Perbankan Syariah Diyakini Capai Target

NERACA

Jakarta— Bank Indonesia tetap optimistis industri perbankan syariah akan mencapai target aset yang telah ditentukan pada akhir 2012 yaitu sekitar Rp200 triliun. Meski diakui terjadi perlambatan pertumbuhan selama beberapa bulan terakhir. “Salah satu penyebab perlambatan kemarin mungkin karena Kementerian Agama menarik dana haji dalam jumlah besar dari perbankan syariah, tetapi itu tidak akan begitu saja mematahkan pertumbuhan perbankan syariah," kata Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia Edy Setiadi, di di Jakarta

Lebih jauh Edy menambahkan total aset perbankan syariah pada kuartal kedua telah mencapai Rp151 triliun, meskipun pertumbuhan sejak awal tahun hingga semester pertama tahun ini tidak terlalu signifikan. "Ada rencana dana haji yang akan dikembalikan ke perbankan syariah sekitar Rp5-7 triliun pada tahun ini," tuturnya.

Sebagai informasi, penarikan dana haji oleh Kementerian Agama menyebabkan total dana pihak ketiga (DPK) yang dihimpun perbankan syariah turun menjadi Rp114 triliun pada April tahun ini, padahal sebelumnya pada Maret total DPK perbankan syariah telah mencapai Rp119 triliun.

Selain itu, perlambatan juga dirasakan akibat aturan baru gadai emas yang membatasi perkembangan gadai perbankan syariah dari tidak terhingga menjadi maksimal hanya Rp250 juta saja.

Namun, Edy memperkirakan dengan pemberlakuan aturan rasio pinjaman terhadap nilai agunan (LTV) bagi sektor properti dan otomitif atas bank konvensional, perbankan syariah bisa mendapat keuntungan dari pembiayaan yang mulai dilirik masyarakat."Sebenarnya tanpa aturan LTV itu saja pembiayaan perbankan syariah bisa mencapai target Rp150 triliun pada akhir tahun, posisi sekarang saja mungkin sudah sekitar Rp120 triliun untuk pembiayaan," ucapnya.

Dikatakan Edy, perbankan syariah saat ini sudah memiliki segmen tertentu dalam pembiayaan, sehingga pertumbuhannya diperkirakan tidak akan bergantung pada aturan LTV tersebut.Aturan LTV bagi perbankan syariah sendiri masih dikaji oleh Bank Indonesia dengan pertimbangan untuk menghindari arbitrase antara perbankan konvensional dan syariah.

Rencananya BI baru akan menerbitkan aturan LTV bagi perbankan syariah tersebut pada Oktober-November tahun ini, dengan kemungkinan tidak diberlakukan terhadap beberapa produk pembiayaan syariah yang sifatnya berbeda seperti Musyarakah Mutanaqishah (MMQ) dan Mudharabah. **ria

BERITA TERKAIT

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar - Meski Kondisi Ekonomi Prihatin

Zakat Idul Fitri Warga Depok Bisa Capai Rp8,6 Miliar  Meski Kondisi Ekonomi Prihatin NERACA Depok - Asisten Bidang Pemerintah, Hukum…

Tingkat Kehadiran ASN Jabar Capai 99,2 Persen

Tingkat Kehadiran ASN Jabar Capai 99,2 Persen NERACA Bandung - Tingkat kehadiran para Aparatur Sipil Negara (ASN) Setda Pemprov Jawa…

Pengawasan Perbankan dan Teknologi Nano

  Oleh: Achmad Deni Daruri, President Director Center for Banking Crisis   Hong Kong sebagai salah satu pusat keuangan di…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank SulutGo Ajukan Izin Terbitkan Kartu Debit

  NERACA   Manado - PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) mengajukan permohonan izin kepada Bank…

Rasio Kredit Macet Di Sulteng Aman

    NERACA   Palu - Kepala kantor perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah Miyono mengatakan rasio kredit macet atau…

Sinergi Pesantren dengan Pembiayaan Ultra Mikro

      NERACA   Jakarta - Pemerintah mendorong sinergi pondok pesantren dengan program pembiayaan Ultra Mikro yang diyakini dapat…