Indonesia Belum Sampai "Overheating"

Impor Masih Produktif,

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta---Bank Indonesia berpendapat ekonomi Indonesia belum mengalami "overheating" atau pemanasan karena komposisi impor yang produktif. "Sampai pada semester I ini, kita memang mengalami defisit perdagangan. Namun sebagian besar impor yang memicu defisit itu adalah barang modal," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta, Senin.

Menurut Darmin, Impor barang modal termasuk dalamn kategori jenis yang produktif, sementara indikasi ekonomi yang "overheating" adalah impor konsumtif untuk memenuhi permintaan dalam negeri yang tidak bisa diimbangi oleh produksi lokal. "Impor barang modal ini justru membuat perekonomian Indonesia tumbuh sehat karena sifatnya yang produktif, jadi dalam kategori ini, defisit perdagangan tidak mengindikasikan 'overheating'," tambahnya

Lebih jauh kata Mantan Dirjen Pajak ini, alasan lain ekonomi Indonesia belum "overheating"yakni masih adanya suplus tenaga kerja, turunnya inti inflasi, dan prosentase kredit terhadap GDP yang masih rendah.

Darmin mengakui rasio antara kredit dengan produk domestik bruto (PDB) masih 31 %. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi masih bisa tumbuh lebih jauh lagi. "Selain itu, sebagian besar pertumbuhan kredit pada semester I adalah kredit modal kerja dan investasi dan bukan kredit konsumsi," ujarnya

Dari sisi inflasi yang juga merupakan tanda-tanda perekonomian yang mengalami "overheating", Darmin mengatakan inflasi inti (tanpa memperhitungkan kenaikan bahan bakar minyak) bisa ditekan sampai 4,5 % pada semester I tahun ini. "Yang terakhir, kondisi pasar tenaga kerja di Indonesia masih menunjukkan surplus," jelasnya

Sementara itu, Kepala Emerging Asia Research Nigel Chalk mengatakan ekonomi Indonesia belum mengalami overheating dan masih bekerja di bawah potensi yang seharusnya. "Saya percaya bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia belum mengalami 'overheating', bahkan berbagai indikator menunjukkan bahwa kinerjanya masih berada di bawah potensi," ujarnya

“Overheating” dalam ekonomi terjadi ketika kapasitas produksi tidak bisa mengimbangi jumlah keseluruhan permintaan. Fenomena ini biasanya ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di atas rata-rata disertai dengan inflasi yang tidak terjaga.

Permintaan yang tidak bisa diimbangi dengan kapasitas produksi tersebut kemudian menyebabkan kenaikan harga yang diikuti dengan turunnya ekspor. "Meskipun beberapa indikasi menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami 'overheating', namun kinerja ekonomi negara ini sebenarnya masih berada di bawah potensi sehingga permintaan maupun penawaran maih bisa ditingkatkan," paparnya

Chalk yang juga menurpakan Penasihat Senior IMF Asia ini mengatakan bahwa defisit perdagangan yang biasanya merupakan indikator utama 'overheating' masih berada di bawah tiga persen dan oleh karena itu masih bisa dikelola.

Sementara itu, Kepala Badan Kebijakan Fiskal pada kesempatan yang sama setuju dengan pendapat Chalk dan mengatakan bahwa defisit perdagangan bisa diatasi dengan menumbuhkan industri manufaktur. "Saya setuju, ekonomi Indonesia masih bekerja di bawah potensi yang ada dan defisit perdagangan bisa diatasi dengan menumbuhkan industri manufaktur," kata Bambang.

Penyebab defisit perdagangan menurut Bambang adalah ketergantungan pada ekspor bahan baku yang permintaannya di pasar internasional sedang mengalami penurunan. Dalam pandangan Bambang, bahan baku tersebut seharusnya diolah oleh industri manufaktur. "Bahan baku yang sudah diolah tersebut bisa digunakan untuk memnuhi permintaan dalam negeri yang sedang naik dan ketika pasar internasional kembali normal, barang-barang olahan itu bisa diekspor," kata Bambang. **bari/cahyo