Polemik Sampah Terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Membangun Kota Hijau Jadi Solusi

Sabtu, 22/09/2012

Masalah sampah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta tidak ada habisnya. Begitu banyak permasalahan yang disebabkan oleh sampah, mulai dari kesehatan dan kondisi lingkungan yang tidak nyaman. Dengan konsep membangun kota hijau, diharapkan masalah itu bisa teratasi.

NERACA

Dari tahun ke tahun, sampah tetap menjadi salah satu masalah lingkungan di Jakarta yang belum sepenuhnya teratasi. Hal ini terbukti dari penambahan jumlah sampah yang terus meningkat, namun minim penanganan, ini yang menyebabkan bibit penyakit cepat berkembang.

Sampah sudah menjadi permasalahan yang harus di atasi, begitu banyak dampak yang di sebabkan oleh sampah, mulai dari merusak kondisi lingkungan maupun kesehatan. Jumlah sampah di Jakarta memang fantastis. Besarannya mencapai angka 6500 ton per hari.

Kepala Dinas Kebersihan Prov. DKI Jakarta Eko Bharuna, di Jakarta mengatakan, angka ini terus meningkat ketika ada event besar seperti Tahun Baru dan Ramadhan. Terjadi peningkatan sekitar 11% dari volume sampah per hari pada peringatan tahun baru 2012. Jumlahnya mencapai 6.745 ton.

Kondisi yang sama juga terjadi pada saat romadhon. Pada Ramadhan 2012, volume sampah diperkirakan mengalami peningkatan sebesar 5-10% sebesar 650 ton per hari. Angka ini dietimasikan dari jumlah sampah sebesar 6.500 ton per hari.

Melihat jumlah sampah yang sedemikian besar, tidak mengherankan jika banyak problematika turunan yang muncul. Pertama, banjir. Tingginya jumlah sampah menyebabkan sungai dan parit menjadi sasaran utama sebagai tempat sampah dadakan. Akibatnya, muncul bencana banjir karena air tidak bisa melaju bebas di parit dan sungai yang tertutup sampah.

Yang menyebabkan timbul berbagai macam penyakit. Sampah cenderung mengeluarkan bau tak sedap sehingga mengganggu sistem pernafasan. Selain itu, sampah juga mengundang berbagai hewan seperti lalat, kecoak, dan nyamuk. Akibatnya, masyarakat yang hidup di tengah sampah sangat berisiko terkena penyakit yang dibawa oleh hewan-hewan tersebut. Misalnya, demam berdarah, diare, dan penyakit-penyakit lainnya.

Bukan hanya itu sampah bisah menyebabkan kesulitan air bersih. Sampah mengandung berbagai macam zat kimia. Apalagi jika sampah itu berasal dari limbah industry. Zat-zat tersebut larut dalam tanah dan air sehingga menyebabkan pencemaran. Air yang tercemar itu tentu tidak dapat dikonsumsi. Jika dikonsumsi, akan muncul berbagai macam penyakit karena masukknya zat-zat kimia dalam tubuh kita.

Sampah juga merusakan pemandangan dan keindahan tata kota. Keberadaan sampah yang tersebar di berbagai sudut kota benar-benar merusak pemandangan dan keindahan kota Jakarta. Bagaimana tidak? Ketika sedang asyik berjalan di taman, ada sampah berserakan.

Ketika sedang asyik melewati sungai, ada sampah mengapung-apung. Padahal, keindahan sebuah kota bukan hanya dilihat dari kemegahan gedungnya, melainkan juga pada kebersihan lingkungannya. Jakarta sudah unggul di gedung, namun tidak pada kebersihannya.

Problematika sampah memang sangat pelik. Sayang, penanganan sampah oleh pemerintah Jakarta belum maksimal. Hal tersebut ditunjukkan dengan masih banyaknya gunungan sampah yang belum mendapatkan penanganan optimal, pemandangan sampah yang masih terlihat di sudut-sudut kota, dan sungai yang masih penuh dengan sampah. Sungguh, Jakarta perlu dibebaskan dari problematika sampah yang membelenggunya.

Cara Mengatasi Sampah

Mengatasi sampah memang gampang-gampang susah. Penyelesaiannya tidak cukup dengan melakukan perbaikan, namun ada pula tindak preventif. Tugas perbaikan dan pencegahan tidak cukup hanya dilimpahkan kepada gubernur namun perlu adanya kerja sama dengan masyarakat.

Komposisasi sampah berarti upaya pengubahan sampah organik menjadi kompos yang nantinya bermanfaat untuk pupuk dan kesuburan tanah. Adapun pengelolaan sampah terpadu ini berarti memberdayakan kembali sampah-sampah, khususnya samah anorganik, untuk diolah kembali menjadi barang atau fungsi lain yang lebih bermanfaat.

Tindakan selanjutnya adalah upaya pencegahan. Perlu dibangun komitmen masyarakat untuk tertip membuang sampah pada tempatnya demi menjaga kebersihan lingkungan. Mereka harus tahu bahwa membuang sampah di sungai atau sembarang tempat hanya akan menambah masalah lingkungan.

Membangun Kota Hijau

Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, di Jakarta mengatakan, Kementerian Pekerjaan Umum mendorong pembentukan “kota hijau”. Apalagi kota ini ramah lingkungan dan memanfaatkan secara efektif sumber daya air dan energi serta menjamin kesehatan lingkungan serta menyinergikan lingkungan alami dan buatan.

”Artinya kota hijau menerapkan dalam praktik nyata prinsip pembangunan berkelanjutan, baik secara ekonomi, sosial budaya dan lingkungan secara terintegrasi,” tuturnya.

Menurut Joko, inisiatif mewujudkan kota hijau mempunyai makna strategis karena dilatarbelakangi oleh beberapa faktor tingginya urbanisasi dan menurunnya ruang perkotaan. ”Saat ini sekitar 52,03% penduduk Indonesia tinggal di perkotaan dan diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 68% pada 2025,” tambahnya.

Djoko menambahkan pertumbuhan kota secara cepat tersebut secara langsung berimplikasi terhadap timbulnya berbagai permasalahan perkotaan seperti kemacetan, banjir, permukiman kumuh, kesenjangan sosial dan berkurangnya luasan ruang terbuka hijau.

Lebih jauh Djoko mengaui sejak beberapa tahun terakhir permasalahan perkotaan semakin berat dengan hadirnya fenomena perubahan iklim. Karena itu menuntut semua pihak untuk memikirkan secara lebih seksama dan mengembangkan gagasan cerdas yang dituangkan ke dalam kebijakan dan program yang lebih komprehensif sekaligus realistis sebagai solusi perubahan iklim.

”Oleh karenanya Kementerian PU mendorong terwujudnya kota hijau yang berlandaskan penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, sekaligus mampu mengakomodasi upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di perkotaan,” tandasnya.