Tiada Kata Terlambat Meningkatkan Jumlah Investor

Pasar Reksa Dana di Indonesia

Sabtu, 22/09/2012

Sosialisasi kepada masyarakat memang tujuan yang harus dijalankan agar produk reksa dana dapat dikenal luas, ini semua untuk menarik investor.

NERACA

Industri reksa dana dalam negeri lambat tapi pasti mulai berkembang pesat, meskipun pertumbuhannya belum berlari kencang dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di tengah ancaman krisis ekonomi Eropa.

Presiden Direktur Mandiri Aset Management Abipriyadi Riyanto, di Jakarta, meyakini pasar reksa dana dalam negeri masih menjanjikan. Alumnus teknik sipil Universitas Gaja Mada (UGM) yang juga Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) juga mempunyai strategi menginformasikan kepada masyarakat untuk rajin beinvestasi di reksa dana.

Minat masyarakat Indonesia terhadap industri reksa dana dari tahun ke tahun memang sangat meningkat, namun dari semua itu perjalanan industri reksa dana bisa kita refleksikan, seperti zaman dulu perbankan mulai di Indonesia. Saat itu, edukasi pemerintah cukup luar biasa, karena butuh waktu yang tidak sebentar mengubah perilaku orang yang biasa menyimpan uang di lemari sekarang menyimpan uang di bank yang lebih aman.

Menurut dia, memberikan kesadaran masyarakat mungkin butuh waktu 5 tahun atau 10 tahun kita tidak tahu, hingga pemerintah terus mengedukasi dengan duit disimpan di bank lebih aman, mengambil dan menyetor juga gampang. Hal yang sama juga dengan reksa dana sebagai instrumen investasi yang relatif baru bagi masyarakat secara keseluruhan dan tidak heran populasi investor reksa dana baru mencapai 400 ribu.

Cara memperluas sosialisasi reksa dana harus menjadi komitmen kita semua tidak hanya asosiasi tapi seluruh pihak, baik itu asosiasi, fund manager, bank kustodian, bank distributor dan regulator. Semua stakeholder harus sama-sama membawa produk ini secara masif.

Karena selama ini orang masih sporadis, terlalu banyak pesaing dalam industri reksa dana, namun hasil efektifnya kurang. Kondisi ini berbeda dengan sosialisasi pemerintah dan juga bank saat memperkenalkan industri perbankan, hingga anak kecil diajari menabung dan punya rekening. Kita ingin reksa dana juga seperti itu diperkenalkan secara luas.

Artinya, minat masyarakat di reksa dana naik tapi bergerak lambat. Kendalanya karena sosialisasi kurang optimal. Seharusnya bisa disosialisasikan dari mulut ke mulut. Bila mau didik masyarakat tidak bisa sendiri, karena sendiri-sendiri kita cape tapi jika ajak sama-sama baik dari fund manajernya, bank kustodian, bank penjual, regulator, bank distributor bikin edukasi pasar. Tentunya bisa dipetik mungkin 5 tahun dan tidak bisa instant setahun atau dua tahun, tuturnya.

Perkembangan reksa dana kita memang masih tertingal seperti Malaysia dan Singapura mungkin 15 tahun lebih dulu mengenal reksa dana. Kebetulan kedua negara itu di jajah oleh Inggris, dimana industri mutual fund dimulai dari Inggris dan bukan dari Amerika.

Jadi mereka mereka sudah mengenal instrument ini jauh lebih dulu dari kita dan populasi Malaysia cuma 40 juta jiwa sementara Singapura lebih kecil lagi. Jadi konsentrasi masyarakat yang punya reksa dana mungkin lebih besar dari populasinya.

"Tapi tidak usah berkecil hati, tidak ada kata terlambat. Mari kita sama-sama edukasi masyarakat dan bila cuma lihat kalah, tanpa tidak berbuat sesuatu bagaimana caranya maju ya percuma saja," katanya.

Ia mengatakan, Bapepam-LK lebih market friendly, mereka benar-benar mau bersama-sama mengembangkan industri reksa dana. Kita bersama regulator sudah sosialisasi kemana-mana, ke Medan, Makasar dan Riau. Cuma memang frekuensinya kurang banyak dan ini bukan problem Bapepam-LK tapi kita semua dan termasuk soal dana.

"Kalau tidak mau, ya akhirnya industri hanya tumbuh segitu saja," katanya.

Kembali lagi soal regulasi, agar Bapepam-LK bisa market friendly harus mau mendengar market butuh apa, selama itu dijalankan secara governance. Masalahnya kordinasi sesama stakeholder selama ini belum mulus atau optimal. Soal pajak, justru apa yang kita minta aspirasi diterima dan ini support yang besar.

Misalnya harusnya pada 2014 pajak reksa dana naik jadi 15%, namun karena Menteri Keuangan menerima aspirasi, akhirnya pajak reksa dana tetap 5% hingga seterusnya. Kita bilang reksa dana instrument investasi jangka panjang, obligasi pemerintah juga ada disana. Ngga fair dong, masa instrument 30 tahun dengan instrument deposito 3 bulan pajaknya sama. 30 tahun banyak risiko dan ketidak pastian dan biasanya dapat insentif supaya orang lebih mau berinvestasi.

Sedangkan mengenai Strategi, kita sebetulnya sedang kerjasama dengan konsultan untuk buat blueprint manajemen investasi. Kita bekerjasama dengan teman-teman dari LMFE UI dan itu sedang digodok dengan melibatkan semua stakeholder baik player, regulator, orang pajak dan semua pihak. Kita bikin arahan untuk titik yang akan dicapai dan mau dibawa kemana manajer investasi, termasuk reksa dana.

Ada tiga topik dalam blueprint, pertama produk MI dan reksa dana, kedua distribusi bagaimana caranya menyebar (distribusi chanel) dan ketiga kelembagaan MI yang didalamnya, kualifikasi apa saja yang harus dimiliki MI, SDM hingga IT. Intinya blueprint manajer investasi ini seperti arsitektur perbankan.