BUMN Siap Dukung Ketahanan Pangan

BUMN Siap Dukung Ketahanan Pangan

Jakarta—Pemerintah menegaskan BUMN siap mendukung dan sekaligus menjaga ketahanan pangan, terutama peningkatan produksi pertanian. "BUMN harus berperan penting dalam pembangunan ketahanan pangan di Indonesia," kata Deputi Menteri BUMN Bidang Industri Primer Megananda Daryono di Jakarta, Selasa (19/4)

Dikatakan Megananda, selama ini BUMN Pertanian telah melakukan kontribusi nyata lewat berbagai sektor usahanya yang mendukung pertanian. “Misalnya saja peran serta PT Sang Hyang Seri yang bergerak di bidang pembenihan, Pupuk Sriwijaya di bidang pemupukan dan Perum Bulog di sektor hulu,” tambahnya.

Megananda menambahkan sekarang ini kontribusi dari BUMN ini cukup signifikan terhadap penerimanan negara. "BUMN lewat usahanya pada 2009 telah menyumbang Rp2.258 triliun atau sekitar 40% dari total GDP. Dengan total pendapatan Rp986 triliun dan laba bersih Rp88 triliun," jelasnya.

Berdasarkan data Kementrian BUMN, kontribusi dari BUMN tersebut terus mengalami peningkatan. Misalnya dari Pupuk Sriwijaya yang menyumbang Rp16,4 triliun di 2009, naik Rp18,9 triliun di 2010. PSO Sang Hyang Seri mencapai Rp2,3 triliun di 2009 dan 2010. Sedangkan PSO untuk Pupuk Sriwijaya di 2009 mencapai Rp12,4 triliun dan Rp13,9 triliun di 2010.

Sementara itu, Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan persediaan beras nasional diperkirakan aman sampai enam bulan mendatang. Alasanya Bulog mampu menyerap beras petani pada April ini mencapai 680 ribu ton dari jumlah realisasi yang sudah masuk sebesar 27 ribu ton. "Stok beras mencapai 1,5 juta ton dan cukup untuk enam bulan ke depan. Semoga sampai akhir tahun masih berada di kisaran segitu," ujarnya.

Menyinggung soal harga beras di daerah, Sutarto mengatakan masih fleksibel dan dalam kondisi stabil. "Harga beras di Cipinang sekarang kan Rp5.500, itu sekira 10 persen di atas HPP," ujarnya.

Mengenai beras impor, saat ini yang masuk ke Bulog mencapai 1.884.000. Angka ini menurun dari jumlah lalu sekira dua juta ton. Beras-beras tersebut berasal dari Vietnam dan Thailand.

Dia berharap tahun ini tak ada lagi beras impor karena cuaca sudah tercatat mendukung (kemarau yang tidak panjang) dan meningkatkan produktifitas petani. "Saya suka sekali dan berharap tak lagi mengimpor beras," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, pembangunan sektor agraria dan energi menjadi mata rantai penting dalam ketahanan pangan yang menyangkut masalah hidup dan mati bangsa. Karena itu, dia mengimbau agar dalam membangun sektor agrarian dan energi tidak dilakukan secara setengah-setengah. Hal itu diungkapkan Hatta dalam peresmian Agrinex Expo di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (4/3) lalu.

Dalam pembukaannya, Hatta Radjasa menegaskan, muara dari kegiatan agribisnis adalah terciptanya kesejahteraan baik bagi masyarakat umum maupun bagi para pelakunya, termasuk para petani.

Menurut dia, kesejahteraan adalah bagian penting dalam upaya bangsa, salah satu indikatornya adalah seberapa jauh kita mampu mensejahterakan rakyat. Sektor apa yang kontribusinya besar dalam mendorong kesejahteraan. Pembangunan yang memiliki track dan agenda dalam rencana pembangunan, sektor pertanian menjadi sektor utama dalam seluruh rencana pembangunan. “Pengurangan kemiskinan, sektor pertanian, ketahanan pangan dan ketahanan energi adalah masalah hidup matinya bangsa. Jadi kita tidak bisa setengah-setengah dalam menggarap pertanian dalam arti luas,” ungkapnya.

Dikatakan Hatta, Indonesia saat ini menghadapi tantangan produksi pangan. Contohnya padi. Pada 2010, produksi padi kalah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang mencapai growth di atas 5%. Meskipun begitu, 2010 dengan tantangan tinggi dalam perubahan iklim, Indonesia masih mampu meningkatkan produksi di atas 2%. “Tahun ini, kita di atas 5%, ” jarnya.

Terkait perubahan iklim, lanjut Hatta, pemerintah akan fokus menyangkut penyediaan bibit yang mampu meningkatkan produktivitas. “Mentan diberikan kewenangan untuk mengambil kebijakan, apabila terjadi gangguan hama atau banjir dan lain-lain. Pemerintah sudah menyiapkan dana cadangan sampai Rp 3 triliun,” paparnya. **cahyo

Related posts