh dari pemerintah maupun dunia usaha Afrika akan sangat mendukung upaya kita melakukan promosi dan penetrasi pasar dan produk di negara-negara tersebut,” jelasnya melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, Senin (17/9).

Melalui kunjungannya, Deddy berharap para pengusaha Kenya dan Tanzania bisa mendapatkan gambaran terbaru mengenai perkembangan perekonomian, peluang dan potensi investasi Indonesia sehingga ke depan dapat meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi antara Indonesia dan kedua negara tersebut.

Sekalipun ini merupakan kunjungan penjajakan, dari hasil diskusi dengan Pemerintah, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), asosiasi dan pengusaha di kedua negara, dapat dilihat besarnya keinginan masing-masing pihak untuk mempererat dan meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara yang setara dan saling menguntungkan. “Oleh karena itu, kunjungan kedua negara tersebut perlu dilakukan secara reguler baik oleh kalangan bisnis maupun melalui Joint Commision antar pemerintah,” ujarnya.

Sementara, Menteri Perdagangan Kenya Moses Wetang'ula menyatakan, bahwa kunjungan delegasi Indonesia sebagai salah satu upaya meningkatkan kerja sama, mengingat kedua negara memiliki peluang di bidang perdagangan dan investasi yang saling menguntungkan namun belum dioptimalkan oleh kedua belah pihak. Peluang tersebut antara lain di bidang karet, otomotif, serta produk makanan dan minuman.

Selama periode 2007-2011 neraca perdagangan Indonesia dan Kenya menunjukkan pertumbuhan sebesar 64,77 persen, dengan nilai mencapai US$264,71 juta pada tahun 2011. Nilai ekspor nonmigas Indonesia pada tahun 2011 mencapai US$285,33 juta, dengan pertumbuhan selama lima tahun terakhir mencapai 46,89%.

Adapun produk ekspor utama Indonesia ke Kenya diantaranya CPO, industrial monocarboxylic fatty acid, yarn, refrigerators, freezers serta paper and paper products. Sedangkan impor Indonesia ke negara ini mencapai US$25,73 juta pada tahun 2011, yang terdiri dari carbonates, tea, sheep or lamb skins, cotton dan produk-produk farmasi. Meskipun impor Indonesia ke Kenya masih relatif kecil, namun selama lima tahun terakhir tumbuh sebesar 21,23%.