Komite Basel Dukung Pengetatan Perbankan

NERACA

Jenewa--- Komite Basel otoritas pengawasan perbankan mengakui lebih dari 100 negara mendukung perubahan penting prinsip (dasar) peraturan bank internasional, sebagai akibat dari krisis keuangan global. "Merujuk pada pengalaman pembelajaran selama krisis keuangan yang dimulai pada 2007, revisi prinsip Inti merupakan langkah maju yang “signifikan" dari daftar prinsip-prinsip sebelumnya yang disusun oleh Komite Basel pada 2006,” kata Ketua Komite Basel , Stefan Ingves dalam pernyataannya.

Pengawas perbankan dan gubernur bank sentral yang mewakili lebih dari 100 negara. “Kami telah berkumpul di Istanbul pada Kamis dan Jumat untuk konferensi internasional, mendukung revisi kumpulan 29 prinsip inti,” tambahnya

Revisi ditujukan "banyak manajemen risiko yang signifikan melemah dan kerentanan lainnya disorot dalam krisis keuangan," Bank for International Settlements (BIS) menjelaskan.

Prinsip-prinsip tersebut diubah menjadi antara lain menyoroti kebutuhan untuk pengawasan lebih intens pada bank yang secara sistemik penting, bagi pengawas untuk membantu mengidentifikasi, menganalisis dan mengambil tindakan preemptive untuk mengatasi risiko sistemik dan untuk manajemen krisis yang lebih efektif. "Pengawas dan bank telah membuat langkah besar dalam memperkuat menajemen risiko bank dan praktik pengawasan sejak awal krisis," Ketua Komite Basel yang juga kepala bank sentral Swedia, Stefan Ingves.

Revisi dilakukan oleh kelompok yang terdiri dari pengawas perbankan dari negara-negara anggota dan non-anggota negara Komite Basel, bersama dengan grup pengawas perbankan regional, Dana Moneter Internasional, Bank Dunia dan Dewan Jasa Keuangan Islam kata komite itu.

Sementara komite mengatakan, perubahan akan membantu mendorong "stabilitas keuangan secara global", mengakui bahwa beberapa tindakan diperlukan melibatkan tahap-tahap besar yang "otoritas pengawas mungkin perlu untuk membuat transisi mereka ... dari waktu ke waktu." **

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…