BI Nilai Dampak QE 3 Masih Kecil

NERACA

Jakarta--Bank Indonesia menilai kebijakan quantitative easing III (QE) yang dikeluarkan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, tidak akan berpengaruh besar pada ekonomi dunia karena uang yang diinjeksikan nilainya kecil. "Jumlah uang yang diinjeksikan oleh The Fed pada QE III hanya 40 miliar dolar AS per bulan, masih lebih kecil dibandingkan dengan QE II ataupun QE I, sehingga dampaknya tidak akan terlalu besar," kata Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution di Jakarta

Menurut Darmin, “Quantitative easing” adalah kebijakan moneter dari bank sentral untuk menstilmulasi ekonomi nasional dengan membeli aset finansial dengan uang yang baru dicetak. “Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menginjeksikan uang ke dalam pasar dalam jumlah yang sudah ditentukan sebelumnya,” tambahnya.

The Fed pada “quantitative easing” periode ketiga ini hanya akan membeli hipotek yang terjaminkan ('mortgage-backed securities'-MBS) untuk menjaga agar uang yang sudah diinjeksikan tidak keluar ke negara lain dan bisa menciptakan lapangan kerja baru. Langkah yang sama pernah dilakukan pada November 2008 saat The Fed membeli MBS dalam jumlah 600 miliar dolar AS.

Lebih jauh Darmin menambahkan kebijakan bank sentral AS akan cenderung melemahkan dolar dan diharapkan dapat membuat ekonomi Amerika Serikat bergerak. Namun pengaruh pelemahan dolar tersebut pada dunia bergantung pada kekuatan ekonomi masing-masing negara. "Walaupun ada kecenderungan pelemahan pada mata uang dolar, namun pengaruhnya pada ekonomi dunia sangat bergantung pada kekuatan masing-masing negara," ujarnya

Kekuatan ekonomi Indonesia sendiri dalam penilaian Darmin masih bagus, terlihat dari kecilnya angka inflasi dan defisit fiskal yang rendah. Dua hal tersebut menurut Darmin menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia kuat dari sisi modal.

"Dengan keseimbangan internal yang bagus dan pertumbuhan ekonomi yang baik, negara kita punya modal untuk menarik mata uang luar negeri walaupun tidak dalam jumlah besar seperti dulu," imbuhnya

Sementara itu, Kepala Biro Humas Bank Indonesia (BI) Difi Johansyah mengakui QE 3 akan berdampak kepada Indonesia dalam dua sektor. Sektor tersebut adalah sektor perdagangan dan finansial. "QE3 akan terlihat berdampak di dua jalur, yakni pertama perdagangan, kedua dari jalur finansial," ujarnya

Menurut Difi, dalam sesi perdagangan, dengan pengumuman QE3 diharapkan ada perbaikan di Amerika Serikat (AS) dan mitra kerjanya. Diprediksikan pertumbuhan AS akan meningkat ke 3,3%. "Kalau berhasil akan menjadi 3,4 persen ini mengakibatkan ekspor kita akan lebih tinggi," ujarnya.

Difi mengatakan, dalam jalur finansial, dampak QE3 akan terlihat ketika uang yang diglontorkan salah satu outlet investasi adalah begitu ditempatkan selain sektor rill. Nanti, lanjut dia, itu akan membuat Indonesia adalah suatu tempat dimana dari sisi finansial mendapatkan pandangan yang baik untuk menginvestasi. **ria/cahyo

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…