Bisnis MNC Grup Menggurita Ke Sektor Infrastruktur

Senin, 17/09/2012

NERACA

Jakarta – Bisnis PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) terus beranak pinak. Pasalnya, perseroan melalui anak usahanya PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) telah mendirikan perusahaan infrastruktur, PT MNC Infrastruktur Utama. Bisnis ini melengkapi usaha sebelumnya, disektor media, industri keuangan non bank dan bahkan berencana merambah di sektor perbankan.

CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo mengatakan, perusahaan ini akan fokus pada proyek jalan tol, bandara, pelabuhan (darat dan laut) dan pembangkit listrik (PLTA, PLTU). Salah satu proyek yang saat ini sedang ditangani adalah pembangunan port batu bara di Kalimantan Timur dengan nilai investasi sekira US$ 12 juta, “Proyek tersebut ditargetkan akan selesai pada pertengahan 2013,"katanya dalam siaran persnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Dia berharap, nantinya PT MNC Infrastruktur Utama ini dapat mendukung segala kegiatan grup dan menciptakan sinergi yang lebih mantap di antara anak-anak perusahaan yang tergabung dalam MNC Group.

Sementara PT Indonesia Air Transport Tbk (IATA) juga sedang mempersiapkan pengembangan penerbangan berjadwal dengan layanan medium class. Penerbangan perdana rencananya akan dilakukan di bandara Husein Sastranegara pada November 2012 dengan menggunakan dua buah pesawat Airbus 319, “Pesawat-pesawat ini nantinya akan melayani penerbangan setiap hari untuk rute ke beberapa kota besar di Indonesia, seperti Medan, Padang, Batam, Makassar, Denpasar, dan Balikpapan," kata CEO IATA Syafril Nasution.

Saat ini IATA sudah menjalankan penerbangan berjadwal yang berbasis di Pontianak menggunakan ATR 42-300 dengan jadwal penerbangan empat kali seminggu ke beberapa kota seperti Sintang, Ketapang, Pangkalan Bun, Solo, dan Yogya. Kedepannya, IATA akan menambah beberapa rute penerbangan guna mengakomodir kebutuhan masyarakat akan transportasi udara.

Per 31 Juli 2012, BHIT mencatat peningkatan pendapatan usaha konsolidasi sebesar 26 persen menjadi Rp5,4 triliun. Pencapaian ini diikuti dengan pertumbuhan Laba Usaha dan EBITDA masing-masing sebesar 18 persen menjadi Rp1,4 triliun dan 17% menjadi Rp1,9 triliun. Selain itu laba bersih juga mengalami kenaikan sebesar 10% menjadi Rp324 miliar. "Kami harap dengan adanya bisnis baru di bidang pertambangan dan infrastruktur dapat mendorong pertumbuhan grup di masa mendatang secara signifikan," jelas dia.

Akuisisi Bank

Sebelumnya, PT Bhakti Investama Tbk (BHIT) juga menyampaikan rencana mengakuisisi industri perbankan. Hary Tanoesoedibjo pernah bilang, pihaknya tengah mendalami dua perbankan nasional untuk diakuisisi. "Satu di antaranya bank dalam bentuk terbuka (Tbk), sedangkan satu lagi belum terdaftar di bursa,"ujarnya.

Dia mengatakan, perbankan yang nantinya diakuisisi harus memenuhi salah satu kriteria, yakni harus menjadi bank devisa. Dengan begitu, bank dapat menawarkan jasa-jasa yang berkaitan dengan mata uang asing seperti transfer ke luar negeri, jual beli valuta asing, transaksi ekspor-impor, dan jasa-jasa valuta asing lainnya.

Menurut Hary Tanoe, dengan masuknya perbankan di bisnis MNC, berarti bisa melengkapi anak usaha lainnya yang bergerak dalam jasa keuangan. Saat ini, Grup MNC membawahi sejumlah produk finansial antara lain MNC Life, MNC Insurance Indonesia, MNC Securities, MNC Asset Management, dan MNC Finance. "Kami harus punya bank. Ini namanya strategi agar bisnis kami bertumbuh," Hary menjelaskan.

Namun Hary masih enggan menyebutkan realisasi pembelian bank tersebut. Begitu pula dengan dana akuisisi bank. Tetapi yang pasti, dana akan berasal dari kas internal. Sebab untuk membeli sebuah bank tidak dapat bisa dari dana hasil utang.

Jika rencana itu berhasil, lanjut Hary, Bhakti Investama sebagai induk usaha bakal melakukan injeksi modal ke bank itu. "Beli bank bukan masalah besaran uang, tapi tambahan modal untuk bank itu agar bank tersebut menjadi lebih besar," katanya.

Nantinya akuisisi bank yang direncanakannya akan melalui anak usahanya PT Bhakti Capital Indonesia Tbk (BCAP). Skemanya, BCAP akan melakukan penerbitan saham baru alias right issue. BHIT, selaku pemegang saham mayositas akan membeli saham baru tersebut. Dana yang akan digunakan BHIT adalah bersumber dari hasil divestasi pada PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY).

Sebelumnya, Direktur Purnadi Harjono mengatakan sedang melakukan realisasi pembelian satu bank swasta minimal September 2012. Negosiasi pun tengah dilakukan. Untuk membeli bank tersebut, setidaknya dana sebesar Rp 1 triliun sudah disiapkan.

BHIT saat ini mendapat dana segar sekitar Rp 800 miliar yang berasal dari pelepasan saham di PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY). Selain itu, perusahaan akan menerbitkan obligasi senilai Rp 1 triliun. (bani)