Sampai Kapan Defisit Kembar?

Jumat, 14/09/2012

Melihat situasi ekonomi global saat ini sangat bergantung pada kebijakan domestik Amerika Serikat dan negara-negara yang menginvestasikan cadangan devisanya di AS. Kita perlu mewaspadai model penyelamatan ekonomi global tentu terfokus pada kebijakan domestik AS dalam mengurangi defisit yang terjadi. Pasalnya, Indonesia dan AS sekarang sama-sama mengalami twin deficit (defisit kembar).

Dalam perspektif makro, keadaan defisit AS dapat dijelaskan dari rendahnya tingkat tabungan dan tingginya pengeluaran pemerintah AS dibandingkan pajak yang diterima. Keadaan defisit tentu menimbulkan perdebatan diantara banyak pihak. Pertama, pihak yang menganggap defisit AS bukanlah permasalahan yang perlu ditakutkan, karena yang dilakukan Amerika sekarang adalah sustained the unsustainable. Ini karena posisi kekuatan US$ dalam perekonomian global digunakan sebagai mata uang yang luas diterima dalam perdagangan internasional.

Kedua, ada pihak yang menganggap defisit AS dapat mengancam resesi AS, dan resesi dunia. Hal ini didasari pada alasan jika terjadi “sudden stop” atau investor dunia menarik modalnya di pasar keuangan AS secara tiba-tiba untuk membiayai defisit AS, maka yang akan terjadi adalah resesi ekonomi.

Sementara terjadinya defisit transaksi perdagangan Indonesia, disebabkan oleh rentannya kinerja ekspor terhadap dampak krisis global juga tidak terlepas dari karakteristik ekspor Indonesia selama ini. Kurang terdiversifikasinya negara tujuan ekspor, menyebabkan kinerja ekspor Indonesia langsung mendapat pukulan berat. Selain itu, komoditas ekspor Indonesia juga cenderung kurang terdiversifikasi di mana komoditas utama ekspor sebagian besar masih berbasis sumber daya alam, yang ternyata justeru sangat rentan terhadap gejolak harga.

Melemahnya kinerja ekspor ini selanjutnya memberikan tekanan pada sektor lainnya yang memasok bahan baku pada sektor industri ekspor. Sejalan dengan semakin dalamnya krisis global, kegiatan investasi juga sudah mulai menurun. Hal ini mengindikasikan investasi akan dilakukan jika dipandang terdapat potensi kenaikan permintaan domestik yang cukup permanen. Namun demikian, dengan kecenderungan pangsa upah yang semakin menurun, maka konsumsi rumah tangga akan menurun, sehingga dampak lanjutannya akan memberikan tekanan pada investasi ke depan.

Di sisi lain, berbagai upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia belum menunjukkan hasil yang signifikan. Rendahnya daya saing (competitiveness) terlihat dari semua aspek utama yang meliputi basic requirement, efisiensi dan inovasi. Hal itu terlihat dari posisi Indonesia dalam Global Competitiveness Report 2011-2012 yang menurun pada peringkat 50, ketimbang periode sebelumnya peringkat ke-46.

Melemahnya daya saing tersebut diperburuk lagi dengan masih banyaknya hambatan dalam melakukan bisnis di negeri ini seperti tercermin dari hasil survei Doing Business, terutama pada aspek birokrasi pemerintah yang dinilai tidak efisien dan infrastruktur yang kurang memadai.

Karena itu, banyak pihak mengingatkan bahwa besarnya porsi portofolio asing masuk bisa membahayakan neraca perdagangan Indonesia (NPI) suatu saat, tidak hanya ketika terjadi pembalikan arus modal tetapi juga akan membuat mata uang rupiah terapresiasi yang berdampak negatif pada ekspor. Dan kekhawatiran tersebut mulai terlihat pada NPI triwulan IV/ 2011 lalu, dan nilai neraca transaksi berjalan (NTB) sudah mulai defisit walau sumber defisitnya bukan karena pelemahan ekspor.

Namun saat itu ekspor tertolong karena harga komoditas di dunia masih tinggi. Dengan mempertimbangkan NTB yang sudah defisit dan APBN yang juga defisit, dikhawatirkan Indonesia memasuki era twin deficit yang bisa berdampak serius terhadap kekuatan fundamental ekonomi Indonesia pada jangka menengah dan panjang. Ingat, Indonesia pernah mengalami twin deficit pada beberapa tahun sebelum krisis Asia tahun 1997-1998. Lantas seberapa serius defisit kembar ini ke depannya?