LPS Tahan Suku Bunga Penjaminan

NERACA

Jakarta--Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan masyarakat di bank untuk periode 15 September 2012 hingga 14 Januari 2013 sama dengan tingkat bunga penjaminan sebelumnya. “LPS memandang tingkat bunga periode saat ini masih sejalan dengan kondisi ekonomi dan perbankan,” kata Direktur Penjaminan dan Manajemen Risiko LPS, Salusra Satria di Jakarta, Jumat

LPS menetapkan tingkat bunga wajar penjaminan simpanan di bank umum dalam mata uang rupiah sebesar 5,50 % dan dalam valuta asing sebesar 1,00 %. Sementara tingkat bunga penjaminan simpanan di bank perkreditan rakyat (BPR) dalam mata uang rupiah 8,00 %.

Keputusan mempertahankan tingkat bunga penjaminan tersebut didasari pertimbangan kondisi perekonomian dan perbankan antara lain kinerja perekonomian domestik relatif stabil, terlihat dari tingkat inflasi year on year yang masih dalam rentang target Bank Indonesia. Inflasi pada Juli 2012 mencapai 4,58 % dan pada Agustus 2012 mencapai 4,58 %.

Selain itu, kata Salusra, kondisi likuiditas di pasar uang domestik antar bank masih cukup tinggi. Hal itu terlihat dari posisi alat likuid perbankan (tagihan bank umum kepada Bank Indonesia) sebesar Rp692 triliun pada Juli 2012, lebih tinggi dari rata-rata tahun 2011 yang sebesar Rp678 triliun.

Kondisi likuiditas perbankan memang menunjukkan pengetatan namun masih relatif terjaga dengan biaya dana yang masih menunjukkan penurunan. Hal itu terindikasi dari biaya dana rata-rata tertimbang perbankan yang turun dari 4,26 % pada Juni 2012 menjadi 4,22 % pada Juli 2012.

Salusra menyebutkan, sesusai ketentuan LPS jika tingkat bunga simpanan yang diperjanjikan antara bank dengan nasabah penyimpan melebihi tingkat bunga wajar, maka simpanan nasabah dimaksud menjadi tidak dijamin. Berkenaan dengan hal tersebut, bank diharuskan untuk memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai tingkat bunga wajar yang berlaku dengan menempatkan informasi mengenai tingkat bunga wajar pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan. **cahyo

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Siapkan Tawaran Khusus, Cashwagon Ingin Tingkatkan Jumlah Pemberi Pinjaman

    NERACA Jakarta - Perusahaan platform P2P (Peer to peer) Cashwagon (Kas Wagon) Indonesia menyiapkan tawaran khusus bagi para…

MAGI Beri Penghargaan ke Bengkel Rekanan Terbaik

    NERACA.   Jakarta - PT Mandiri AXA General Insurance (MAGI) memberikan penghargaan kepada bengkel rekanan terbaiknya dalam ajang…

Jamkrindo Syariah Targetkan Volume Penjaminan Rp35 Triliun

NERACA Jakarta - PT Jamkrindo Syariah (Jamsyar) mentargetkan volume penjaminan pada akhir 2020 mendatang bisa mencapai Rp35 triliun dan meraih…