Emas Masih Menggiurkan Untuk Investasi

NERACA

Jakarta--Logam mulia atau emas masih menjadi acuan masyarakat dalam negeri untuk berinvestasi meski harga komoditas itu terus mengalami peningkatan. "Meski emas terus mengalami kenaikan harga, kondisi itu tetap mendorong masyarakat untuk berinvestasi," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Sabtu.

Menurut Ariston, kondisi itu diperkirakan, karena, harga emas masih mempunyai ruang kenaikan, pasalnya masyarakat dalam negeri saat ini juga sudah mulai sadar berinvestasi dalam bentuk emas, dikarenakan dapat dijadikan 'hedging' (lindung nilai). "Jika emas mengalami tekanan diproyeksikan juga hanya dalam waktu jangka pendek. Kondisi itu juga tidak membuat masyarakat domestik khawatir dikarenakan emas memiliki kecenderungan naik," tambahnya

Lebih jauh Ariston menambahkan, investasi dalam bentuk emas dinilai masih cukup menjanjikan untuk jangka panjang. Disarankan agar masyarakat memilih emas batangan jika berinvestasi. "Emas batangan jauh lebih baik, karena kalau dalam bentuk perhiasan itu sudah tercampur dengan nilai seni, ketika dijual nilai seni tak ada artinya," jelasnya Tercatat, harga jual emas batangan di PT Aneka Tambang Tbk Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia seharga Rp587.200 per gram. Sementara itu, harga emas batangan ukuran lima gram dan 10 gram masing-masing senilai Rp2,786 juta dan Rp5,532 juta.

Dari pantauan, volume penjualan emas cenderung mengalami peningkatan. Rata-rata penjualan emas di UBPP Logam Mulia per hari mencapai 15-17 kilo gram (kg).

Sementara terpantau, harga emas Aneka Tambang Jumat (14/9) untuk satu gram senilai Rp587.000, meningkat 1,38 % dibanding pada awal pekan, Senin (10/9) sebesar Rp579.000 per gram.

Sementara, harga emas dunia Jumat (14/9) lalu berada di posisi 1.770 dolar AS per ons atau sedikit menurun 2,10 poin (0,12 %) dibanding hari sebelumnya. "Meski harga emas dunia mengalami penurunan namun tidak terlalu signifikan. Apalagi sentimen dari AS, yakni the Fed kembali merilis stimulus moneter yang agresif," ungkap Ariston

Investor, sambung Ariston, akan terus memburu emas sebagai alat lindung inflasi ketika kebijakan moneter melonggar, kondisi itu akan mendorong emas menembus level "resisstance" di 1.760 dolar AS per ons, diprediksi harga emas masih akan melambung dikisaran 2000 dolar AS per ons.

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pertemuan IMF-World Bank, BI Sepakat Perkuat Kerjasama

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama internasional dalam Pertemuan Tahunan International…

Dukung Nasabah Bisnis, CIMB Niaga Hadirkan BizChannel

    NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) memperkenalkan aplikasi mobile banking terbaru bagi nasabah…

Serapan Lelang SBSN Capai Rp7,04 Triliun

    NERACA   Jakarta - Direktorat Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu)…