Kredit Produktif Perbankan Tumbuh Tinggi

Senin, 17/09/2012

NERACA

Bandung –Kredit produktif perbankan terlihat tumbuh tinggi, terutama adanya kenaikan dari kredit modal kerja dan investasi. Kredit investasi naik 29,6% dari periode Juli 2011. Adapun kredit modal kerja naik 27,3% dari periode sama tahun lalu. Sedangkan kredit konsumsi menurun menjadi 18,9% dibandingkan periode sama tahun lalu. “Performa kredit investasi ini kami harapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. Dengan adanya (peraturan) LTV di beberapa sektor itu memang terkendali, terutama sector konsumtif dan impornya tinggi,” kata Kepala Departemen Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi A. Johansyah di Bandung (15/9).

Pertumbuhan kredit paling besar di bulan Juli 2012 terjadi pada sektor listrik, air, dan gas dengan peningkatan sebesar 42% dari periode Juli 2011, sedangkan di bulan Juni 2012 pertumbuhan kredit di sektor ini pada periode sama tahun 2011 hanya sebesar 24%. Kemudian kredit di sektor pertanian juga bertumbuh 41% dari periode Juli 2011. Lalu yang juga besar adalah pertumbuhan kredit di sektor perdagangan yang mengalami peningkatan sebesar 37% dari periode sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, kredit perbankan pada semester pertama 2012 turun 6 basis poin menjadi 25,2% pada Juli 2012, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Meski kredit perbankan bisa ditekan tipis, akselerasi kredit masih terbilang tinggi dibandingkan dengan ekspektasi. Selama ini, BI berusaha menjaga pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia pada level 20%–24%. Sebaliknya, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan saat ini berada di kisaran 25%–26%.

Sementara itu, BI kembali mempertahankan suku bunga (rate) di level 5,75%. Artinya, pergerakan BI rate masih tetap sama sejak Februari 2012 yang turun 25 basis poin daripada Januari 2012 sebesar 6,0%. Tingkat suku bunga yang mencapai 5,75% tersebut dipandang BI masih konsisten. “BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan akan menurun di sekitar 2% dari PBD, dan NPI secara keseluruhan akan kembali mengalami surplus. Di sisi lain surplus transaksi modal dan finansial juga akan lebih besar, baik dari PMA, investasi portofolio, maupun penarikan utang luar negeri,” jelas Difi.