Program OVOP Naikan Kualitas Rumput Laut

Senin, 17/09/2012

NERACA

Bantaeng—Aneka produk rumput laut di Indonesia menjadi primadona. Bahkan Tidak ada saja untuk konsumsi dalam negeri. Namun juga potensi ekspornya pun cukup tinggi. Salah satu produk rumput laut yang cukup besar potensi eksplorasinya di Bantaeng, Makasar, Sulawesi Selatan.

“Kami akan mengawal dan melakukan pendampingan, terutama pada pengembangan produk unggulan olahan rumput laut Bantaeng dan Sutera Wajo Sulawesi Selatan dengan pendekatan (one village one produk) OVOP,” kata Syarif Hasan, Menteri Koperasi (Menkop) dan UKM, Syarif Hasan di Makassar.

Menurut Syarif, pemerintah menggunakan pola OVOP guna peningkatan kualitas pada produksi. Sehingga diharapkan produk rumput laut di Bantaeng yang menjadi satu dari tiga zona potensi untuk pendapatan daerah, yaitu zona pesisir mampu bersaing di pasar ekspor. “Pasalnya, program pendekatan OVOP ini terbukti ampuh dalam menghasilkan kualitas produk yang tinggi,” tambahnya.

Zona pesisir ini, tidak hanya rumput laut, tapi juga pantai yang indah dan ikan. Zona lainnya, dataran rendah untuk potensi perkotaan dan layanan jasa, terutama sebagai sumber pembenihan bibit yang telah berhasil dikembangkan adalah pengembangan bibit strawberry dan apel. Kemudian zona dataran tinggi berupa optimalisasi lahan sesuai kondisi geografi berupa penggunungan dan penampungan air. ”Tugas Kementerian Koperasi adalah berupaya meningkatkan kualitas produknya. Dengan begitu, nanti harga akan bersaing di pasar,” paparnya

Soal pemasaran yang dirasakan menjadi kendala bagi petani, Syarif mengatakan, sebenarnya pasar modern atau ritel pun sudah membuka pintu lebar. Kalau harga produk olahan rumput laut yang dirasa rendah, menurut Syarif, itu karena proses suplay dan demand yang tak bisa dihindari. “Hukum pasar memang begitu (harga tergantung suplay dan demand,red). Mana kala suplay melimpah, tentu demand akan menurun. Itulah pasar. Makanya, perlu namanya disversifikasi produk. Sehingga tidak hanya masuk pasar tradisional, tapi bias menembus pasar modern seperti ritel itu. Nah, disversifikasi inilah bisa dilakukan lewat pendekatan OVOP. Di mana produk sekaligus akan berkualitas. Kalau produk berkualitas, maka harga akan muncul dengan sendirinya,” ujar Syarif didampingi Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah.

Makan ya, pinta dia, pasar modern jangan dimusuhi. Tapi diajak kerjasama. Karena pasar modern itulah sebagai tempat atau lahan produk hasil disverifikasi. “Soal pasar modern yang justru dinilai mematikan pasar tradisional, sekarang tidak perlu ada lagi stigma itu. Karena di tingkat Pemda, aturan jarak letak pembangunan pasar modern dengan pasar tradisional sudah dikeluarkan dan disepakati bersama,” kilahnya.

Di bagian lain Syarif menyoroti soal packaging atau kemasan pada produk olahan rumput laut. Menurut dia, packaging merupakan daya tarik pertama sebuah produk. “Sungguhpun kualitas produknya hebat, tapi kalau tidak dikemas dengan daya tarik yang tinggi, maka konsumen tidak pernah merasakan kualitasnya. Makanya, saya mendorong dalam pendekatan OVOP tak lepas dari perhatian terhadap packaging juga,” pungkasnya. **rin