Kadin Ingatkan Potensi Banjir Impor dari China

Selasa, 18/09/2012

NERACA

Jakarta - Pergeseran arah perdagangan dunia dan domestik kini perlu diantisipasi oleh Pemerintah dan pelaku usaha melalui penyesuaian kebijakan dan strategi usaha sehingga produk dan perusahaan Indonesia tetap mampu bersaing di pasar dalam negeri maupun global. Sebab, pertumbuhan perekonomian dunia diprediksi masih akan mengalami penurunan di tahun depan yang akan mempengaruhi prospek perekonomian Indonesia di masa mendatang.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dikhawatirkan dapat menekan laju ekspor Indonesia karena penurunan permintaan dari negara-negara yang menjadi pasar utama ekspor Indonesia. Penurunan permintaan pasar utama ekspor Indonesia juga akan berdampak pada negara eksportir seperti China yang akan melirik pasar Indonesia karena masih sangat potensial.

“Sehingga bisa saja akan memperbesar banjir produk impor di pasar domestik Indonesia,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur pada Rapat Koordinasi Kadin Nasional Bidang Perdagangan, Distribusi dan Logistik, Senin (17/9).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengatakan, perhatian untuk perdagangan tidak dapat terlepas dari kemajuan tiga jenis teknologi, yaitu teknologi informasi, teknologi telekomunikasi dan teknologi transportasi.

Kemajuan Teknologi

Penerapan kemajuan ketiga teknologi tersebut bisa berpengaruh positif membuat perpindahan barang dan manusia dapat berlangsung dengan sangat cepat dan dalam volume yang sangat besar sehingga dapat digunakan untuk perdagangan dengan murah, cepat dan mudah.

“Perpindahan barang dalam jumlah besar dengan cepat serta proses transaksi yang mudah, murah serta dapat dilakukan dari manapun dan kapanpun tersebut menciptakan persaingan perdagangan global yang sangat ketat. Dalam persaingan yang ketat itu, kita harus dorong untuk bisa memproduksi barang dengan lebih murah namun tetap lebih bermutu,” ujar Suryo.

Sekarang ini, menurut dia, produksi barang tidak dibatasi dalam dalam pola sekat-sekat wilayah negara. Produksi barang dilakukan di mana saja agar dapat menjamin biaya produksi yang rendah. Produsen Jepang membuat barang di Amerika, di Eropa, di Afrika, di Australia dan tempat-tempat lain di Asia. Produsen Eropa dan Amerika merambah Asia dan benua lain.

Lokasi untuk memproduksi barang yang paling ideal adalah di negara-negara yang berpenduduk besar dan memiliki bahan baku yang melimpah. Jumlah penduduk yang besar merupakan potensi pasar dan sumber tenaga kerja murah. Sumber daya alam setempat dapat menjadi faktor penentu dalam menekan biaya bahan baku.

“Indonesia yang berpenduduk terbesar keempat di dunia, memiliki sumber daya alam dalam jumlah besar serta beranekaragam dan letak geografis yang strategis sebenarnya memiliki comperative advantage besar untuk menarik investasi global dalam memproduksi barang,” kata Suryo. Sayangnya, lanjut dia, kenyataan selama ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak selalu menjadi pilihan yang tepat bagi investasi untuk memproduksi barang dengan cepat, mudah dan murah.

Kalah Persaingan

Banyak kendala yang menyebabkan Indonesia kalah dalam persaingan untuk menjadi basis investasi global terbesar. Menurut Suryo, investasi ke Indonesia masih berkisar pada eksploitasi sumber daya alam untuk diekspor dalam bentuk komoditi dasar. Penduduk yang besar jumlahnya belum menghasilkan tenaga kerja dengan produktivitas tinggi. Perpindahan barang dengan mudah, murah dan dalam jumlah besar belum dapat dicapai karena kendala infrastruktur yang belum memadai.

Namun, Kadin mengapresiasi adanya rumusan solusi yang disusun dalam bentuk perencanaan jangka panjang yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI membagi wilayah pembangunan sesuai dengan masing-masing kelebihan yang komparatif, serta melakukan transformasi sumber daya manusia menjadi tenaga pembangunan yang berproduktivitas tinggi.

MP3EI juga diharapkan dapat membawa peningkatan daya saing dalam investasi maupun perdagangan di dalam negeri dan pada tataran regional dan global. Melalui Kadin, Suryo berharap, dunia usaha perlu bersikap lebih proaktif, baik dalam interaksi dengan pihak pemerintah maupun antarusaha-usaha sektoral dan dunia usaha di daerah. Sikap pro-aktif ini diperlukan dalam rangka mendorong proses usaha dan investasi yang lebih integratif.